
Pagi ini, Melin telah bersiap siap. Setelah membuat sarapan tapi gosong, sudah berapa kali ia memasak telur, jika tidak busuk, pasti telurnya gosong. Sehingga Melin memutuskan akan sarapan di luar bersama Brian.
Melin mengambil tas segera bergegas dan menuruni anak tangga, mulutku tidak hentinya mengucap doa, hingga pandanganku kembali melihat ketiga anak laki laki kembar yang menabrakku pertama kali aku bisa melihat mereka.
Entahlah siapa mereka yang ingin aku tuliskan kisahnya. Yang aku tahu mereka sangat berbeda dengan para arwah yang selalu tenang, diam, dengan wajah pucatnya.
Sedangkan mereka yang setiap hari mewujudkan dirinya, selalu menggoda, mempermainkan, dan berwujud seram jauh dari wujud manusia, membuat Melin tak henti mengucap asma Tuhan.
Tujuh April 1987 selasa pahing pukul tujuh pagi setelah sholat sunah aku mengambil sebuah dairy kecil. Aku mulai mencatat dengan urut setiap tanggalnya, setiap detiknya, apa yang sudah ku alami sejak aku sembuh dari sakit, mata batinku menolong mereka aku catat, setiap kasus kematian akhir mereka dan tanggalnya.
Yah, awalnya wanita paruh baya kembar itu dengan kisahnya, polisi berseragam, anak kecil, hingga suara pemakaman pertama kali yang kudengar. Suara penghakiman yang sangat mengerikan. Terlebih salah satu dari mereka, ada tempat kejadian kak Ima meninggal mengenaskan, dan anehnya jin menyerupai keinginan terakhir ka Ima adalah memberikan kue ulang tahun untuk Brian. Tidak satu pun Melin lewatkan setiap ia menolong akan ia jadikan cerita dibukunya.
"Lama ya nunggu gue, sory! motor habis di service ni Melin. Sekarang kita otw lokasi tim SAR, atau mampir kemana dulu?" tanya Brian, kala membuka kaca helm.
"Sarapan dulu, gue laper. Aneh banget, ga biasanya gue masak nasi basi, terus ceplok telur gosong dan busuk."
"Isssh, perempuan kok ga bisa ceplok telur. Dah, cabut tar gue kasih tahu tempat sarapan terenak. Soto mang eeng! gue tadi lihat rame banget tuh dijalan, mobil mewah aja berjejer."
"Ok, kemana aja deh. Gue laper berat soalnya."
Benar saja, dalam puluhan menit Melin menepi, membuka helm yang Brian berikan, lalu mencari tempat duduk.
Duduk neng! ujar tukang soto itu.
Lalu dengan senyum ramah, Melin duduk sambil menunggu Brian ikut. Tak memakan waktu lama, Brian kode bilang," Pak, dua mangkuk dan dua nasi porsi setengah aja ya! es teh manisnya juga dua."
__ADS_1
"Siaap." ujar pemilik soto, tersenyum miring.
Melin tersadar karena terlihat aneh, tidak biasanya sepagi ini tukang soto mengantri, terlebih melihat pelayan yang datar membuat Melin kebingungan dan sedikit merinding.
"Gue bilang apa, aman kan. Biasa kalau ada aneh aneh ama tempat makanan rame, pasti keliatan kaya mbak kun dan pak poci waktu itu kan?" bisik Brian.
"Entahlah, semoga aja. Yang jelas gue laper berat!" balas Melin.
Dua mangkok soto ayam! dua es teh manis, dan dua nasi porsi setengah! pesanan anda, benar kan?! ujar pelayan datar.
"Iy kang, Haturnuhun kalau gitu."
Brian segera mengambil sendok dan menyuap, tapi Melin tolak dan pegangi tangan Brian saat itu. Mata tiga pelayan berdelik menatap Melin, dan ia senyum agar tidak terlihat curiga.
"Kenapa Melin?"
"Brian! bisa ikutin gue, setelah baca doa makan?"
"Ok, baiklah. Gue ikutin, karena indra keenam lo gue aman. Beneran hidup gue tertata dari yang ga banyak orang lihat."
Melin membaca doa makan, lalu setelah itu ia membaca doa sihir, konon nenek selalu berpesan, ketika pedagang yang laris dengan tidak wajar ia akan memakai jin untuk melariskan, dan ada juga yang tidak terlihat hanya dengan doa seperti yang ingin ucapkan saat ini.
Bismillah! Walyalatof Walayusim Nabikum Ahadha. Yang artinya, berlaku lemah lembutlah kalian kepada siapa saja! sesungguhnya aku ingin makan dengan sehat dan atas izinnya aku berserah diri memohon petunjuk. Doa Melin setelah membaca doa makan.
Brian ikut mengikuti, setelah itu ia mengambil sendok garpu, tapi sesaat ia terkejut ketika nasi itu berubah menjadi belatung, soto itu berubah menjadi cacing hitam dan kalajengking. Minuman teh itu berubah menjadi darah hitam.
__ADS_1
Arrrgh!!
Brian tergugup menatap Melin, Melin meminta Brian bersikap sewajarnya saja. Ketika ia menoleh pada pedagang yang sedang melayani, dan benar saja itu adalah wujud segerombol genderuwo seukuran manusia, dan seekor poci tergelantung di atap gerobak pemilik kedai pak Eeng.
"Kita balik sekarang!" lirih Melin.
"Pak, ma-maaf saya telat, ini uangnya. Saya nanti balik lagi lain waktu." senyum ramah tertahan, Brian langsung meraih kunci motor dan pergi dengan cepat.
Tak sedikit dari mereka penjual soto, menatap kesal pada aksi Melin, terlebih pengunjung menggeleng melihat dua remaja aneh.
Gajelas, makan kok berisik lagi!! ujar dari pengunjung dan pelayan kesal.
Melin dan Brian dalam perjalanan, tak bisa ia bayangkan. Ia berhenti ke supermarket seven toko, mengambil sebotol air putih, roti sobek dan beberapa donat untuk pengganjal perut. Di bangku Melin masih pucat kala ingatan pesan nenek Kari terjadi.
"Wuah, gila. Untung belum masuk mulut tadi. Min, kok lo bisa tahu tadi. Padahal tadi jelas ga keliatan ada jin loh?"
"Pesan nenek, di saat gue mau makan entah kenapa serasa ada yang nahan gue ga jadi laper, dan ragu. Apalagi pelayan nyiapin ngasih mangkuk soto ke meja lain, jempolnya kecelup dan pengunjung yang makan seolah biasa aja. Aneh kan?" menoleh Melin menjelaskan.
"Gila .. gue salut sama kelebihan lo ini."
"Dah cepet sarapan! kita harus ke lokasi kan, siang nanti gue harus kerja sampingan. Apa yang lo ucap kelebihan, sejujurnya gue capek. Tiada hari selalu mereka datang, energi terlalu berat buat orang peka! hanya pilihan, yang konon kata orang harus di ruqyah." jelas Melin, membuat Brian bungkam kembali melahap donat.
Tak lama, Brian tertegun, kala sebuah pesan dari polisi.
Ya, itu adalah berita tewasnya bapak tua yang pernah ia lihat dengan perut berantakan, sedihnya Brian lokasinya sama tepat, dimana ka Ima kecelakaan, sehingga Melin menoleh jelas melihat raut wajah Brian sedih
__ADS_1
"Kenapa ..?" tanya Melin.
TBC.