Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Makam Bergetar


__ADS_3

Milen pagi seperti biasa, ia akan bekerja sampai pukul satu siang. Setelahnya ia kembali menemui rumah Brian, bermaksud menanyakan keadaanya akhir akhir ini yang ponselnya tidak aktif.


Sampailah ia di depan rumah Brian! sorot mata Milen tergugah melihat sebelah rumah tak jauh, banyak kerumunan yang membuat mata Milen mendelik. Sosok arwah tua itu berjalan bagai orang rapuh tatapan kosong, wajahnya hanya menampilkan pucat dan sedikit gosong tidak menyeramkan, seperti arwah lain yang terjadi kecelakaan.


Sosok itu melewatinya tanpa memperdulikan wajah Milen yang melihat pria tua itu.


"Woy, liat apa Mil?"


Kaget Milen, "Lo kemana aja? ponsel lo ga aktif?"


"Eh, Mil. Tahu ga, kalau kata Jaet itu, seseorang habis dimakamkan, pasti tanahnya bergetar. Trus ada suara teriakan gitu kalau telinga kita tempelkan di tanah yang masih basah itu." Brian mendekatiku dan bercerita dengan sangat serius sambil memberiku tatapan tajam.


"Apa? Kamu memang sudah pernah lihat, Brian?" tanyaku heran dan kembali memandang makam yang masih segar itu.


Jaet yang di ceritakan Brian, dengan mengejutkan datang menghampiri makam itu.


Brian memegang patok nama seseorang yang di makamkan dengan perlahan. Jaet adalah tetangga Brian yang rumahnya hanya berderet dengan tiga rumah dari rumahnya. Ia sedikit gagap, tapi akhir akhir ini ia tak pernah nimbrung bersama kami setelah camping berakhir.


Dari atas makam Milen dan Brian, memandangi tanah makam yang basah itu, dengan penuh serius. Hingga angin dingin datang di atas makam, menghampiri dengan daun daun yang ikut memutarinya.


"Mile, lihat itu!"


Brian, mulai menempelkan telinganya di kuburan baru.


Aku dan Milen saling berpegangan melihat serius ke arah makam, yang akan melakukan hal yang tidak pernah aku lihat.

__ADS_1


"Apa kau yakin dia akan baik baik saja, Mil?"


"Aku sudah sering melihatnya melakukan itu. Tapi, nanti dia pasti akan terpental jauh. Lihat saja, beberapa detik lagi." jelas Milen.


Dahi Brian, mengernyit mendengar ucapan Milen yang tentu saja, sangat membuatku merasa penasaran dingin membeku dengan aksi Milen yang keren, melihat arwah sampai ke arah jauh.


Hanya dalam hitungan beberapa detik, apa yang diucapkan Milen memang benar adanya.


Secara bersamaan dengan kehadiran angin kencang yang berputar, aku mendengar suara teriakan minta tolong yang memekakkan telingaku.


Suara nyaring, bahkan sangat mengerikan. Suara seperti orang terbakar, dan tersiksa tanpa ada yang menolongnya.


Milen bahkan terpental, dan segera berlari ketakutan. Hati Brian, seperti merasa sesak dan tidak bisa digunakan untuk bernafas walaupun hanya sedetik.


Tolong, ampuni aku! Allahuakbar. Ampuni aku, ampuni aku! Hidupkan aku kembali. Tolong, arghhhh.....!!


Itulah teriakan yang Milen dengar dan menghilang begitu saja. Syukurlah, akhirnya Milen bisa bernafas kembali. Pikiranku yang tidak jelas semakin membuat aku lemas.


"Dah lah, moga aja dia ga minta tolong. Bisa berabe urusannya! udah gitu di makaminnya ga jauh lagi dari sini."


"Iy namanya juga makam keluarga, tanah mereka sih." jelas Brian.


Dan benar saja, Brian dan Milen di perlihatkan seorang arwah bapak tua yang baru saja meninggal itu, dengan seluruh tubuh gosong dan menatap sedih melihatnya.


'Tolong aku! kalian bisa lihat aku kan?' sosok arwah tua itu berbicara. Sementara Milen dan Brian saling menatap dalam dan menelan saliva. Menahan bau menyengat busuk dan gosong menyatu

__ADS_1


"Maaf kami tidak bisa bantu, kamu itu jin menyerupai! hanya doa yang bisa kami bantu." lirih Milen.


Dan saat ini Milen kembali pulang, ia berpamitan pada Brian! meski Brian ingin mengantar, tetap saja Milen ingin pulang sendiri. Sehingga Brian diam diam mengikuti Milen sampai di rumahnya.


'Setidaknya, aku bisa melihat kamu selamat Milen!' batin Brian, ia kembali pulang entah kenapa, sedikit punya rasa khawatir seiringnya bersama sejak camping di paviliun.


Mereka pun Berpisah!!


Sampai di kamar Milen, ku ambil sajadahku dan segera melakukan sholat Isya yang sudah menjadi kewajibanku sebagai umat islam.


Di atas sajadahku, aku terus berpikir. Kenapa aku tidak melihat laki laki yang meninggal tadi? Dia seakan menghilang bersamaan dengan angin yang berhembus dingin kencang yang datang di atas makamnya.


Lalu, suara siapa yang aku dengar tadi? Entahlah, pikiranku saat ini semakin berputar putar, sehingga Milen tertidur masih dalam memakai mukena. Tiba saja ragaku seolah keluar dan aku melihat jiwaku bersandar seperti wajah kelelahan.


Aku bersandar dengan ditemani kipas angin yang membuatku semakin berat. Membuka mataku karena hembusan anginnya yang sangat menenangkan pikiranku.


Perlahan aku menutup rapat mataku dan bangun di suatu perumahan bercat putih, dengan kondisi rumah berjejer yang berbeda dengan rumahku dulu, hanya dalam hitungan detik. Aku berdiri di salah satu rumah dengan pagar putih setinggi bahuku.


Aku melihat ayahku keluar dari rumah itu. Dia sangat tampan. Wajahnya bersinar terang dengan rambut hitamnya yang tebal.


Senyuman itu terus kuingat hingga saat ini. Iya, senyuman lembutnya kepadaku. Dia tidak berbicara apapun, dan hanya memandangku.


'Kenapa aku bisa melihat tubuhku lelah, dan kenapa aku bisa melihat dunia lain, apakah ini Delusi .. Halusinasi .. tidak banyak orang yang percaya dengan kata kata dan apa yang aku lihat, karena aku berbeda.' lirih Milen.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2