
Di Suatu Tempat, Milen menemui mama May, karena sikap Milen dengan bayang bayang Alva Muda yang ia rasa dia berganti wajah mirip mantan suaminya, anehnya mertuanya semua mendukung menganggap itu seperti bagian keluarga.
'Aku harus tahu, kenapa dia berganti semua ini ditempatnya bekerja?' gumam Milen melangkah.
"Apa mama tahu, di mana Diva berada?"
"Sayangnya mama tidak tau nak. Kamu harus mengenal Alva Muda. Setidaknya kamu akan tahu kebenarannya sayang!"
Milen pun berbicara tentang dirinya. Ia tak mengenal di awal siapa Alva Muda. Entah dari mana ia bisa mirip pada mas Diva. Sehingga kedua anak anak mengira ia adalah Ayahnya.
"Untuk saat ini. Biarkan Rein dan Reina tahu dia adalah ayahnya. Kelak kamu luluhkan Alva Muda. Ia pasti akan jujur padamu sayang."
"Apa mama tau rahasia Alva dengan Papa?"
Mama May pun menggeleng. Jika papa tak pernah bercerita dan menjelaskan rahasia yang benar tidak di ketahui.
"Jika saja mama tahu. Mama pasti akan memberikan mu kode dan isyarat Milen sayang."
Terimakasih. Mama terbaik yang Milen banggakan. Tak pernah sedikit pun Milen jauh dari ibu. Milen merasa di samping ibu ketika berada dekat mama.
"Mungkin. Karena mama adalah sahabat terbaik ibumu sayang. Semua ibu pasti akan seperti ini bukan?"
Andai saja benar. Tapi tidak semua ibu berhati sabar dan lapang seperti yang kamu kenal, seperti Mama bukan.
Milen pun membicarakan. Jika ia akan menerima tawaran Alva Muda hanya sebuah kontrak. Ia berjanji akan menceraikannya setelah kontrak habis. Sehingga ia bisa kembali pada Diva asli.
"Sayang. Kamu terlalu mencintai Diva. Setidaknya jangan di jadikan kontrak sayang. Itu tidak akan sah nak ketika kamu berpisah!"
Milen mengerutug kesalahannya. Lagi lagi ia salah bicara hingga mereka saling menatap. Terlebih papa mertuanya datang karena bising suara mereka.
"Ada apa ini. Mengapa ribut sekali?"
Tak lama mereka pun berbincang hangat. Tak sedikitpun membicarakan masalah Diva. Ataupun rahasia. Apalagi membicarakan Alva Muda yang Milen rasa dia adalah Alva Muda, yang berusaha menawarkan dirinya untuk membantu dirinya kembali pada Diva.
Esok Harinya :
Pagi hari menyinari cahaya di pelupuk mata. Milen berjalan ke arah jendela kamarnya. Lalu membuka tirai membiarkan cahaya masuk kedalam kamarnya. Milen menatap senyum dan berdiri di depan jendela ke arah taman belakang rumahnya.
Di sana ia menatap Milen kecil yang selalu membantu ibu mengantar pesanan catering ke toko catering ternama. Bahkan sekedar toko kue kecil.
Milen sangat ingat, betapa tak pernah mengeluhnya sang ibu tanpa lelah. Bahkan saat Ayah jatuh sakit berkali kali. Milen tak pernah mengeluh dan berusaha untuk sekuat tenaga selalu tersenyum.
Hanya satu kala itu. Milen ingat betapa hancurnya saat acara khitbah di hari hak. Memutuskan untuk membatalkan sepihak.
__ADS_1
Sehingga Milen teringat untuk tidak pernah menerima tawarannya kembali dalam bentuk apapun dan keadaan apapun. Milen tak bisa membayangkan betapa sedihnya jika ia mengingat ibu dan Ayah. Belum lagi perlakuan ayah yang menanyakan apa ia bahagia menikah dengan Diva. Tapi ia menjawab bahagia amat bahagia meski berbalik.
"Alva. Bagaimana jadinya seperti ini. Semoga saja aku tak pernah lagi berhubungan dengan dirimu. Maafkan aku Alva, janjiku pada ummi dan Abie. Masih aku tepati." menghela nafas.
Milen masih samar mengingat Ayah dan ibu Inda yang selalu menghiasi senyuman dan tawa bahagia. Milen bersyukur sang Ayah tidak menikah lagi dan setia sampai akhir.
Sehingga meski terlihat egois, ia senang karena kenangan dirinya dan mamanya. Tak ada seseorangpun yang masuk pada kenangannya ketika ibu sambung masuk.
Bisa jadi yang Milen bayangkan saat itu. Ia mendapati ibu sambung yang amat begitu kejam. Dan menyingkirkan kenangan dirinya bersama sang ibu. Meski dalam berbentuk album foto.
"Terimakasih Ayah ... Untuk semuanya."
"Terimakasih Ibu ... Untuk semua tawa senyuman ibu."
Hello sayang. Pagi anak anak bunda yang bunda sayangi. Kalian benar benar cantik dan handsome.
"Bunda. Ayo kita sudah bersiap, kita sarapan bersama!"
"Yes. Rein senang saat Bunda ada di rumah. Apa Bunda akan rehat lama untuk menemani kami?"
"Hmmmm... cukup baik. Oke bunda akan meminta ijin pada bos bunda. Kita akan cek kedokter untuk imun anak anak bunda. gimana?"
Rein dan Reina mengangguk. Ia menuntun Milen dari samping kiri dan samping kanan dengan tersenyum.
Tapi satu matanya tertuju pada seseorang yang tak ingin ia lihat. Tapi senang untuk kedua anak anaknya karena ia mengira adalah ayahnya.
"Ayaaah!!" teriak Reina putri kecil Milen.
Tapi Rein hanya dengan santai gaya angkuh. Ia tetap berjalan damai menatap senyuman penuh pesona.
"Cucu Oma. Cucu Opa. Kalian sudah ceria sekali pagi ini sayang?"
"Yes. Oma, karena ada Bunda dan Ayah. Karena mereka tak setiap hari berada bukan?"
"Heuumph... Uhuuk .. Uhuuuk. Opa jadi iri saat ini. Apa oma dan Opa tidak laku pagi ini. Huahuahua."
Rein memeluk Opa dan Oma. Di ikuti Reina yang turun dari pelukan Ayah Alva muda, yang anak anak kira ia ayah Diva, yang sebenarnya ia adalah Alva Muda. Katakan saja dia adalah Diva palsu.
Aksi dua bocah itu mengharukan di pagi hari. Dan sangat tidak sabar ingin memiliki Milen. Dan memiliki miniature milik mereka, tapi tidak tahu jika Milen mempunyai rencana, tidak percaya pada Alva, jika dirinya adalah pemutus kesialan Milen yang memiliki mata batin.
Milen yang menatap sinis tak singkron. Hanya memicik diam tak kala menatap wajah Alva yang aneh.
"Oma. Opa. Kami berdua selaku bahagia bersama tetaplah sehat ya. Hanya saja saat ini kami bukan mengabaikan Opa. Kami sayang oma dan opa."
__ADS_1
"Oowh. Cucuku yang menggemaskan."
Milen tersenyum bahagia. Andai saja Diva asli lebih perhatian pada kedua anak, anaknya. Bukan orang lain dan wanita yang ada di pikriannya. Bukankah ia melewatkan masa indah seperti ini. Lirih Milen yang terdengar Alva yang Membuat ia gusar dan mendeheum. Sehingga Milen yang sadar melirik dan merasa bersalah karena wajahnya menjadi sempit akan senyuman.
"Mah. Mama ga boleh makan macam macam dulu. Kata dokter mama harus makan yang lunak. Milen sudah buatkan bubur kesukaan. Dan Papa, Milen juga sudah buatkan kembang tahu untuk meredakan sesak dan batuk yang gatal."
Terimakasih sayang. Silahkan sayang, mari kita berdoa dan menikmati sarapan lengkap bahagia ini.
Milen pun menyendok untuk kedua anak anaknya. Dan dengan kilat ia merasa reflek yang selalu menyendokkan untuk suaminya meski terkadang di tepis dan di buang.
"Mas. Iniii... lauk ikan kesuka- aan.. Mu." Milen terdiam ketika menatap wajah Alva Muda. Lalu menatap mama mertua dan papa mertuanya kala itu.
Ya. Milen sadar masa di meja makan yang jadi saksi biksu adalah kedua mertuanya. Perlakuan Diva sangat tidak sopan pada Milen.
Alva Muda senyum lebar. Kala tak ingin kedua anak anak curiga padanya.
"Terimakasih sayang."
Rein dan Reina ikut senyum dan menambahkan lauk. Meski kala itu Milen sadar Jika Alva Muda tak menyukai ikan. Ia sedikit alergi dengan ikan laut. Tapi Milen berikan karena di hadapannya adalah pria palsu, demi kedua anak anak tak curiga.
Astaga. Kenapa aku bodoh. Apa jadinya jika ia makan. Milen memikirkan cara agar Alva Muda tidak melahap ikannya.
"Mas. Ituh.. Mmmmh ... itu sedikit pedas dan tak garing.. Biar aku ganti ya!"
"Loh. Bukannya Ayah suka ikan dan tidak sedikit garing ya Bunda?" tanya Rein.
"Biarkan saja sayang. Ayah akan memakannya nak." ucap Alva.
Hal itu membuat Milen merasa bersalah. Ia takut Diva palsu memuntahkan dan terjadi sesuatu yang mendalam ketika melahap habis ikan laut. Sehingga tatapan kedua mertua Milen yang notabane orangtua kandung tanpa Milen tahu sedikit kagum.
Ia menyadari jika kebahagian Milen mungkin terletak pada anak yang ia buang dahulu. Benak Papa Stev.
Beberapa jam telah selesai. Kedua anak anak Milen telah rehat dan mendapat suntikan obat di kamar. Dengan bantuan suster dan dokter yang datang. Milen mengunjungi Alva Muda.
Ia mencari keberadaanya tak ada. Hingga ia menatapnya berada di balik halaman belakang dapur.
"Kenapa bos memakannya. Bukankah ini berbahaya?" tanya Ale.
"Aku tak ingin mengecewakan kedua anak anak manis itu. Dia tidak boleh tau aku adalah ayah bohongan. Aku akan berusaha menjadi ayah sambung yang perfect dan baik untuknya. Bukankah dia sama seperti anak ku juga Ale?"
Milen terdiam, begitu menyayat hati sikap Alva Muda, merubah dirinya menjadi Diva, hanya karena Milen dan kedua anak anaknya. Lalu dimana Diva asli?! gumam Milen, merosot tubuhnya lemas.
Terlebih bayangan hitam yang akan hampiri dirinya, menjauh ketika Alva Muda tak jauh di dekatnya.
__ADS_1
'Sebenarnya siapa Alva muda dan bayangan hitam itu?' batin Milen.
TBC.