Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Menyelidiki M Alva


__ADS_3

Milen menyusuri ruang club, meja yang di sebut ruang atasan bug bos yang ia rasa tak asing, sejak lalu hubungi mama May, jika suaminya telah menalak dengan aneh dan masih kritis. Lalu pria tak jauh di hadapannya, membuat Milen yakin ada yang tidak beres.


"Gue ke toilet dulu ya." ujarnya, pada rekan kerjanya yang mengangguk.


Sementara Milen, ia bergegas masuk pelan pelan ke dalam ruangan rahasia, menatap berkas dengan senter diam diam melupakan bayangan itu benar benar tidak ada lagi mengikuti. Dalam hitungan puluhan menit, tubuhnya berkeringat dingin ketik menemukan map kuning, biodata yang tak ingin Milen pikir panjang.


M alava Muda, dan Diva Mahendra ahli bedah, identitas awal.


Deugh!


Milen keluar, tak tahan rasanya dengan apa yang ia lihat. Ia keluar kembali ke meja bar nya, berusaha meraih tas untuk pulang. Tapi melihat rekannya meminta Milen minum, maka Ia minum dan menarik rekannya juga ikut pulang.


Gleuuk!


Milen yang di paksa meminum, terdiam beberapa saat dan pingsan.


"Mil .." teriak Fara, dan tak lama rekannya di singkirkan karena setengah mabuk.


"Kalian. Cepatlah, tangani dan beri jawaban apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dia masih tertidur?" ucap seseorang dari sebrang.


"Pingsan bos." ujar pelayan.


Pasalnya Alva tak paham. Jika obat perangsang tak seperti yang ia lihat dan reaksi pada wanita jika ia meminumnya dia tidak akan tertidur lama. Alva sengaja membuat Milen seperti ini, karena sesuatu hal yang ingin ia rencanakan.


DI HOTEL LAIN.


"Bagaimana?"


Dokter Robe menepuk pipi Melin. Ia mencoba membuka mata Milen dengan senter kecil. Ia mencoba melakukan segala cara tensi tapi tak beraksi sama sekali pada Milen. Meski ia telah meletakkan aroma mint pada hidung Milen. Sehingga otak Robe memutar beberapa langkah.


"Ada apa?" tanya Alva.


"Dia pingsan. Apa dia salah makan atau minum?"

__ADS_1


"Seseorang telah memasukan obat perangsang. Harusnya ia tidak seperti ini, harusnya Ia mengerang terus menerus kenapa dia bisa pingsan. Bangun dan pingsan lagi?" wajah kesal Alva.


Ale dan Robe saling menatap. Dokter menyuntikan sesuatu pada Milen. Tapi Alva menatap Ale dengan mata yang sempit. Ketika ia mencoba menahan tawa sehingga ia membalikan tubuhnya dan berjaga pada ruangan lain.


Milen membuka mata, ia menyempitkan kedua matanya saat menatap beberapa orang dengan samar.


"Aaaaagh. Tolooong aku. Sepertinya tubuhku sakit!!" erang Milen beberapa kali. Hal itu membuat Robe dan Alva saling menatap melihat pemandangan itu.


Ya. Mereka pria normal, yang bisa saja melihat pemandangan seperti tadi membuat mereka frustasi.


"Bukan aku yang berikan obat itu," ujar Alva membela, pada tatapan dokter Robe.


Milen menarik selimut dan menggeser tubuhnya pada kasur seperti sedang melakukan sesuatu. Ia tak tahan akan panas tubuhnya yang terbakar. Seolah ia meminta bantuan untuk melakukan sesuatu padanya.


"Aaakh. Siaaaalan!!" erangan terus menerus membuat Alva gila.


Ale asisten keluar, ia sudah beberapa kali ingin menahan tawa. Tapi saat ini ia benar benar tak bisa menahan lagi. Jelas big bos nya pertama kali ia menahan hasrat, belum lagi melihat di bagian bawah tercetak jelas dan padat seperti ingin keluar.


Ale lalu pamit keluar. Ia tak bisa membayangkan ketika Diva marah padanya. Tak lama Robe telah meneteskan vitamin jingga pada Milen. Sehingga ia telah selesai dan pamit.


"Suntikan dan vitamin sudah membuat ia akan sadar dan kembali normal. Tapi ketika ia kembali seperti tadi, saya harap lakukan metode kedua. Itu akan berhasil meski tidak melakukan sesuatu kontak yang..."


Eheuuum!!"


"Sudah selesai. Pergilah!" titah Alva, meminta Robe segera keluar dari kamar privasinya.


Waah... Waaah. Beginikah cara bermain Alva. Bos mu Ale?! tanya Robe.


"Eheuum. Lo bicara lagi gue tutup rumah sakit dan gue putusin investasi lo dari perusahaan gue!!" teriak Alva lagi, yang mendengar ghibah di luar pintu.


Siaaal!!


Alva hanya bisa masuk dan memerintahkan Ale untuk menghandle rapat lain. Ia membatalkan pertemuan karena terlalu khawatir pada Milen saat ini.

__ADS_1


"Jadi, sekarang ini harus benar - benar mengkhawatirkannya... atau karena ga bisa menuntaskan ... 'ini'?" menatap celana yang sesak.


Sebelah alis Alva naik, ia tidak peduli dengan gelar anak Umi Abid, jelas arogan jeleknya ia satu darah pada Diva. Sehingga menjadi pria baik saja, belum tentu disukai.


Milen kembali merasakan nyaman dan hangat. Ia menatap bidik bidik bulu halus yang terpampang jelas di tangannya. Ia lalu meraba raba jika ia benar sedang memeluk guling. Tapi tak terasa kaki indahnya menggoyangkan kaki Alva sehingga terkena garuda dan membuat Alva yang mendengkur jadi melotot kaget.


"Astaga. Wanita ini." Alva menatap Milen yang masih memeluk sandar pada dirinya.


"Ah. Apa yang kamu lakukan pada saya bos?" tanya Milen menyempitkan tubuhnya yang kini berbalut boxer dan baju tanpa bra.


Alva kembali turun dari kasur. Sehingga ia mengambil piyama tidur dan bergegas memakai sandal.


"Aku kenapa memakai pakaian pria. Kemana baju dan baju dalam ku?"


"Lalu kau berfikir apa setelah ini. Kau yang bodoh telah membuatku frustasi akan sikapmu. Harusnya kamu berterimakasih karena aku tidak memanfaatkan!"


"Aku berterimakasih. Bagaimana bisa, tapi aku tertidur di sampingmu dan.. Aaakh." Milen menutup wajahnya dengan selimut.


"Kunci card di sampingmu. Kekantor saat ini, kau sudah membaik bukan? Seseorang akan mengantar pakaian baru. Jadi bergegaslah, tidak ada yang terjadi sesuatu hal pada kita. Aku hanya membantu menghangatkan tubuhmu karena aku rendam dirimu dengan es batu di bath up!"


"Apa maksudnya. Tolong ceritakan padaku bos!" Milen mengejar sang bos kala ia akan masuk kedalam kamar mandi.


Setelah beberapa jam. Milen menatap video dari ponselnya. Ya itu adalah video yang di kirim oleh Ale asisten setia bos nya. Ia kini amat malu dan menutup wajahnya. Entah apa ia harus bicara dan menatap bos nya itu. Yang jelas ia kini memakai pakaian branded pun ia malu, karena sesuatu memalukan terjadi tadi malam.


Tok ... Tok.


"Hei. Cepatlah, kau akan bareng dengan kami. Atau mengurung diri di kamar yang jelas bukan rumahmu!" teriak Alva.


Milen buyar akan lamunan malunya. Ia berusaha kuat untuk tebal muka kali ini. Melihat teguran bos nya yang sombong membuat ia kesal dan gila.


"Monster. Ya, dia pantas aku juluki itu karena sikap ya selalu berubah ubah dan menyebalkan. Tunggu, aku ingat jelas berkas bos M Alva Muda dan Diva, menarik aku harus selidiki lagi siapa dia." gumam Milen bergegas.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2