
Suasana hati Azam, sudah membaik sejak kedatangan Reina ke dalam hidupnya lagi. Dan ia langsung menceritakan rencananya yang akan menghidupi Reina dan kedua anak anaknya itu.
Hingga setengah jam berlalu lamanya, Reina masih menunggu kedatangan Shi. Azam sudah memberi pesan, jika mereka akan merayakan keinginan Shi merayakan hari pernikahan, yang menurut Azam pernikahan itu tidak pernah ada. Bahkan akte cerai sudah selesai diputuskan.
Benar saja, tak lama Shi datang dengan cake sweet! Shi duduk, menatap Azam penuh harapan.
"Happy Anniversary. Untuk kita, terimakasih karena kamu mengundang aku. Aku tahu, kamu pasti ga akan pernah sanggup jauh kan dariku!"
Shi kala itu, duduk manis menyelipkan salah satu rambutnya ke telinga. Bahkan menatap dalam pada Azam dengan penuh harapan.
"Aku kemarin ingin mengatakan sesuatu padamu! tolong jangan sentuh Reina dan kedua anak anaknya. Yang sudah pasti, dia adalah anak anakku. Bahkan pernikahan kita bukanlah sehat, kita menikah hanya status tanpa satu kamar meski satu rumah bukan. Berpura pura baik, layaknya suami istri pada umumnya. Apa kamu tidak capek, setelah lima tahun, bertingkah seperti ini terus?"
"Azam, apa maksud kamu?"
"Sudahi! ini semua sandiwara keluarga kita yang ingin pamornya naik. Pernikahan bisnis tetap akan ada masanya, jika bisnis keluarga bangkrut. Apa kita akan tetap bertahan? kita tidak saling cinta, berpura pura manis di depan klien dan pesaing bisnis. Terlihat kamera hanya karena ayahmu! orang penting di pemerintahan. Ayolah Shi! kamu berhak bahagia, aku bisa rekomendasi rumah sakit terbaik di amerika, perancis atau negara yang kamu inginkan."
"Aku nggak suka kamu menyentuh wanita lain Azam! Sudah cukup aku bersabar saat kamu tidur dengan para wanita diluar sana selama ini! aku depresi, khawatir karena kamu terus menuntutku mempunyai anak. Sementara kamu bicara masalah ini terus soal penyakitku terus, dengan mudah. Aku harus hampiri wanita itu, aku tidak suka dia." teriak Shi.
"Aku bisa membunuhmu mu, tidak peduli kamu anak satu satunya orang pemerintah Shi! aku punya bukti kuat, selama lima tahun aku tidak bodoh. Jika aku bocorkan ayahmu mempunyai anak hiv! dan rekaman medis yang pahit, club dimana kamu bermain dengan para pria bau kencur itu! bukankah akan di copot dari jabatannya! lalu kamu, akan dibuang? sama hal seperti Reina saat ini alami, karena ulah kamu kan?"
Shi tidak suka, Azam menyalahkannya. Lagi pula kehancuran keluarga Reina benar benar campur tangan ibu Azam juga.
Helaan napas santai terdengar dari Azam. Ia menyandarkan punggung dan menggenggam satu tangan Sho. “Bukankah kamu sudah tahu resikonya kalau kita hanya casing dalam pernikahan ini?"
“I-itu….”
“Aku sudah meminta padamu berulang kali, Shi, aku hargai kamu karena kamu wanita. Tapi aku bisa memaklumi kita bisa jadi keluarga. Jadi please, jangan rewel. Aku mengerti penyakitmu saat ini, tapi setelah aku tahu semuanya, aku sudah resmi menceraikan mu. Jangan sentuh dia, jika terjadi sesuatu padanya. Aku tidak akan sungkan. Karena aku kehilangan banyak waktu untuk menunggu semua ini!" ujar Azam.
"Honey, kamu berani menceraikan ku? perceraian akte ini tidak sah bagiku." ungkap Shi, dengan hati pedih. Ia menjedotkan keningnya ke tembok berkali kali, lalu Azam memberikan obat agar Shi tidak mengamuk.
__ADS_1
Hati Shi begitu perih, karena kehadiran Reina ia telah bercerai dari Azam.
Hari ini, bagai disambar petir. Istri seorang ceo, dan pilot tertinggi harus mengetahui pengakuan dirinya di cerai. Namun ia tak bisa berbuat apapun, lalu ia hanya terus minum obat. Tangannya mencengkram hebat, mengepal dengan amarah.
'Aku pastikan, wanita itu akan menyesal. Karena telah merebut kamu Azam.' batin Shi meluapkan emosinya dalam hati.
Namun Azam kembali datang! menghampiri meja Shi yang sudah ada disana pesanan makanan kesukaan Shi.
"Jangan lupa dimakan! Bill, sudah terbayar. Shi, meski Reina tidak hadir pun saat ini. Jangan melupakan perjanjian mu setelah lima tahun, kita bisa bercerai. Aku akan berusaha mendapatkan 60 % warisan milikmu yang diambil oleh papamu! aku tahu, tapi setelah semua keluarga tahu. Aku tidak akan pernah berdiri pada perusahaan milik keluargamu. Aku akan berbisnis tentunya dengan orang yang aku cintai dari jerih ku sendiri."
Bisikan Azam, membuat Shi tidak percaya. Bisa bisanya, pria tampan dan baik seperti Azam jatuh hati pada Reina yang hanya anak orang miskin. Awalnya memang mereka pernah berjanji, tapi itu hanya lelucon Shi agar bisa menaklukan hati Azam, tetap menjadi miliknya seutuhnya.
'Mama Jing, mertuaku itu harus bertanggung jawab. Setidaknya, dia harus ikut campur untuk membalas dendam ku pada wanita bernama Reina. Azam tidak boleh jadi miliknya.' seringai batin Shi penuh kelicikan.
Sementara Di Berbeda Tempat.
"Bunda .." tambah Bima dengan tampan senyuman mempesona. Sudah pasti membuat ibu mana yang tidak meleleh melihat senyuman anak laki lakinya itu. Kala Reina menjemput kedua anaknya di sekolah.
"Let's go! .. Back Home?" manis Reina memeluk dengan posisi sedikit jongkok.
"Bunda, kayaknya panas panas gini enak deh yang seger seger." bisik Bima, seolah melirik ke arah lain.
"Eh! kakak nih, iya deh bunda. Itu loh, yang ada manis manis coklat, strawberry. Bentuknya kerucut terbalik bunda?" tambah Kanya.
"Wow, apakah kalian sedang bernego pada Bunda?"
Kedua anak anak Reina senyum malu, lalu sesaat mereka melihat seorang paman dibelakang ibunya, terlihat membawa buntalan bunga dan satu lagi empat es krim cornello.
"Anak manis? maafkan paman Azam terlambat, kemarin katanya kalian suka sama mainannya ya. Sekarang! paman janji, saat ini kita makan es krim bersama, sebelum pulang ke rumah mau?"
__ADS_1
"Mau .. paman. Makasih ya! bunda, bolehkan kita terima es krimnya?"
"Hah! bo-boleh sayang. Ayo kita ke bangku taman itu!" unjuk Reina, gugup.
Azam saat itu ikut berjongkok! tanpa melihat Reina, yang saat itu terkejut. Sejak kapan kedua anak anaknya dekat dengan Azam. Apakah selama ia di rumah mereka diam diam bertemu? ah tidak mungkin. Azam sendiri menoleh ke arah Reina, dan berbisik manis.
"Kamu kaget, apa kamu tidak tahu. Aku menitipkan nomor telepon, pada mainan saat itu di paket. Sudah beberapa malam ini, hampir satu minggu aku bertemu ke rumahmu. Kita saling telepon, video call seperti teman baik, ayo. Anak anak kita sudah menunggu!" bisik Azam.
"A-apa. Anak - anak kita..?"
Hey! ingin sekali Reina berteriak kasar pada Azam, kenapa sudah besar ia mengakuinya. Tapi tak sampai hati Reina berkata kasar, sehingga Azam yang membuka es krim pada kedua anak genius itu. Ikut membuka salah satunya, dan ia berikan pada Reina.
"Untukmu! ayo, agar terkejut mu itu rileks lagi." senyum Azam, di timpali Bima dan Kanya, yang melihat wajah ibunya sedikit pucat. Kala paman Azam menyodorkan es krim yang telah dibuka setengah.
"Ayo bunda Terima. Kita makan dulu!" ucap Kanya.
"Ka- .." Reina akhirnya senyum, tak jadi marah kala Azam melirik kode agar terlihat baik baik saja.
"Ayo bunda. Duduk disini, dekat Kanya!"
"Paman, dekat Bima aja. Kita duduk berempat." ujar Bima, yang sudah belepotan makan es krim.
"Enak ya bunda, Bima suka deh. Apa seperti ini rasanya duduk sama bunda dan Ayah?"
Deg.
Terdiam Reina, hatinya benar benar hancur setelah anaknya mencurahkan isi hatinya.
TBC.
__ADS_1