Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Ritual Kembalinya Reina


__ADS_3

Reina membuka mata, dimana remang remang membuat dirinya terasa aneh, aroma obat menyengat membuat Reina mual dan benar benar ingin muntah. Samar terlihat baju putih, dimana rak meja medis dengan alat alat tajam.


Reina yang teringat ia ada di tempat tak aman, setelah mengingat dirinya dengan Shi tempo lalu, hal itu membuat Reina kembali berpura pura pingsan, dimana satu pintu terbuka yang diyakini itu adalah sang dokter dan asistennya, karena membuka mata sedikit terlihat wanita satunya, membawa sebuah papan dan kertas, bahkan lengkap mereka memakai sarung tangan medis.


"Berapa lama lagi kita lakukan pembedahan wajah dok?"


"Satu jam lagi, lagi pula nona Shi sudah kamu tangani?"


"Sudah dok, sudah saya berikan infus. Lalu bagaimana dengan wajah aslinya di sana?" tanya wanita itu, melirik nampak ke arah Reina, dimana sang dokter pun tersenyum miring.


"Sangat cantik dia itu, kita hanya membutuhkan lapisan kulitnya saja, setelah itu kita ambil ginjalnya, perlahan anggota lain yang berharga. Lalu kita buang ke laut untuk jadi makanan hiu."


Langkah sang dokter dan asistennya mendekat menatap Reina, namun Shi yang mendengarnya pun, sedikit gemetar akan tetapi ia coba rileks, seolah dokter dan satu orang disana, masih menganggapnya pingsan.


"Dia masih belum sadar, hembusan nafasnya juga tersenggal dok."


"Aneh, harusnya sudah lima sampai enam jam dia sadar, jangan jangan .."


Reina mencoba menutup mata, mencoba hal yang di takuti terjadi, benar benar dokter gadungan yang membuat nyawanya kini terancam. Bahkan ingin menangis saja, membuat Reina fokus agar benda dan suara, atau hentakan dokter gadungan tersebut tetap menganggap dirinya masih pingsan.


Prang.


Hampir saja Reina refleks, beruntungnya ia tadi menahan nafas dan fokus, sehingga tetap tak membuat kagetan, karena sang dokter sengaja menjatuhkan nampan alat medis, yang jika jatuh menimbulkan suara nyaring. Andai ia tak memencet earphone kecil masih menempel di salah satu kuping yang ia tutupi, mungkin ia akan kagetan saat ini dan masih di anggap pingsan.


"Dia masih pingsan dok, apa kita tak sebaiknya ke ruang nona Shi."


"Benar, biarkan saja dia membayar 7 x lipat, yang jelas setelah selesai. Baik itu gagal atau berhasil, kita pergi dari sini! Lagi pula, kita bukan dokter bedah plastik, melakukan pembedahan tukar wajah tidak akan bisa serupa, apalagi berhasil pun amat sulit dan memakan waktu yang panjang, bahkan bisa menjadi sebuah penyakit kangker kulit." jelasnya, membuat asisten dokter mengangguk.


Krek.


Pintu tertutup lagi. Selepas sang dokter tadi keluar, dan Reina segera bangun dimana ia mencari celah untuk keluar. Reina yang ingat kata kata Shi, apakah itu tertuju pada Shi andai Shi tahu jika dokter yang ingin membuatnya berganti wajahnya, adalah dokter gadungan, sehingga Reina mencari bukti dan mencoba mengendap ngendap ke ruangan lain.


"Kamar mandi ini, apa itu celah untuk aku bisa kabur?" lirihnya, Reina yang manjat ke arah atap, dimana itu ada celah kaca, sehingga Reina mengambil sesuatu mirip palu.


"Aku pasrahkan diriku dan keselamatanku, aku mohon bantu aku Tuhan."

__ADS_1


Beberapa kali Reina mencoba membuka pintu, tapi putaran pintu itu terlihat terkunci. Sehingga Reina mencoba pergi, tanpa alas kaki, dimana ia manjat ke atap kamar mandi, yang mana Reina mencoba berjalan pelan lewat atas.


Setelah berhasil Reina ke atas atap, ia segera menutup lagi dengan hati hati, lalu merangkak bagai tawanan yang berusaha kabur, hingga dalam puluhan menit, belokan berbentuk L, ada celah garis membuat Reina bisa melihat aktifitas dibawah ruangan itu.


Syok Reina, saat tahu disana ada Shi yang sedang tertidur, nampak dokter tadi memegang cutter, membuat Reina ingin berteriak, tapi ia bungkam. Ingin rasanya Reina menolong Shi, namun jika ia melangkah pasti akan berisik, dan itu membuat fokus dokter menoleh ke atap lorong diatasnya, yang ada udara.


Dreeeeeth.


"Aaah.." Reina teriak dan membungkam atas apa yang ia lihat tadi.


Reina dengan segera pergi merangkak lebih cepat, dimana meninggalkan suara, dimana mungkin dokter itu sadar dan salah satu asistennya kembali ke ruangan sebelumnya, dimana Reina tergeletak masih dinyatakan pingsan.


Bugh.


Bugh.


Reina mendorong keras, hingga seng itu terbuka miring, Reina keluar dengan penuh ketakutan.


Dimana lorong itu menuju arah luar, entah dimana yang jelas penuh dengan alu lalang, kebun kebun. Bahkan kini Reina lari sekencang mungkin, berharap ia temui jalan untuk bisa kabur sejauh mungkin. Penuh air mata, dimana ia melihat wanita disana di kikis kulit wajahnya, tanpa menunggu obat bius yang mungkin ada dalam bayangan Reina saat ini.


'Shi, semoga kelak kamu bangun sadar, maaf aku tidak bisa menolongmu. Tapi jika aku berhasil bertemu bantuan, akan aku beritahu jika kamu sedang dalam bahaya.' batin Reina, berlari menahan sakit kakinya saat itu.


Dan saat Reina sampai di sebuah jalan, jalan yang sepi membuat Reina benar benar ketakutan, takut akan sebuah satu mobil, yang menghampirinya itu adalah para dokter gadungan atau dokter gelap yang ingin mengambil organ tubuh, apalagi kikisan wajah yang ia lihat tadi, mirip wajah monsters setelah lapisan awal wajah terkikis habis.


'Tuhan, apakan aku akan ditangkap. Jika aku tertangkap, aku lebih baik mati tertabrak. Ketimbang wajah dan organ ku hilang tak utuh, aku mohon keadilanmu. Jika aku tak boleh bahagia, cabut saja aku dengan cara instan, karena aku tidak rela wajah dan organ ku diambil secara gelap untuk manusia serakah dan tamak." lirih Reina, yang mencoba lari saat itu juga di jalan aspal.


Srith!


Brugh.


Sebuah mobil terhenti dimana, ia tak sengaja menabrak Reina, dimana saat itu kecepatan pun amat rendah karena seperti sederet gerombolan orang sedang mencari orang.


'Tuan Alva, kita menabrak.' bisiknya membuat Alva meminta turun saat itu juga.


'Cek sekarang!'

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Milen yang menaburkan kembang 7 rupa dan ayam hitam di sembelih, ia berharap bantuan dari kata batinnya untuk segera menemukan putrinya Milen meski ia bukan anak kandungnya, meski begitu ia menitipkan sebuah mantra agar yang menyebabkan Reina terluka, maka kembali padanya.


'Sewo .. Sing jadikan pembawa bencana menjadi tumbal sesungguhnya! Tolong lindungi Reina dan bawa ia kembali pada keluarga kami, sisanya aku akan kembali membantu kalian pada jalan yang kalian inginkan.'


Deg ..


Milen membuka mata, dimana arwah arwah dan iblis lain yang berjalan merayap di dinding dengan penuh darah, ia segera pergi dan menatap senyum ke arah Milen.


Milen pun selesai ritual, ia mencoba hidup kembali pada masa lalunya, semata ia rindu pada Rian suami pertamanya itu, dimana ia bahagia telah menemukan Azam putranya satu satunya yang masih hidup, dan berharap jalan kehidupannya bahagia tanpa terbelenggu sepertinya.


Krek ..


Milen membuka pintu, dimana Azam mendekat.


"Bu .. Kenapa ibu lakukan ini? Ini namanya syirik bu."


"Setelah ini kamu jaga keluargamu dengan baik, setidaknya ibu sudah tua. Ibu akan pergi dari hidup kalian, ibu akan kembali ke kota S, dimana kegiatan ibu dulu dan tinggal sebelum ada kamu. Ibu melakukan ini, semata agar garis keturunan ibu tidak ikut terlibat dan terbuka mata batin kutukan seperti ibu. Kamu terlahir tidak sama dengan ibu, dari itu ibu beruntung kamu tidak perlu melanjutkan semua ini. Sekarang bersiaplah, ayah Alva sudah menemukan Reina kembali!"


Ocehan ibu Milen, membuat Azam remuk meski ia mendengar kebahagiaan istrinya kembali pulang, tapi sedih karena mendengar kenyataan ibu Milen sang ibu kandung padanya saat ini.


Lihatlah .. Mereka datang Azam!! ucap Milen, yang sudah terlihat tua. Dimana Milen melihat mahluk tak kasat mata membawa sebuah kulit manusia, dan melemparnya ke sudut kakinya.


"Haarg .. Itu adalah ulah manusia yang berhati jahat, dia sudah akan mati dengan tragis!" bisik arwah itu, membuat Milen menahan bau amis.


"Bu .. Ayo ke depan bu, kenapa ibu diam?" tanya Azam, karena ia tidak melihat apapun kecuali Milen.


"Duluan Lah Azam .. Ingat pesan ibu tadi!"


Azam menurut, dimana saat ia melangkah tiba saja menoleh kebelakang, sang ibu Milen sudah tidak ada.


Bu ...


Ibu ... ( Teriakan Azam, membuat hati Azam sakit. Ia hanya melihat seuntai pesan untuk Azam hanya mengenangnya saja, tanpa mencarinya. )


"Azam .. Ayo hubungi dokter, Reina sudah diketemukan!" teriak Alva, yang menggendong Reina sang putri, membuat Azam gundah bahagia dan kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan ketika kembalinya Reina, tapi ibu kandung aslinya pergi dengan cara seperti ini tanpa jejak.

__ADS_1


"Azam .. Kenapa bengong?" teriak Alva, membuat Azam langsung bergegas.


End ..


__ADS_2