Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Kasus Bunga


__ADS_3

Melin terdiam sejenak, ia beringsut duduk lalu menundukkan kepalanya. “Kamu tadi ngapain lewat kantor polisi?”


“Yah! Nyari tau siapa yang bisa lihat jasad aku-“ Bunga pun teringat sesuatu.


“Tunggu! aku dikubur hidup-hidup sehabis dibius ya?” Bunga teringat terhadap apa yang ia lihat sebelum ia mati.


Bunga memegang sekujur tubuhnya, lalu terengah-engah mengingat bagaimana sulit dirinya mengambil napas ketika ia sadar dari bius. Saat itu kondisinya musim hujan, tanah terasa lebih padat dan berat karena air bercampur dengan tanah. Ia melihat Sarah tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, walaupun selama dua hari dirinya masih hidup di dalam tanah. Karena mereka berbeda, sama sama telah menjadi arwah tetapi berbeda generasi.


Mendengar hal itu, Melin terkejut. Benarkah satu sekolah, tragedi kecelakaan yang sama. Tapi berbeda waktu, sesama arwah tidak bisa menolong?! benak Melin penat.


Segala jenis hewan yang hidup di tanah mengitari tubuhnya. Bahkan cacing-cacing tanah masuk ke dalam telinganya, ,membuat kepalanya semakin pusing.


“Maafin aku Melin, kamu pasti akan kesulitan,” ujar hantu Bunga menyorot layu Melin yang terlihat sangat kesakitan, memegang tengku lehernya.

__ADS_1


“Maaf Bunga, karena aku dah membuat kamu menginggat lagi kejadian itu.” Melin meminta maaf untuk kedua kalinya.


Bunga terbang melayang keluar dari jendela, ia keluar dari jendela kamar. Bunga lalu berdiri tepat di depan pagar rumah Bunga. Netranya menengok menatap kamar Bunga.


Melin pun fokus, agar ia bisa kembali ke jiwanya yang berada di kantin sekolah, tak jauh dari rumah Bunga.


Bunga pun melayang menyusuri pusat kota, ia ingin meredahkan ingatannya terhadap kematiannya yang menyesakkan. Setidaknya ia dapat melayang ke sembarang arah tanpa menghindar dan menembus siapa pun.


“Seharusnya aku tidak masuk ke sekolah itu, tapi itu juga bagian dari takdirku,” ujar Bunga lesu. Ia menatap langit, tidak ada bintang yang menghiasi. Terlihat seperti hamparan kanvas hitam yang belum diwarnai.


"Bunga, bersabarlah aku akan mengungkap kematian mu, membersihkan namamu! ingat, jangan dendam Bunga!" teriak Melin dan arwah Bunga yang melayang mengangguk senyum.


Melin menatap ke depan setelah puas menatap tangannya yang tembus dari air hujan. Netranya membola kala seseorang berpayung hitam menyorotkan tajam. Tatapan matanya mengintimidasi di tengah kerumunan orang yang berlarian mencari tempat berteduh, diluar kantin. Brian di tempat lain memberikan segelas air minum, agar Melin meminumnya setelah sadar kembali kedunia nyata.

__ADS_1


Petir menggelegar, kilatannya terlihat jelas di belakang pemuda berpayung hitam tersebut. Pemuda tersebut adalah Jeha, ia sedang memasang raut penuh amarah pada Melin, yang sedari tadi memperhatikannya.


"Kenapa? kok diem?" tanya Brian.


"Pria itu, namanya Jeha. Dia dalang, dibalik kematian Bunga. Kita bawa dia diam diam, buat dia ngaku di depan pak Diva. Gue yakin, setelah dia ngaku dan jasad Bunga terlihat, arwahnya bakal tenang ga di bumi ini berkeliaran. Intinya Bunga saat itu masih hidup, tapi Jeha bawa Bunga dan kubur hidup hidup di gorong gorong, dia bawa dua karung tanah buat nimbun jasad Bunga lalu di plaster semen." jelas Milen.


"Astaga, tega banget ya." lirih Brian.


"Ya udah. Tunggu apalagi, kita sergap dia sekarang, Melin."


"Ajak dia kesini, tunjukin foto Bunga. Entah kenapa gue ngerasa hal negatif, jika bukan jasad Bunga aja. Tapi ada aura ungu, yang berarti masa lalu. Apa itu ya? kenapa hantu noni bernama Sara, yang dibilang Bunga juga mendekatinya semasa hidup." ujar Melin.


"Serius, jangan bilang kita mendayung hantu, arwah Bunga, bakal terungkap dua jasad dan dua kematian." bisik Brian, membuat bola mata Melin menatap dalam.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2