
Lalu entah kenapa pria itu akhirnya menatapku dengan tatapan yang sangat tajam, dan terkesan dingin. Bahkan ia sedikit terlihat seram jika sedang menatap seperti itu. Hingga akhirnya ia berkata, “Kau yakin bisa memberikan apa yang ku minta?”
Aku pun mengernyitkan dahiku dan aku merasa sedikit aneh pada pria ini. “Kenapa? Memangnya permintaan apa yang tidak bisa ku kabulkan?” sambar Brian.
Masih dengan ekspresi yang datar namun tersirat kesedihan pria itu kembali berkata,
“Aku ingin pergi dalam cahaya kematian kutukan hotel ini. Kami semua tidak bisa pergi dari sini tanpa menumbalkan lima orang...”
Untuk sejenak Melin dan Brian pun tertegun karena selain permintaan yang aneh, Melin, Brian juga tidak mengerti apa maksud dari pria itu. Hingga akhirnya kukatakan, “Apa? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”
“Kupikir kau pintar ternyata otakmu kosong!” kata pria itu, dengan wajah yang kembali berubah seperti sebelumnya.
“Maksudku, bukankah kau telah membuat banyak sekali kebisingan di sini! Kau bahkan tidak memberi kompensasi apapun untuk warga di sekitar tempat ini. Jadi atas nama warga Desa aku minta akses listrik agar Desa kami menjadi terang!” pinta pria itu menunjuk Brian.
“Astaga! Hanya itu? Jadi...selama ini kalian sama sekali tidak punya akses listrik? Lalu bagaimana cara kalian hidup?”
__ADS_1
“Kata mendiang kakek bapak, dulu pernah ada listrik ketika Hotel itu masih beroperasi. Tapi setelah Hotel ditutup maka akses listrik pun mati, hotel ini penuh mistery terlihat indah aslinya adalah kotor dan gelap."
Aku pun menghela nafas karena ternyata paviliun itu dulunya juga menanggung hidup banyak orang. Dan ya, kurasa pria itu layak meminta listrik. Bagaimanapun juga sebagai pemilik pewaris keluarga, Brian tidak boleh menutup mata pada warga di sekitarku. Batin Brian saat ini banyak memikirkan hal aneh.
“Baiklah aku setuju pak. Tapi kurasa aku belum bisa memberikan akses listrik dalam waktu dekat. Bapak tau kan kami saja masih mengandalkan genset untuk listrik. Tapi aku janji aku pasti akan mengabari bapak jika semua sudah siap, maka lepaskan kami untuk kembali pulang."
Mendengar ucapan Brian, Melin pun akhirnya tersenyum seraya mengulurkan tangannya. Dan entah kenapa aku merasa bahwa senyumnya cukup manis. Kurasa pria ini sangat polos dan begitu alami. Dan ya, aku belum pernah melihat pria seperti ini.
“Cleo! Katakan siapa namamu!”
Brian mengambil kotak blody marry. Pria itu duduk melingkar, bagai menjaga beberapa tangan tidak terputus. Angin kencang, seraya membuat Melin memejamkan mata dan menengkuk lehernya.
"Apa temanmu ini bisa dipercaya?" tanya pak Cleo pada Brian.
"Fokuslah pak! kami benar benar tidak berbohong, mohon jangan lepaskan sebelum temanku Melin sadar!" lirih Brian, membuat empat pria itu saling pandang disamping pak Cleo.
__ADS_1
Tapi saat Melin berada dalam dunia lain, ruangan gelap. Ia melihat wanita yang menari jaipong, dengan tarian topeng menyeramkan. Terlihat genderuwo raksasa menjulurkan lidahnya pada Melin, seolah ia berbisik meminta sesuatu.
"Aargh! apa yang kalian inginkan?"
Melin mendekat, namun sosok seram itu seperti marah pada Melin, sebab karena janji mereka pada anak buah manusia bukan lagi darah manusia, bukan lagi tumbal namun kehidupan lain.
"Jangan usik janji ku pada manusia ingkar, ingat kalian pergi dan lupakan janji itu. Atau nyawa kalian tidak bisa kembali dari sini." ujar sosok seram itu meminta Melin melakukan kemauannya.
"Aku tidak yakin, sebab kamulah yang harus dimusnahkan dari paviliun ini." ujar Melin, yang fokus dan menyalakan lilin merah, seketika membaca ayat suci dan membuat sosok seram itu marah kepanasan.
Arrrrghhh.
Teriak Melin saat sosok itu masuk kedalam tubuhnya, ia berlari cepat ke tubuh Melin dan menguasai pikiran dan jiwanya. Membuat mata Melin membuka dan melotot berwarna hitam.
Tbc.
__ADS_1