
Bayangan Azam, dalam alam bawah sadarnya. Membuat Azam duduk berdiri terpaku, ada hal yang membuat dirinya bersedih, disana, di ujung jembatan ia melihat Reina, bersama kedua anak anaknya semakin jauh.
"Ren.. Reina .. jangan pergi Ren. Reina .." teriakan Azam, saat itu membuka kedua matanya.
Dokter disana pun senyum, memeriksa kedua mata Azam, mengecek suhu dan kesehatan Azam yang saat ini telah pulih.
"Pak Azam, bagaimana apa yang bapak rasakan, apa yang bapak ingat. Mohon jangan dipaksakan ya!"
"Saya sakit apa dok, tapi Ah. Sakit, saya masih lihat sinar mobil hitam menabrak saya, saya lihat wanita itu tapi ah .." Azam memegang kepala.
"Suster, bawakan infus, sediakan suntikan!"
"Baik dokter."
Setelah keadaan Azam di suntik, ia tidak lagi teriak dan merasakan sakit di kepala. Dokter meminta agar pasien tidak mengingat hal buruk, yang terlalu dipaksa. Menyebabkan fatal jika kondisi pasien belum stabil.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" ucap Jing.
"Bu, kondisi pasien belum stabil, saya mohon untuk dijaga. Saya harap! pasien jangan dipaksakan mengingat sesuatu, apalagi soal tekanan kerjaan, sehat itu tidak boleh dipaksa. Apalagi pak Azam baru sadar dari masa siuman. Mohon dijaga hati suasananya semakin baik. Jangan di berikan pertanyaan berat!"
"Baik." lirih Jing kesal.
Dokter pun permisi, membuat Jing memutar cara, jika kondisi anaknya semakin buruk. Bagaimana bisa ia disuruh bekerja, apalagi tekanan pekerjaan yang membuat Jing akan jatuh semakin miskin. Jing bahkan memutar cara, dari segala hal yang mungkin dirinya akan miskin tak mempunyai uang.
"Azam, kamu sudah membaik. Tahukan, mama sudah menjual kalung berlian yang melilit, demi membayar tagihan rumah, dan tagihan rumah sakit. Kamu tahu ..." terhenti Jing
"Eh Eum. Nyonya! saya minta anda keluar, karena jam waktu besuk sudah habis. Kebetulan dokter meminta saya memberi tahu pada ibunya, saya datang sekaligus menjenguk sebentar keadaan Azam. Jika ingin pulih, tolong ingat kata kata dokter barusan!" ujar Heru, datang di waktu yang tepat.
Jing menghela nafas ia senyum dan merapihkan selimut anaknya dengan amat manis. Sehingga kala itu, pergi dari ruangan Azam.
__ADS_1
"Azam, anak mama. Cepatlah sembuh! besok mama akan kembali datang, menjemputmu. Oops .. menjenguk kamu Nak." manis Jing, sementara Azam masih membeku dengan kedua matanya yang terlihat menatap atas langit langit kamar rumah sakit, sulit berkedip membuat Heru mendekat.
Selepas Jing pergi, Heru pun sama mencoba menjenguk dengan manis dan berbicara ringan. Mengingatkan masa mereka yang sering nakal di masa sekolah hingga kuliah, hingga akhirnya Heru masih tetap setia menjadi kacung kepercayaan pak Alva.
"Azam, gue udah kupas apel merah. Di makanlah! sebagai sahabat, gue tahu yang terbaik untuk lo cepat sehat."
Lama Heru berbicara, tapi tetap saja Azam diam bagai mayat hidup. Masih dengan lirih kata kata sebutan nama Reina. Hal itu membuat Heru bingung, sebenarnya bujukan Reina untuk datang ke rumah sakit, masih saja ditolak halus.
***
Reina yang baru saja mendapat video call dari Diva, ia mengatakan dirinya sedang berada di singapore terkait tes pekerjaan dirinya selama dua pekan, hal itu membuat Diva bersedih tak bisa menjenguk Reina dan kedua anak anaknya yang lucu. Reina juga menyemangati, demi kelancaraan karier Diva, Reina merasa baik baik saja, dan bersyukur Diva masih mau memberi kabar untuknya.
"Bunda, aku suka adonan kue kismis. Lucu ada asem asemnya, Kanya suka deh."
"Aneh, kakak dong. Sukanya coklat, karena coklat itu bisa bikin mood naik." ujar Bima, meledek adiknya.
Sementara Reina dan bibi Ros, terlihat senyum senyum, ketika kedua anak anaknya itu selalu berdebat manis dan ramai.
"Iya sayang, kesukaan kedua anak anak bunda itu wajar dan unik. Bebas kok, lagi pula kesukaan itu tidak dipaksa, bunda juga suka Kismis dan Coklat. Jadi kalian pilih salah satunya, tanda kalian adil memilih pilihan kesukaan bunda." gemas Reina, mencubit pipi Bima dan Kanya bergantian.
Sementara itu, saat Reina menata kue ke etalase depan rumahnya. Yang mirip seperti garasi dibuat ruko, ia langsung bergegas menatap sebuah mobil di pagar terbuka sebelah, disana terlihat seseorang berdebat membuat kebisingan sedikit, di samping rumah Reina.
"Kenapa non?"
"Enggak tahu, biar Reina ke depan sebentar ya bi! Reina pengen tahu, ada apa sih disana." ujarnya membuat bibi Ros mengangguk.
Sementara Reina, dengan sandal jepit dan masih memakai celemek, serta rambut yang di untal gulung. Berjalan ke arah lokasi yang kala itu terlihat ingin Reina tahu saat ini, ada apa disana hingga menyebabkan kebisingan.
Sampailah disana, seorang pria yang membuat Reina terdiam gusar dibalik pohon tak terlihat, dan hal itu membuat ia syok mendengarkan apa saja.
__ADS_1
Reina masih dengarkan, Pria itu mengancam dengan kata penekanan, untuk tidak menyentuh dan menggangu ketenangan Reina. Sontak membuat ia gemetar, apa yang baru saja dia dengar, siapa pria yang samar memakai topi penutup wajah.
'Bu Jing, ada apa dengan dia. Kenapa pria itu menarik kasar dan membawanya masuk ke dalam mobil.' syok Reina saat itu, sementara pria disana sudah masuk ke dalam mobil, dan membawa setir mobilnya dengan melaju cepat.
"Non, kenapa?" tanya bibi.
Hah! kaget Reina.
"Enggak bi, i-itu kayaknya orang yang cari alamat salah, udah pergi kok orangnya.' senyum Reina, yang saat itu memasang wajah gugup.
Demi menghilangkan kegugupannya, Reina kembali menata kue, yang kebetulan beberapa warga pembeli berdatangan, sehingga kesibukan Reina dan bibi Ros melayani pembeli.
"Bunda, ini kantong plastiknya!" gemas Bima, usia anak laki laki yang tampan, membuat orang di sekelilingnya menatap takjub, dan gemas.
Tlith!
Reina mengambil ponselnya, di kantong celemek. Di sana terlihat email Heru, yang meminta nanti malam datang menemui Azam di rumah sakit. Perihal tidak ada siapapun yang akan menganggu Reina menjenguk Azam.
[ Bu Reina, saya sudah yakin malam nanti akan aman, bu Reina dapat menjenguk pak Azam dengan jalur vvip. Saya mohon kebaikan bu Reina, pak Azam butuh anda bu! nanti malam akan ada orang yang berjaga dan antar jemput bu Reina. ]
Deg.
Terdiam Reina, ia menutup ponselnya dan segera kembali fokus.
'Apa aku temui saja Azam, nanti malam. Sebenarnya aku juga tidak tega, tapi ..?' batinnya bergumam.
TBC.
Yuks jejak Lagi, biar review aman lancar jaya. Kira kira Reina bakal jenguk atau enggak ya?!
__ADS_1