
"Anda kenapa ganggu saya! anda tahu, saya sedang bekerja online. Membangun bisnis online saya untuk stabil kehidupan saya. Kenapa anda menyulitkan selalu hidup sa .." teriakan Reina, merendah ketika Azam terdiam, karena Reina lupa ada anak anaknya yang memperhatikan.
"Bunda- bunda kenapa berteriak dengan paman ini?" tanya Bima.
"Paman orang jahat ya? kok bunda keecel sih sama Paman." ocehan Kanya cadel.
"Maafkan! paman janji tidak akan buat bunda kamu marah! paman datang ganggu kerjaan bunda. Paman bukan orang jahat sayang." tatapan Azam menatap kedua anak anak Reina.
"Ren, boleh kita bicara sebentar?"
Reina meminta bibi Ros, mengajak anak anaknya masuk. Lalu mengajak Azam keluar, jauh dari pandangan kedua anak anaknya. Bagus saja Reina sadar, ia hampir kehilangan kendali karena begitu emosi. Entah situs onlinenya esok, apakah akan ada komentar pedas lagi, padahal ini pertama kalinya ia terjun situs online agar ia mendapatkan uang tambahan.
"Jadi apa maksud anda kemari, mengganggu kenyamanan rumah ini?"
"Reina, katakan padaku. Di dalam sana darah daging ku kan. Party itu, kamu bukan Shi, katakan kenapa kamu pergi dan kembali dengan penuh pertanyaan?"
Cih.
Reina ke dalam, ia lalu menunjukan sesuatu dan kembali ke halaman rumahnya.
"Buku nikahku, di sana pernikahan ku dan kelahiran anakku jaraknya sedikit renggang, selang tiga bulanan. Jadi, itu bukan kamu. Pergi sekarang juga! aku tidak pernah mengenal pria bernama Azam, baik Azam seorang pilot. Ataupun bos di perusahaan ternama yang saat ini aku bekerja sebagai office girl. Pulanglah Azam! lebih baik kamu kelonin istri sahmu, agar hidupku tidak lagi rumit dengan ocehan ngelantur."
Reina pergi, meninggalkan Azam. Akan tetapi ia kembali balik, mengambil buku nikahnya di tangan Azam, yang saat itu sedang menatap dalam.
"Kembalikan, buku nikah itu! ingat pak Azam yang terhormat. Jangan lagi ganggu kehidupan yang sudah dijalani masing masing." bisik Reina, lalu segera merapatkan pintu.
***
ESOK HARINYA.
"Tugas apa ini, kalian tidak becus mencari informasi jelas ya!"
Azam saat itu marah, dalam satu ruangan besar, terlihat Heru yang tak pernah melihat Azam seperti ini, membuat tatapan karyawan berbisik.
Heru yang tak bisa melihat Azam semakin panas, ia meminta rapat dihentikan. Meminta karyawan kembali ke tempatnya.
__ADS_1
"Sepertinya pak Azam sedang tidak baik! lagi pula, kalian harus bersemangat lagi. Jangan pernah salah satu angka sedikitpun dalam estimasi pembangunan! kerugian sangat fatal! apa kalian mau gaji kalian tidak dibayarkan, sampai kerugian semua itu terlunasi?" jelas Heru.
"Baik pak! maafkan kami." pamit seluruh karyawan menatap bosnya, seolah bukan hanya murka karena pekerjaan saja.
Heru mendekat ke arah Azam, membuat kaca transparan menjadi blurb! Ia duduk di depan Azam sambil tersenyum santai.
"Katakan padaku! apa yang kau pikirkan, sampai sampai semua vas bunga kau terbangkan! kau jangan jadi bos arogan, hanya karena masalah pribadi digabung dengan salah satu digit! lagi pula, bendahara mu sebelum kemari dia meminta maaf dan menjelaskannya, sebelum dikoreksi olehmu."
"Diam lah! aku sungguh penat." ujar Azam.
"Kau semalam bertemu Reina, lalu apa dia menolak mu. Atau kau, ...?"
"Dia, tidak bicara satu kata pun. Membantah soal party, terlebih kedua anak anaknya benar benar anak pria bernama Di-va. Bahkan Reina menunjukan buku nikah, yang di pikiranku semalam ternyata salah." jelas Azam, sedikit lesu.
"Azam. Kau ini bos, kenapa bodoh sekali sih. Apa karena kelemahan mu ini soal percintaan, banyak sekali yang kau tak tahu. Bahkan aku juga bingung, kenapa bisa kau menikahi Shi. Bahkan kau tidak mencintainya, yang katanya kau itu tidak menyentuhnya, apa kau berbohong?"
"Aku benar tidak menyentuhnya! bahkan malam pengantin aku pergi, aku menemukan hasil lab dirinya terkena Hiv! Shi datang meminta tanggung jawab. Menunjukan foto malam party. Maka dari itu aku pulang, dan sudah ada Shi dan keluarganya berkumpul dengan keluargaku."
"Kau tidak cari tahu, pasti ada terkait antara Shi dan seseorang dari keluargamu. Ini hanya kemungkinan ku saja ya! Dan lihatlah ini!" ujar Heru, memperlihatkan sesuatu.
Pasport Diva! "Kau dapat dari mana, semua ini?"
"Si-al kau. Kau pikir aku ingin mengajukan agunan." sebal Azam.
"Hahaha! Lihatlah dulu, Azam. Di sana tidak ada catatan buku nikah antara Reina dengan Diva Setiawan. Orang ku bilang, dia hanya teman Reina satu kampung, juga dia itu .. memang meminta kawanku, membuatkan identitas akte untuk kedua anak Reina. Membuatkan surat nikah palsu, tanpa pernikahan demi identitas anak kembar Reina."
"Jadi, Reina benar berbohong. Yes! aku sudah duga, pasti kemungkinan dia anakku. Jika memang party itu aku bersamanya. Video party itu kenapa blurb, andai terang."
"Dasar bos bodoh! party pasti redup, bagaimana bisa terang. Kau ingin sesi Prewedding atau photoshoot keluarga." sebal Heru, ketika bos tampak bucin semakin bodoh.
Azam terlihat sumringah, ada senyuman lebar ketika Heru, benar benar membantunya.
"Baiklah, satu jam lagi kita meeting. Aku harus giat mencari nafkah! kelak aku harus membahagiakan mereka bukan." alis Azam, salah satunya naik sambil tersenyum. Membuat Heru, menghela nafas dan akan pamit keluar.
"Kau tidak layak jadi bos, bos yang aneh." lirih Heru.
__ADS_1
Tok Tok!
Tak lama, suara ketukan pintu.
"Silahkan masuk," senyum Azam, ketika terkejut Reina datang dengan kostum seperti ingin olahraga, berwarna pink soft.
"Reina, kamu datang bekerja dengan kostum seperti itu?" tanya Heru, kala Azam masih terpesona diam menatap Reina, yang di kuncir satu rapih, poni seperti cambang panjang di bagian kiri kanan, bahkan sweater nya terlihat terbuka dan Reina yang sadar ia segera menutup resleting sweater kala terlalu bawah.
Gleuuk.
Azam melirik Heru.
Reina masuk dan bingung menatap berkas berantakan, vas bunga yang terjatuh dengan sengaja di lempar. Ia semakin ngeri dan takut jika bicara kedua anaknya ia akui, memang benih Azam yang sengaja tertinggal suatu tragedi memilukan yang tak patut di ingat.
"Maaf pak, saya datang di time tidak tepat. Saya memberikan proposal klien pt Ops group meminta saya menitipkan pada bapak. Tadi tidak sengaja saya berpapasan, dan ini satu lagi surat pengunduran diri saya! saya mohon pak Azam tidak mempersulit."
Reina menunduk tak ingin menatap Azam dengan berlama lama, ingin rasanya ia berlari tapi tak ada alasan jelas. Karena ia harus ajukan meminta tanda tangan Azam, barulah ia tidak lagi bekerja.
'Tidak, semua ini aku harus profesional tidak boleh baper, dan berasumsi jika seorang bos Azam yang datar dan emosi akan menghampirinya lebih.' batin Reina.
Azam berdiri dan merobek pengunduran diri Reina, di depan Heru. Reina pun terkejut dan mengatur nafasnya sedikit lama.
"Bahkan jika anda merobek berkas saya! saya tetap akan berhenti. Maafkan saya pak!" pamit Reina ia segera bergegas pergi.
"Tunggu!!" teriak Azam.
"Heru, tunda meeting kita besok. Aku harus mengejarnya."
'Astaga! wibawa seorang bos jatuh hanya karena masa lalunya.' lirih Heru, memutar mata tak percaya, ketika Azam yang datar kaku, bisa cair dan manja ketika hadirnya wanita bernama Reina.
TBC.
Sambil Tunggu Up! Yuks mampir ke judul udah tamat.
- Mrs. Bodyguard Super ( Fantasi Wanita )
__ADS_1
- Bad Wife. ( Bully Wanita Gendut )
- Skandal Cinta Kedua ( Pembalasan Istri Dendam )