Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Kedatangan Tamu


__ADS_3

Beberapa kegiatan membuat Reina enggan berlama lama. Tak pernah ia sungkan ketika di ibu kota, biasanya ia akan membuat roti, tapi disini makanan serba pesan antar, bahkan memasak pun Reina membutuhkan apapun tinggal memencet nomor seseorang pelayan di villa tersebut.


Reina sendiri menatap kedua anak anaknya sedang bermain time zone di sebelah kamarnya, Azam benar benar menyiapkan semuanya, hingga tak Mempersilahkan dirinya keluar sekedar menghirup udara tanpanya.


Reina menatap jendela, dimana sungai Are tersebut, membuat Reina ingin sekali hampiri, sekedar duduk atau bahkan bermain dengan kedua anak anaknya, sekedar sarapan memandang keindahan disana.


Tapi benar saja, Reina enggan jika dirinya harus melewati batas, dimana dirinya tidak bisa berenang, apalagi kedua anak anak terbilang aktif.


"Anak anak, ayo sayang. Segera tidur, besok pagi sekali kita bangun, kita akan buat surprise ayah datang!"


"Iya siap Bunda, kami pasti akan bantu Bunda." teriaknya dengan riang kegirangan.


Hari semakin larut, kegiatan Reina benar benar sepi tanpa aktifitas, bagai di ratukan, tapi rasanya sakit dan pegal pegal, apalagi menunggu esok malam, Azam akan tiba di dekatnya paling telat.


***


Memimpikan Ibu bertemu putranya yang hilang, membuat Reina membuka mata seolah sedang mimpi dan terbangun.


Cup.


Cup.


Rasanya baru Reina memejamkan mata, tapi tubuhnya benar benar sakit dan berat, Reina mecoba membuka mata dengan perlahan, dimana kali ini bagai mimpi, ketika wajah suaminya sudah ada diatasnya dengan tersenyum, ia duduk dan memeluk Reina yang tidur miring.


"Azam, kamu benar sudah pulang?"


Cup.


"Apakah kecupan ini terlihat mimpi?"


Reina bergeser, ia menyalakan lampu dan menatap jam, pukul tiga dini pagi, membuat dirinya nampak gagal membuat surprise.


"Kamu bohong, katanya malam nanti?"

__ADS_1


"Rupanya istriku lupa, jika kendalanya adalah delay di istanbul hanya beberapa jam saja."


"Ah, kalau gitu aku buatkan teh hangat ya. Kamu sudah mandi?"


"Sudah, tapi sepertinya aku ingin mandi lagi, karena istriku sangat cantik ketika bangun tidur."


"Ah, gombal. Kalau begitu, kalau bukan bangun tidur tidak cantik?"


"Eum, tambah cantik sih. Melihat kamu lelap, dan anak anak juga di sebelah pulas, membuat aku tidak tega membangunkan sayang. Eh iya, di depan teras banyak pernik itu apa, ad balon balon nama Dady lagi?"


"Ah, anak anak membuat surprise pagi ini, tapi kamu sudah datang lebih awal jadi gagal deh pasti. Hahaha," tawa Reina.


"Sure, oh so sweet sekali. Baiklah, aku akan ngumpet gimana, anggap aku belum pulang, aku ingin lihat ekspresi mereka. Gimana sayang?"


"Kamu jahil sekali, Suamiku." memencet hidung Azam, karena gemasnya.


Azam sendiri telah memakai piyama tidur berkancing terbuka, ia sudah sampai pukul dua pagi, hingga beres lah ia menatap Reina hingga membuatnya terbangun.


"Aku sudah bangun, sepertinya aku ambilkan air untukmu ya."


Menarik tangan Reina, hingga kini Reina terjatuh pada bantal empuk, dan Azam tampak dengan hati hati, memegang erat berada dalam kungkungan nya, Reina nampak gugup kala Azam memiringkan wajahnya.


'Apa kamu ingin meminta jatah, suamiku?'


"Eum, menurutmu. Aku yakin setelah terbangun, kamu akan sulit tidur. Bagaimana kita tidurkan bersama, agar pagi kita membuat kejutan balik pada kedua anak anak?"


"Sure."


Azam memulai nakal, kala piyama Reina telah dibuka lebih dulu, dimana tangannya berhasil berada dibalik bawah milik istrinya, dimana Azam semakin tajam menelusuri setiap inci, membuat Reina nampak gila dibuat lemas. Tak ingin berada dalam posisi mematung, Reina nampak kasar kali ini, ia tahu hasrat suaminya karena banyak godaan di luar sana, sudah pasti godaan di luar membuat Azam menahannya.


Reina mendorong Azam yang kala itu terjatuh di kasur, membuat Azam berbisik dengan lembut.


'Hey, kamu mulai liar ya?'

__ADS_1


'Liar karena tidak ingin kamu berpaling.' balas Reina, membuat Azam menohok, ketik Reina sudah menggerayangi dibalik selimut, dimana Azam tidak tahan sikap baru Reina yang nampak ia lihat.


Mereka pun berhasil memadu kerinduan, dalam waktu yang tidak cukup sebentar. Dan kini, Reina sendiri sudah lemas memiringkan tubuhnya, dimana pergulatan mereka telah selesai.


"Kamu pikirin apa sayang?" membelai rambut Reina.


"Ibu, aku sedang menunggu pesannya. Aku gugup, apakah ibu maafin aku, sehingga dia datang ke sini?" menoleh Reina menatap wajah Azam.


"Aku yakin, akan ada kabar baik untukmu. Meski aku tidak yakin, aku juga baru dapat kabar dari Heru, tentang ayahmu. Apakah kamu tahu makam ayahmu sayang dimana?"


"Ibu bilang ayah sudah meninggal, dan aku ga berhak tahu dimana. Apa cukup aneh, aku sendiri merasa ingin sekali disayangi ibu, ibu berubah semenjak punya keluarga baru, bahkan karena sikap yang aku alami, aku tidak ingin kedua anak anak tidak memiliki orangtua utuh. Sama seperti nasib ibunya."


Deg.


Bagai teriris hati Azam, membuatnya memeluk erat Reina kala itu.


"Maaf, ini semua salahku. Andai party itu kita tidak kesana, aku juga minta maaf, sejak dulu aku selalu membuatmu kesepian, adanya kekasih sepertiku tapi aku selalu membuat mu sedih, fatal ku adalah aku membuatmu hamil di luar nikah."


"Itu suratan, lagi pula ibu berubah sejak sehari menikah dengan ayah Alva Muda yang berganti jadi Yus Muda. Aku tidak tahu, apa kah ayah tiriku hanya sayang sama ibuku saja, jika benar syukurlah ibu dapat bahagia." senyum Reina, membuat Azam merasakan perih batin istrinya.


"Aku janji akan terus membuatmu bahagia Reina."


"Jangan berjanji padaku Azam, berjanjilah pada Tuhan, jika kamu mampu menjaga keluarga yang telah dianugerahkan padamu, sebaik baiknya aku memintamu tinggal, semuanya ada pada mata dan syahwat lelaki dan hatimu yang tidak goyah, karena godaan di luar sana sangat dahsyat." jelas Reina, membuat Azam semakin kagum saja.


Menjelang pagi sekali pukul enam pagi, Reina sudah mandi dan ingin membuatkan sarapan, dimana suara bel, membuat Reina nampak menoleh ingin membuka pintunya.


"Anak anak mandi dulu ya! bunda akan lihat tamu yang datang."


"Siap bunda."


Reina terperangah, kala pria paruh baya datang membuat Reina terdiam.


'Anda datang kemari, cari siapa ya Tuan?' tanya Reina, yang kala itu melihat pria itu sekali di rumah sakit.

__ADS_1


"Azam pasti sudah pulang kan?" ujarnya, membuat Reina bingung, membukakan pintu atau menyuruhnya di depan teras saja.


TBC.


__ADS_2