Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Menerima Takdir


__ADS_3

Bonus Chapter :


Sejenak beberapa saat semua diam, sehingga Azam dan Milen seolah merasakan takdirnya terpukul karena tidak bisa melihat pertumbuhan Azam.


"Maafkan ibu nak!"


"Hah, apa ini. Kenapa .. Pantas ibu Jing selalu anggap Azam mesin Atm. Jadi seperti ini kenyataannya. Ibu .. Maafkan Azam."


Reina pun kali ini terlihat benar benar tak percaya, sehingga perlu beberapa saat mereka menerima semuanya. Beruntungnya Alva pun meminta semua legowo dan permintaan maaf beribu ribu maaf.


"Apa ada alamat yang bisa saya bantu Milen, kali ini soal Shi?" ujar Alva, dimana keadaan telah tenang dan seolah menerima semuanya.


"Jl dupa, apa gitu. Saya hampir lupa pokoknya, coba setelah kamu kembali pulang Reina. Kamu bicara empat mata sama bibi Ros, mereka itu bukan hanya di suport materi. Apalagi kini mengembangi bisnis kue rumahan lancar kan?" tanya Ibu.


"Iya bu."


Sehingga saat ini Reina sedikit bingung, mencoba berfikir apakah Jl dupa yang pernah Shi ucapkan padanya, dimana saat itu Reina di ancam olehnya saat mengantar pesanan kue pertama kalinya.


Eum, apakah jalan dupa melati nomor 13 blok D. Kata kata Shi saat itu dengan senyum, mengingatkan Reina saat ini saat ibu bilang jalan dupa yang ibunya maksud. Dan pada saat itu, rumah tersebut adalah kediaman Azam dari mansion pak Alva, lalu bagaimana bisa jika anak satu satunya disana, hanya ada Shi. Apakah Alva benar berselingkuh dengan bibi ..?! terdiam Reina seolah kesal sakit hati kala itu sempat berfikir begitu, yang nyatanya salah besar.


Reina terhenti, masih ingat ketika rumah itu ia hafal, dimana rumah Azam yang saat itu ia meminta pertanggung jawaban. Dimana disana sudah ada acara pernikahan Azam, dengan seorang wanita yang Reina tidak lihat wajah mempelai wanita.


Reina menggeleng, ia menengkuk lehernya yang tidak pegal. Benar benar kehidupannya setelah bertemu Azam, hidupnya hancur dan tak aman. Padahal Reina tak berharap Azam mengakui kedua anak anaknya dan bertemu lagi, tapi kisah itu kini kembali, bahkan Reina enggan untuk berurusan dengan Azam lagi, baik itu Azam masa dulu, atau sekarang ini dan kedepannya.


Hingga saat itu juga di rumah Dupa itu, Shi mendorongnya di alamat kompleks Dupa melati.

__ADS_1


Reina, aku datang sekaligus memesan orderan pertamamu! aku peringatkan jika kau tidak jauhi Azam, live mu dan karirmu di dunia maya akan di blog! ingat kekuatan neti, jika penggemar blog cake, dicap pemiliknya seorang pela--kor! apa kau senang usaha yang baru merintis sudah gulung tikar mendapat kerugian?


Deg, itu adalah ingatan Reina saat ini mengingat hal yang benar benar membuatnya kebingungan. Dua hal yang membuat Reina sakit memikirkannya.


"Kamu kenapa Reina, kok diam dari tadi ibu bicara kamu dengar ga sih?" tanya Milen.


"Reina hanya ingat sesuatu saja bu."


Dan saat itu Azam terlihat mengajak kedua anak anaknya ke loket es cream, dan puding. Dimana saat ini hanya mereka bertiga saja.


"Pak Alva.. maaf jika Reina masih canggung memanggil sebutan itu, yang pasti akan sulit ketika seumur Reina bertemu sosok Ayah, meski Reina merindukan sejak lama. Tapi Reina setidaknya bahagia bisa melihat ayah Reina siapa."


"Reina, semua ini salah ibu. Seburuk buruknya masalah kami, harusnya ibu tidak menjauh kamu dahulu dengan Ayahmu, ibu yang bersalah nak karena ayahmu pernah menikah siri di saat ibu kehilangan Azam."


"Kedepannya Reina bingung bu, jika boleh meminta. Reina tidak ingin dilahirkan, apakah Ayah dahulu punya skandal sehingga ibu menggugat Ayah. Maaf Reina bicara seperti ini. Sehingga Reina tidak merasakan bagaimana kasih sayang yang utuh itu seperti apa."


"Ada apa sayang? Bu, ada apa ini?" tanya Azam melirik ibu Milen.


"Azam tolong jaga anak anak. A-aku hanya ingin ke toilet." pergi Reina saat ini, sehingga tatapan Azam duduk dan bertanya ada apa yang terjadi.


Alva menceritakan semua hal, hingga dimana Azam menanyakan soal bibi Ros dan pak Sup di ibu kota.


"Azam akan bicara sama Reina pak, bu. Boleh nitip Kanya dan Bima saat ini."


"Iya Azam, tolong bicarakan pada Reina, saya tidak pernah punya skandal apapun. Saya tidak mengerti kenapa tatapan Reina begitu tadi ke arah saya." cercah Alva, lalu kembali menoleh ke Milen yang menunduk saat itu, sangat di sayangkan melihat putri yang ia rindukan, seolah membencinya.

__ADS_1


Azam menunggu di depan toilet saat ini, dalam beberapa puluh menit. Reina pun keluar dengan wajah sembabnya.


"Sayang, apa yang kamu lakukan. Hey, kenapa kamu menangis?"


"Aku jadi tahu, kenapa ibu menggugat ayahku Azam. Dia benar punya skandal, karena dia punya anak dari wanita lain. Sehingga ibu menelantarkan aku, harusnya aku tidak pernah dilahirkan."


"Skandal, kamu tahu dari mana."


"Tadi saat mereka menjelaskan, dan ibu cerita soal anak bibi Ros, yang kemungkinan itu adalah alamat tuan Alva, ayahku. Menurutmu, apa kamu bisa jelaskan saat ini di dalam pikiranku?"


Hah!


Terdiam Azam, menyimpulkan saat ini pada wajah Reina, dengan mengelus pundaknya.


"Jadi kamu berfikir Shi itu anak selingkuhan ayahmu dari ..?"


"Aku hanya berprasangka saja."


"Sayang, aku tegaskan. Shi hanya anak angkat Tuan Alva, karena ia kehilangan putri kandungnya, yang tak diberi tahu oleh ibumu, dan ibu kandung aku juga. Tadi bu Milen bicara ibu mu yang asli maaf sudah tidak ada .. Dan skandal itu yang membuat kita bertukar beruntung kita tidak sedarah."


Deg.


Reina pun terdiam, saat itu juga dan menghapus air matanya saat ini.


"Anak angkat, Shi .. anak angkat?"

__ADS_1


"Heumph, aku kira kamu akan tahu kelak dari tuan Alva sayang. Apa saat bu Milen bercerita kamu melantur?" tanya Azam membuat Reina terdiam.


TBC.


__ADS_2