Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Terjadinya Sesuatu


__ADS_3

"Kenapa diam.. ku dengar impianmu menjadi koki atau chef Mil?"


Plang ... Milen meletakkan sendok sayur stainless itu.


"Ya. Benar saja, hanya saja saat itu suamiku tak menyetujuinya. Bahkan mencicipi dan menghargai masakan ku saja tidak. Apalagi sejak melihat banyak arwah, hidupnya tidak pernah bisa memasak dengan tenang."


Tanpa sadar Milen menghela nafas panjang. Membuat Alva Muda yang pura pura itu, tersenyum menatapnya. Sungguh di sayangkan kamu Mil. Bakat terpendammu di tutup oleh suami bejadmu.


"Lusa kita akan fiiting baju pernikahan. Rumah ini, baiklah. Aku akan meminta izin padamu dan papa mertuamu. Aku akan menginap di sini dan memakan masakan indah lezatmu itu. Sayang bukan?"


"Heh. Apa maksudnya. Kita belum sah. Kamu tidak boleh tinggal di sini. Aku tidak ingin!"


"Kenapa. Kita kan sebentar lagi resmi. Apa kamu takut padaku? Kamu tidak mau cepat bersamaku, tidak percaya jika aku itu jodoh yang membuat dirimu tidak pernah melihat apapun atau kesialan apapun, kita itu di takdirkan satu hanya saja berpisah karena keadaan."


"Hah .. Lagi lagi kamu terus saja bicara seperti itu Alva."


Milen memundurkan langkahnya ke tepi kitchen set. Seolah ia takut Alca muda melakukan sesuatu padanya. Hal itu membuat Alva merasa senang menggoda dan menarik bahu Milen padanya, sebab memang Milen akui semenjak Alva Muda di sisinya bayangan hitam yang sering mengekor tidak pernah terlihat atau pun mendekat ke arahnya.


"Jangan seperti ini. Kamu bisa duduk, biar aku masak nasi goreng lagi."


Bruugh.


Tubuh Milen, tiba saja di topang. Tubuhnya membelakangi Alva saat ini. Hal itu membuat tubuhnya berdiri dan mendidih sedikit cemas. Sementara Alva Muda! ia memicik senyuman menggoda.


"Kamu ingin memulainya dari mana sayang?"


"Apa maksudmu. Jangan lakukan semuanya Alva berhentilah!"


Plaaagh. Plaagh.

__ADS_1


Potongan dadu sayuran kala itu terdengar, dan Alva Muda menggenggam tubuh Milen dan menghimpitnya. Meski ada sesuatu hangat di sana. Milen merinding terbawa suasana sehingga ia berpikir meracau. Padahal Alva membantunya memotong sayuran dan membersihkan kacang polong. Tapi kepalanya menempel pada bahu Milen dan amat erat membuat dirinya tidak bisa berkutik.


Kala itu ada rasa senyuman malu. Milen yang masih dalam mode pelukan. Tapi tangan kokoh Alva Muda masih mengajarkannya cara memotong dengan baik.


"Apa kamu lulusan tata boga?"


"Kenapa. Apa kamu takut aku kalahkan, duduklah sekarang!"


Alva Muda meminta Milen duduk. Saat ini gairahnya di pagi hari telah On. Hal itu Milen sadari ketika ia membalikan tubuh. Dan Alva Muda membalikan tubuhnya meminta ia duduk. Milen tahu jika pria sedang On. Ia akan membuat dirinya sibuk.


"Owh. Kasihan sekali, jadi seperti inikah caramu untuk menahan?"


Alva melirik. "Apa maksudmu sayang, kau mencoba menggodaku?"


Plug .., celemek di jatuhkan. Baju kemejanya Alva buka dengan kilat membuat Milen menutup mata, karena Milen tadi sempat menyinggungnya.


"Jangan pernah singgung aku Ya!" bisik Alva.


"Apa yang kamu lakukan?"


"A-aku. Memang apa yang kamu pikirkan. Kamu menggodaku atau menginginkan aku mengeluarkan sesuatu?"


"Bu-bukan begitu Alva. Aku ..."


Jelegeur ...


Kilat dan petir tiba saja membuat suasana takut, dan Milen tak sengaja memeluk Alva sehingga suasana itu semakin dingin. Di tambah angin yang menggelegar membuat suasana semakin redup dan mati lampu.


"Aaakh. Maafin aku, tapi tolong nyalakan lampunya Alva. Aku takut jika seperti ini!"

__ADS_1


Alva hanya bisa mengacak rambutnya. Ia telah salah kaprah berada di tempat Milen. Dengan suasana yang mendukung seperti ini. Apa aku sanggup menahan hasrat saat ini.


Andai tidak, aku sudah memaksa Milen berada di atas sofa.


"Siiiet. Ale!! Andai saja serbuk jahat itu ada saat ini. Sudah ku tuangkan pada sup agar suasana pagi yang mendukung ini lebih begairah." gerutu Alva menutup jendela yang masih terbawa angin.


Sementara Milen masih mode duduk di atas sofa meja televisi. Lampu bergerak gerak membuat mereka semakin seram.


Alva mencoba menyalakan senter dari ponselnya. Tapi cekatan tangan Milen memegang tangannya membuat ia kaget dan memelintirkan halus tubuh wanita yang ia cintai itu.


"Huah..." Mereka berdua terpeleset.


Sehingga tubuh Milen berada dalam genggaman tubuh Alva Muda, yang berada di posisi bawah.


Alva juga menatap dengan deruan nafas yang berat. Hanya satu centi mereka akan saling menempel dan menatap meski suasana gelap. Tapi masih sedikit cahaya untuk menyinari mereka saling menatap.


"A-aku."


Sluuuurph.


Alva tidak tahan dan mencoba menyentuh kening Milen dan dahi. Milen berusaha menolaknya tapi cekatan kokoh tangan Alva gila membuat ia untuk menahan sebentar.


"Tunggu sebentar. Aku tidak bisa menahannya lagi. Bukankah kita?"


"Alva jangan saat ini.. Tapi... Euuumh."


Ranum Milen telah di tempel oleh bibir Alva dengan rakus. Dengan halus semakin deruan bergetar membuat sesuatu terbakar dan saling meremas satu sama lain. Milen yang sudah gila tertahan oleh lincahnya Alva tak bisa berkutik ketika seluruh di apit, di mulai mencengkram bidak punggung Alva yang masih menindihnya. Seolah ingin menghindar tapi tubuhnya semakin erat dan menempel.


Sehingga guncangan kepemilikan itu bertemu meski dalam pembatas kain pakaian. Milen hanya bisa mencoba rileks sesuai instruksi Alva Muda. Maju mundur didalam rongga mulut membuat ia terbawa suasana dan membalas.

__ADS_1


'Hentikan aku mohon, jangan lakukan lebih!' teriak batin Milen yang berusaha mendorong.


TBC.


__ADS_2