
Detak jantung Reina, benar benar sangat kencang. Dimana hal itu membuat Reina takut, jika Shi datang, atau bahkan ibu Azam melihatnya dan kedua anak anaknya memergokinya.
'Tunggu, aku ingat ibu Jing, bagaimana nasibnya ya. Bukankah dibawa mobil beberapa jam lalu.' batin Reina berfikir.
"Bu Reina, silahkan bu!" Heru dan seorang dua bodyguard menjaga, membuat Reina menatap Kanya dan Bima.
"Tapi anak anak saya bagaimana?"
"Saya akan menjaganya! iya kan ganteng, dan cantik."
"Iy om. Bunda duluan aja, soalnya Bima dan Kanya, mau bungkus kado dulu. Iya kan om?"
"Betul tuh bunda." tambah kedua anak anak Reina yang kala itu, menatap Heru.
Hah.
"Baiklah, kalian jangan nakal ya. Heru saya titip kedua anak anak saya! jangan sampai lecet, atau terjatuh." ketus Reina, dan senyum pada kedua anak anak nya, yang kala itu Bima dan Kanya tertawa renyah.
"Baik bu." senyum Heru.
Reina membuka pintu, dimana ia melangkah dan melihat ranjang Azam, disana terlilit perban. Dimana Azam sedang tertidur, ada rasa kasihan dirinya saat itu. Ia mendekat dan meletakkan buah di atas meja. Ia duduk dan menatap Azam yang terlihat monitor berjalan begitu saja.
"Azam aku datang! maaf, jika aku baru menjenguk Mu, selama beberapa minggu kamu di rawat. Bagaimana keadaan mu, semoga membaik dan semakin membaik. Semoga kamu juga cepat siuman." lirih Reina, kala itu melihat Azam.
Reina menatap sekeliling, dimana ia memberanikan diri memegang tangan Azam, meski sempat dan amat ragu ragu.
"Azam, sebaiknya kamu lekas sembuh. Agar semua semakin baik baik saja, aku harap kamu juga sembuh, dan tidak pernah lagi melakukan hal yang bukan bukan." jelas kembali Reina.
Reina kembali bersedih, ingat hal yang mungkin membuatnya sakit. Sehingga Reina kembali menghapus rasa sedihnya, mencoba tetap tenang. Bagaimanapun ia bahagia, kini bisa menjenguk Azam dan selamat dari kecelakaan.
__ADS_1
"Azam, aku dengar kamu kecelakaan selepas kamu bekerja, dengan seragam pilot mu berlumuran darah, semoga kamu cepat sehat dan pulih, sehingga bisa kembali beraktifitas. Karena ada banyak orang yang menyayangi kamu, ingin kesembuhan kamu segera mungkin, aku mendoakan mu untuk kamu segera sembuh, dan membuka mata."
"Apa kamu termasuk menyayangi ku." lirihnya, tanpa Reina sadar Jika Azam membuka mata.
"Semua pasti menyayangi Mu, aku pun berharap dan masih sama seperti dulu, berharap kamu segera sembuh. Huhuhu." tangis Reina, celos begitu saja. Dan terdiam, kala ada suara yang membalasnya.
"Serius, kamu masih seperti dulu?"
Deg.
Reina mendongak, dan melihat wajah Azam yang telah membuka mata, jadi tadi yang menjawab hal tadi, itu Azam.
"Benarkah, kamu masih seperti dulu?" Azam senyum, melirik tangannya yang masih dipegang Reina.
Reina pun refleks menjauhkan tangannya, bibirnya beku seolah ia terjebak, atas apa yang ia lihat. Dan yang Heru katakan jika Azam masih kritis dan belum sadar.
"Hah, jadi kamu tidak kritis?" lirih Reina sedikit geram.
"Aku sudah mendingan, rasanya mendengar curhatan kamu tadi Ren, aku bahagia."
"Apa .."
"Heum, dan rasanya mendengar ada yang mengatakan aku sama seperti dulu, aku jadi penasaran. Apakah cinta itu masih ada, dan nyatanya benar. Ah! rasanya aku akan semakin membaik."
Azam yang menatap Reina, ia pun segera merapatkan wajahnya ke arah Reina, meski ia mencoba melepas eratan itu. Itu membuat dirinya semakin berontak, tapi Azam tidak ada tanda tanda orang sakit, bahkan pegangannya terkunci keras.
Duar.
Pintu terbuka, hal itu membuat Azam melemas, dan berpura pura lesu, ketika kedua anak anak Reina datang berlarian.
__ADS_1
"Kau.." kesal Reina, yang berdiri dan sedikit gugup.
"Bunda .. Bunda udah potongin apel?" tanya Bima.
"Ah, iya ini bu - bunda baru mau potongin." senyum Reina, sedikit gemetar.
"Hei anak anak manis, paman senang sekali kalian berdua jenguk paman. Sepertinya paman akan terasa lebih baik." ujarnya, membuat senyum merekah.
"Paman Azam, kami datang loh. Lihat deh, ini dari kami." Kanya dan Bima memberikan sebuah kado persegi empat, dimana Azam menerimanya dengan senang.
"Boleh paman buka?"
"Boleh dong. Ayo buka cekalang!" lirih Kanya sedikit cadel.
Azam senyum pada Reina, dan kedua anak anak Reina saat itu mendekat ke arah Azam. Dimana Azam membukanya dan itu adalah lukisan tangan buatan Bima.
"Itu dari kak Bima loh, kak Bima pandai lukis. Bagus gak?"
"Oh, makasih ya sayang! sangat bagus,"
"Bunda udah kupasin buah apelnya, sini Bun. Biar Kanya kasihin, dan suapin paman Azam kita." meraih piring kecil, dari tangan sang bunda.
Hal itu membuat Reina senyum, dan mencoba sabar. Bagaimana pun dirinya sudah ketahuan, apa yang tadi ia bicarakan. Nyatanya, Azam sudah sadar dari kritis, dan tidak ada tanda tanda amnesia.
'Dasar Heru, awas saja nanti jika di luar.' lirih Reina penuh ancaman.
Tak lama, sebuah pintu terbuka membuat Reina menoleh dan menatap bulat lebar lebar, siapa yang datang.
TBC.
__ADS_1