
"Ren, aku salut sama kamu bisa sekuat ini membuka usaha, setiap tanganmu membuat apapun. Pasti ramai." ujar Diva.
"Hanya beruntung saja sih, mungkin karena rejeki Bima dan Kanya. Aku bisa sampai saat ini bertahan. Yang jelas, kamu buat aku cemas. Kamu harus cerita, kenapa bisa kamu sampai di anggap te-ro-ris."
"Iya. Makasih kamu udah cemas, yang jelas karena pasport aku dicuri. Aku di tinggal rekan kerjaku, dia ambil uang semua identitas aku. Tapi aku makasih loh, kamu cemas seperti ini. Gimana kalau aku lamar kamu jadi suami dan jadi ayah dari anak anak kamu, anak anak aku juga kan."
Deg.
"Diva, jangan bercanda terus. Nanti adonan aku gosong. Aku ke depan dulu ya, antar ini ke bibi." senyum Reina saat itu juga.
Sementara Diva hanya senyum, renyah tawa pipi lesungnya, memikirkan cara yang tepat untuk membuat Reina menerima dirinya yang cinta dan serius pada Reina. Selama ini, bahkan Diva selalu tulus dan berharap, Reina mengerti perasaannya bukan karena pura pura, dan dianggap bercandaan.
Sementara Reina, yang masih menata kue ke dalam wadah, masih memikirkan ucapan Diva barusan, bahkan Reina sadar ucapan serius dan bercandaan sahabatnya itu.
Hanya saja dalam ikatan pertemanan dirinya dengan Diva. Reina mengenal keluarga Diva yang terkenal baik, namun tetap saja ibu Diva pernah bercerita, jika Diva menyukai seseorang, segera Reina memberitahu ibunya. Karena saat itu amanat ibu Diva adalah ingin mempunyai menantu yang tidak punya masa lalu kelam pada pernikahan, atau hidup sebelumnya berkelit rumit, bahkan jauh keinginan seorang ibu ingin mendapat menantu yang baik, yang bisa bersanding pada putranya.
Jadi Reina tetap selalu menganggap Diva, sebagai sahabatnya. Karena Reina tidak ingin ibu Diva berubah, jika seorang sahabat anaknya sendiri, berubah menjadi menantu dengan membawa kedua anak yang lahir di luar nikah.
'Jika aku menerima ungkapan hatimu Div, aku tidak yakin kita akan bersama. Masih banyak gadis di luar sana yang sudah pasti baik untukmu. Aku hanya wanita yang punya masa lalu kelam, kemanapun kamu membahagiakan aku, tapi aku mengutamakan kebahagiaan anak anakku.' batin Reina, saat itu masih mengadoni kue, di masukan ke dalam oven.
Reina sendiri kembali, mencoba menata beberapa kue, ke dalam etalase. Sehingga beberapa pembeli mulai berdatangan, akan tetapi kala pelanggan meminta dilayani oleh pria manis berlesung itu, membuat Reina senyum senyum menatap Diva yang tampak kaku.
"Wah, kemarin mas pilot. Karyawan barunya ganti lagi Ren, ibu mau pesan kue kering 5 toples, terus minta dibuatin hampers ya. Bolehkan Rein, sama si cowo manis itu." ujar bu Risa.
"Karyawan manis, oh. Dia .. ah! bu, bisa aja deh. Namanya Diva, coba ya Reina tanya, mau ga dia."
"Mau dong pastinya, tar bu wa ini di group. Biar pada beli kue kamu yang super enak, bahkan karyawan cowo nya ganteng ganteng bikin ga bosen di liat."
Reina menoleh pada Diva, yang disana pria itu sudah melingkarkan dua mata memutar, dengan ledekan simbol mata pasrah.
'Demi kamu Ren, aku akan layani ibu ibu yang beli.' bisik nya ke telinga Reina.
__ADS_1
"Hahaha, makasih ya Div. Biar laris, habis ibu ibu kalau udah liat yang manis dan bening, seperti itulah aku yang jualnya dilupakan." tambah Reina, membuat Diva mengucap sabar.
"Duh, itu sih komplek ibu ibunya aja yang genit, kalau ketauan suaminya. Bisa habis aku Ren." menoleh Diva, membuat Reina tertawa. Saat Diva, dikerumuni ibu ibu yang berdatangan datang berkerumun membeli kue.
Namun Di Tempat Lain.
Reina kedatangan ibu paruh baya, yang membuat mata Reina celos begitu saja, menatap duduk di taman meja. Hal itu membuat Reina jauh dari pandangan Diva dan kerumunan bibi Ros, yang saat itu Reina menghampiri ibu paruh baya, agar tidak memancing keributan dan suara yang keras.
"Bu Jing, anda bisa sampai kemari?"
"Ini kedatangan saya kedua kalinya ya Ren. Kamu tidak mau kan, usaha keluargamu ibu hancurkan seperti dahulu."
"Maaf, mengurangi rasa hormat saya ya bu! bahkan saat ini saya tidak tahu, keberadaan keluarga saya dimana. Lalu bisa bisanya ibu mengancam lagi, jika ibu ingin putra ibu menjauhi saya. Kenapa harus menekan saya, yang saya sendiri tidak pernah mendekati Azam."
Beranjak Reina saat itu juga, membuat Jing kesal dan kembali mengancam.
"Kamu akan tahu akibatnya, jika kamu sampai menemui putra saya, saya tidak segan mencelakai kedua anak anakmu."
Deg.
"Silahkan saja bu! semoga ucapan anda tidak terbalik, jika putra anda yang anda banggakan menyelamatkan pamor keluarga, kembali disakiti orang lain, bahkan mungkin orang terdekat ibu sendiri. Jadi saya harap! ibu pergi dari kediaman saya, semoga ucapan itu tidak berbalik pada anda." seringai Reina, yang sebenarnya ia tak kuat melawan orangtua, namun berusaha tegar, agar tidak ditindas.
"Baik, lihat saja kamu bermain denganku."
Reina pun menoleh, lalu me replay suara Jing, dengan ancaman tadi padanya. Hal itu membuat Jing gusar dan meninggalkan kediaman Reina.
[ Ini kedatangan saya kedua kalinya ya Reina. Kamu tidak mau kan, usaha keluargamu ibu hancurkan seperti dahulu. ] pesan suara yang Reina rekam.
"Rekaman pertama, dan terakhir. Bisa jadi bukti jika anak anak saya terjadi sesuatu, bahkan bu Jing bisa lihat di belakang ibu, ada kamera cctv yang bisa menambah bukti." senyum Reina, membuat Jing pergi begitu saja.
"Dasar gadis miskin kamu." ketus Jing kesal pergi.
__ADS_1
Reina kembali pulang, dengan nafas yang tersenggal senggal dan ketakutan. Sebenarnya, rasa sakit Reina dan ketakutannya hampir sama, tapi ia berusaha sekali membuat semua baik baik saja, dan terlihat rumahnya sudah kosong pembeli.
"Ren, kamu dari mana saja?" tanya Diva, yang menunjukan mesin kasirnya banyak rupiah.
"Oh so sweet. Makasih ya Div, bisa sering sering kamu datang ke rumah aku."
"Duh, kamu ini. Eh, lihat itu bus anak anak ya Ren?"
Reina pun tertuju pada pintu bus, yang dimana ada seorang penjaga hormat, lalu Kanya dan Bima sudah berlari ke arahnya.
"Bunda ..." teriak Kanya.
"Bun ..." teriak Bima, yang tidak berlari, melainkan jalan dengan memasukan tangannya ke saku celana, slay santai menuju arah ibunya.
"Duh, anak anak bunda. Kalian pasti capek! ayo masuk, kita ke dalam. Jangan lupa mandi dan ganti pakaian ya."
"Siap bunda."
Kanya dan Bima pun, tak lupa menyapa Om Diva dan tersenyum. Namun siapa sangka ketika Diva ingin pamit, seseorang menghubungi Reina dengan nomor tak di kenal dari phone booknya.
Kring. Kring.
"Kenapa Rein?"
"Nomor ga di kenal, aku ga tahu ini nomor siapa. Kali aja ini nomor penipuan." balasnya.
"Coba angkat Ren, siapa tahu pentingkan!" di anggukan.
Reina menjawab panggilan itu beberapa menit, sehingga teleponnya terjatuh membuat Reina lemas. Diva yang meraih ponsel Reina dan mencoba mendengarkan apakah tersambung, begitu kaget mendengar berita yang tak ingin ia dengar juga.
'Apa, Azam kecelakaan. Dan memberi tahu nomor ini, sebagai nomor istrinya?' lirih Diva, yang saat itu, menatap wajah Reina menggeleng tak percaya.
__ADS_1
TBC.