
"Mil, sebenarnya kenapa ya sama Brian tadi. Kok dia bisa pingsan kaya kesurupan gitu?" tanya Ika.
"Dalam penglihatan nenek, dia diganggu oleh hantu yang sangat jahat. Sepertinya dia dibawa ke alam astral oleh hantu itu tadi, hingga anak muda ini tersesat di alam mereka. Jika dia tidak menemukan jalan keluarnya, berarti dia akan selamanya tersesat dan tak akan kembali lagi," jelas nenek Kari.
"Tapi nek! tadi saya lihat Milen nolongin saya. Di bilang mimpi tapi nyata." ujar Brian pelan.
"Jaga sikap ndok! dimanapun berada hargai setiap perkataan jangan bicara yang kasar!" ucap nenek Kari melipat kain, hal itu membuat Brian menunduk.
Hantu jahat?! Ika semakin bingung. Hingga setelah keadaan membaik, Ika dan teman teman lainnya termasuk Brian pamit pulang. Dan kembali bertemu lagi di kampus. Mereka berpencar seolah kembali biasa saja.
"Pamit ya Nek! kami pamit. Melin, gue pamit ya." ucap bergantian, Ika, Ton, Jat.
"Iya, kalian hati hati dijalan ya!" senyum Milen.
Langkah kaki Brian tak henti. Rerimbun pepohonan mengitarinya. Dia bingung, bagaimana ceritanya dia sudah berada di tempat yang begitu asing. Pikirnya dia hanya bermimpi, tetapi pikirannya itu salah seketika dia menampar pipinya sendiri dan merasakan sakit. Seolah hal yang baru saja ia lihat itu benar atau tidak nyata. Atau hanya kehaluannya saja yang sering membaca komik horor.
"Buset. Rasanya, ajaib! Sakit bat dah," ucap Brian.
Dia terus berjalan, hingga langkah kakinya terhenti di bawah pohon. Ternyata itu adalah pohon asam yang amat besar dan rindang. Karena Brian indigo penakut, sontak dia melihat kerumunan makhluk halus tengah beraktivitas.
Rasa takutnya seketika menjalar dari kaki sampai ke ubun ubun. Kali ini bukan Mbak Kunti atau teman temannya, melainkan banyak jenis makhluk. Ada yang kepalanya buntung, mukanya rusak, matanya kosong, bahkan ada makhluk yang berjalan hanya kaki saja. Semuanya berbau busuk, sebab di masing masing badan mereka menempel belatung yang asyik menggeliat.
__ADS_1
"Argh!" teriak Brian. Kakinya bergetar, tetapi kali ini celananya tak basah.
"Buset dah. Mak, apa ini yang disebut panti asuhan hantu? Pasti pada jadi anak yatim semua nih hantunya." ujar Brian, berteriak mewek menangis dengan langkah seribu.
Hingga Brian telah berada dijalur angkot dan keramaian ia kembali tenang. Tanpa sadar ponselnya hilang tak ia temukan, ketika ingin menghubungi Ika yang tidak langsung pulang. Brian bermaksud ingin menumpang tadinya.
***
Berbeda Dengan Milen.
"Nek, kok penunggu rumah belakang kita, kenapa ganggu Brian?" tanya Milen.
"Mungkin salam kenalan, nenek ga tau. Yang pasti pihak Hantu juga ingin tatakrama dan kesopanan ketika seorang bertamu pada pemilik rumah tuannya. Sehingga sedikit tamparan seperti tadi." jelas nenek Kari dengan entengnya.
Sesaat Milen mengucap kalimat tersebut, satu hantu dengan tangan buntung menghadap ke arah Brian tadi siang. Matanya merah melotot, bibirnya hitam. Seolah Milen berusaha membuka komunikasi pertama yang ia langgar, hanya demi seorang Brian dan menolongnya reflek.
Hantu itu membuka mulutnya dan berteriak, "Tidak sopan!" Dengan suara serak serak basah dan samar samar, membuat semua hantu di situ menatap Brian dengan mata merah melotot. Kecuali hantu yang matanya kosong.
Pasalnya, tatapan Milen lihat sosok itu sangatlah tajam dan menyeramkan. Seperti tatapan beraroma membunuh. Hal itu yang membuat Milen tak ingin lari. Dia takut, jika lari pasti hantu itu akan mengejarnya. Jalan terbaik adalah memegang Brian dan terjadi pingsan agar bisa menghindar dari masalah sosok tadi yang Milen lihat.
Saat itu suasana gelap, seperti malam tetapi siang. Sebab langit begitu tidak pasti. Itu yang membuat Milen merasa asing dengan tempat ini. Rumah kediamannya yang besar, seolah membuat Milen malas bertanya karena sang nenek bicara jika mereka lebih baik tetap tinggal dan tidak pindah rumah.
__ADS_1
"Nek, Milen mau bilang deh. Jadi kemah nanti kita ke pedalaman desa ini. Nenek tau lokasinya gak? terus nenek kali aja tahu, kalau ini berbahaya apa enggak. Soalnya Milen tadi ragu, sempat bilang ke temen Milen ngerasa gak sreg aja."
"Coba sini nenek lihat ndok!"
Tatapan nenek Kari kembali bangkit, membuat Milen kebingungan dan mengikuti sang nenek yang berjalan masuk ke kamarnya.
"Nek! tunggu Milen! kenapa nenek belum jelasin? nenek tahu lokasi ini?" teriak Milen lembut.
"Lupakan saja ndok! itu akan membuat kamu menyesal pergi ke daerah itu. Dan masa depanmu akan lebih sulit jika kamu tidak menerima takdir, dirimu terlahir untuk membantu mereka, dan merasa selalu sendiri adalah hal yang harus kamu terima."
Deg.
Mata Milen kemudian terbuka, ia bermimpi masa lalu itu dan saat terbangun ia kini melihat beberapa orang tersenyum.
"Kamu gak apa apa Mil?"
"Aku kenapa ya mbak?" tanya Milen pada Sri tetangga.
"Kamu udah pingsan lebih dari empat hari, ayo minum!" ujar Sri, hal ini membuat Milen penat. Sebab belum lama sekali ia bermimpi pertemuan dirinya dengan Brian, dan kini ia harus sadar dirinya benar benar tidak sehat, terkait masalah dirinya dengan ams Deva dan wanita bernama Sea.
'Apa aku harus memilih takdirku?' batin Milen bergumam.
__ADS_1
Tbc.