
Milen menetes air mata, kakinya seolah kaku dan merasakan perih dibagian inti. Ia menarik selimut, tidak seharusnya ini terjadi. Milen mencoba bangun, derain hujan deras, petir dan kilat hingga pagi menunjukan pukul delapan. Seolah alam seperti menunjukan pukul lima subuh. Cuaca ekstrem dan aneh, membuat mereka melakukan satu kesalahan.
Brian yang terbangun, ia melihat Milen duduk menangis. Brian membenarkan posisinya dan mengingat semalam, tanpa sesal apa yang ia lakukan, ia mencoba menenangkan Milen.
"Mil.." lirih Brian lembut.
"Jangan sentuh gue!" seseguk menangis Milen.
"Gue minta maaf! tapi ini juga pertamakalinya gue lakuin ini, dan gue beneran cinta sama lo. Gue ga bermaksud mau rusak lo Mil."
__ADS_1
"Terus dengan maaf aja, apa bisa kembaliin gue kaya semula?"
Perkataan itu membuat Brian terdiam, semalam entah kenapa ia begitu terpancing dan sangat menginginkan merasakan hidupnya bersama dengan Milen. Tidak ada ikatan kekasih, tapi Brian nyaman dan tak ingin Milen terpikat jatuh hati pada pria lain, bahkan dinikahi pria lain suatu saat nanti.
"Maafin gue! keadaan membaik, kita ke kota S. Gue bakal minta restu sama nenek Kari! gue bakal sembah sujud apa yang mau dilakuin nenek, asalkan gue nikah sama lo."
"Haah, gila. Kita mau makan apa? kerjaan ga punya, kita itu masih kuliah menunggu sidang skripsi lulus."
Mereka menyesali apa yang mereka perbuat, namun Milen hanya tidak siap mental kala ia harus menikah lebih awal. Belum lagi gangguan arwah yang kerap menghantui dan berdatangan, itu adalah hal yang tidak bisa Milen kontrol kala masuk ke dalam dunia arwah.
__ADS_1
"Brian! berkomitmen itu ga mudah, konon nenek gue bilang. Jika gue udah berniat membantu arwah, gue akan sulit dapat jodoh, atau dapat keturunan. Karena saat gue berkomunikasi, energi gue berbenturan dan itu akan menyerap energi positif gue, gue takut lo ga bahagia nikah sama gue, karena gue berbeda." jelas Milen.
"Perjanjian itu bukan salah lo Mil, tapi gue yang salah, gue yang ga seharusnya nunjukin lokasi camping itu. Apapun itu gue ga perduli, gue ridho, mohon ampuni gue atas khilaf gue, gue akan terus berjuang menafkahi dengan cara halal dan membuat lo bahagia."
Mendengar hal itu, Milen dan Brian saling menatap dan berjajar. Milen memang merasakan Brian pria berbeda yang banyak berubah. Entah mengapa Milen senyum dan menyetujui janji Brian yang akan menikahinya dan membuatnya bahagia.
Tanpa sadar mereka saling senyum dan melihat satu sama lain, Brian merangkul pinggang Milen dan Milen membalas menyentuh bibir Brian yang sedikit berbulu di area kumis tipisnya.
Tirai seolah menutup, Milen berbisik jika dirinya akan selamanya terkunci milik Brian. Begitupun Brian sebaliknya, seolah mereka melupakan dan tidak melewati kesempatan, kali ini syaitan telah merasuki membuat mereka merasakan jatuh cinta.
__ADS_1
Benar pepatah mengatakan jika kita sering berdua, akan tumbuh orang ketiga yang membuat mereka hancur.
TBC.