Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Aib Reina


__ADS_3

Esok Harinya.


Ting! bel berbunyi.


"Bi, biar aku aja yang buka." ucap Reina.


Tak lama, Reina di sadarkan akan teman lamanya yang membuat haru.


"Elda..?"


"Reina .. ah gue kangen berat sama lo tau gak! bagus deh, Roy kasih alamat rumah lo."


"Jadi Roy! kamu tahu rumahku darinya?"


"Heumph."


"Sama! ayo masuk Da!" ajak Reina secara akrab, ia memanggil panggilan belakangnya saja.


Reina yang berniat menjemput Bima dan Kanya, terhambat beberapa menit ketika ada Elda, lalu tampak gusar Elda pun mengajak Reina tetap menjemput kedua anak anaknya, tanpa banyak berfikir banyak kala itu Reina mengiyakan.


"Sekarang bisnis lo apa Ren?" tanya Elda, ketika di dalam mobil.


"Masih cari loker, yang pas! usaha di kampung cuma kecil kecilan kok, tapi cukup buat kebutuhan sebulan. Tetap aja, ga seberapa dan gue harus tetap berjuang demi anak gue." jelas Reina.


"Lo dah nikah ama siapa Ren? secara gue tahu .." terdiam Elda yang hampir keceplosan, dan semua itu sedikit canggung kala Reina berhenti rem dadakan, membuat Elda berpura pura menghubungi seseorang.


"Yah Ren, gue di jemput bokin nih. Gue turun disini aja ya! kita lanjut besok pas lo ada luang."

__ADS_1


Reina hanya senyum, layaknya tema lama bertemu dengan cipika cipiki, setelah temannya itu pergi, ia melanjutkan perjalanan, hingga sampailah di parkiran Playgroup, membuat Reina terdiam mengingat hal pahit, yang Reina rasa Elda adalah saksi hidup pesta kebodohan yang pernah Reina lalui seumur hidup.


Reina saat itu party! ketika masih menjadi pramugari, mengingat kabar Roy yang akan bertunangan dengan Caty, karena Reina jujur ia sudah tidak gadis lagi. Bahkan ia anggap Roy hanya teman biasa saja.


Hal itu membuat Reina terlanjut bermain pada lawan jenisnya, pria yang ia sukai bernama Azam. Namun siapa sangka party terakhir mereka membawa hidup Reina berubah sejak malam itu, dan keadaan berubah sembilan puluh derajat. Di saat seseorang menuangkan serbuk di pesta akhir tahun.


'Taruh ini di minumannya cepat!' ucap teman pramugarinya, kala Reina masih samar mendengar tapi sedikit pusing berkunang kunang ingin pulang.


'Sudah bawa saja dia ketempat ruangan utama. Aku yakin setelah mengantar gadis ini hidupnya akan hancur, ingat perintahnya. Kita dapat bonus double kan nanti." merekapun saling tos dan tertawa senang.


Reina yang sempat mendengar, ia langsung tak sadarkan diri, beberapa jam berlalu ia bangun dengan pusing. Tubuhnya merasa panas segera ia berlari ke kamar kecil. Ketika ia mendobrak sebuah pintu yang terkunci dan sulit ia merasa kesal. Lima belas menit kemudian dia tertegun ketika menatap satu pria masuk dan menghampirinya.


'Ayo baby! kita bersenang senang. Ahahaha.'


Reina terkesima meski tubuhnya panas, ia sepenuhnya jelas mengingat pria tinggi, hidung mancung dan tampan namun amat flat dingin. Aroma tubuhnya ketika mendekat membuat panas dingin. Pria itu semakin dekat dan mencengkram Reina dengan buas.


Reina sulit bernafas, hingga dimalam itu ia terkapar dan tertidur. Hingga esok harinya, ia benar benar gila kala bayangan pria itu benar Azam, karena Azam sendiri masih sedikit getir, kenapa bisa ia lakukan semua itu di saat Reina menjadi pramugari junior dan Azam pilot junior.


Aaaakh!!


Reina berteriak keras dan menangis sendu, melihat Azam sudah pergi, dan tak ada tanggung jawabnya! Reina segera memesan taksi dan kembali pulang, menyisakan bibi Ros yang nampak sedang tidak baik baik saja sesampai di rumah orangtuanya.


Sudah sepekan Reina mengurung diri, ia tak pernah ke ruko halamannya menagih uang sewa kontrakan milik keluarga, sekedar Reina pun bangkit dan berusaha untuk tenang seolah tak terjadi apapun. Terlebih banyak murung dan diam sejak kejadian malam itu. Berusaha menyibukkan diri dan hingga telah dua bulan Reina yang menjalani aktifitas seperti biasanya, bibi Ros lah yang mengira Reina hamil, tapi ia menyangkalnya. Hingga suatu perjodohan Reina yang akan di nikahkan Roy! membuat Reina jujur dan terus terang, dan saat itulah ia terusir dengan tanpa apapun.


Menyisakan bibi Ros dan suaminya, yang mau tidak mau digaji, asalkan bisa merawat dan tinggal dengan Reina, atas dasar kasihan pada Reina saat itu.


Plak ..

__ADS_1


Reina pertama kalinya ditampar oleh sang papa. Milen saat itu hanya terdiam karena memang putrinya memang salah. Momy nya menghentikan, dan mencoba untuk menenangkan. Dan kakaknya bukan membantu malah mencibirnya.


"Dasar anak ga tau balas budi, kamu mencorengkan nama papi. Apa jadinya Jika perusahaan papi dan berita ini menyebar ga tau malu kamu Reina." ujar sang papi.


Tiba saja perdebatan itu, membuatnya menangis, merasa mual.. ia tak bisa menahan dan pingsan. Beberapa jam kemudian Reina yang telah dicek dokter di ajak ke rumah. Dan saat ia telah siuman menatap seisi ruangan, tertuju padanya yang menatap rasa acuh dan menanggung malu dan aib.


"Ada apa momy, kenapa menatap Reina seperti itu?"


"Sayang... katakanlah! siapa pria itu, momy akan meminta bantu papi untuk mencarinya dan segera menikahi kamu."


Reina menyatakan jika ia dijebak, ia tak berniat malam itu seperti itu. Reina pun merasa malu ingin rasanya memukul perutnya agar tak terjadi hamil. Tapi momy nya menghentikan dan memeluknya. Papi hanya menahan tangis.


Reina pun bingung harus berkata apa.


"Asingkan Reina. tunggu sampai ia lahir, kita harus segera mencari pria yang mau menikahinya. Agar skandal ini tak berpengaruh. Jika Oma dan Opa tau bisa saja Reina akan digantung, atau dibuang begitu saja. Rahasiakan semua ini." teriak papi, membuat bibi Ros memeluk Reina yang ia anggap mirip seperti anaknya sendiri.


Bahkan Reina kala itu, ia memeluk kaki kanan papi. Ia meminta maaf karena telah membuatnya malu dan menebar aib. Tapi tempat terbaik adalah mengusirnya.


"Sayang.. cintailah anak itu, jagalah dia seperti momy menjagamu! momy akan sebisa mungkin mengunjungimu. Maafkan momy tak bisa berbuat apa- apa. Kamu harus tegar nak! Momy sudah meminta bibi Ros untuk menjagamu kapanpun itu tiba nak!" ujar Melin sebagai ibu.


'Huhuhu. Iya Momy, maafin Reina.' tangis nya saat ini pecah, karena saat itu terbuang dari keluarga hangatnya sesaat ia ingat kejadian pahit itu.


Tok! Tok!


Kaca mobil, terketuk membuat Reina sadar dan lalu menoleh.


.......

__ADS_1


TBC.


__ADS_2