
Setibanya di apartemen, Milen masih mencari jawaban di internet. Dan dari semua situs yang ia buka, hampir semua memberikan jawaban yang sama. Dari dalam hatinya, Milen sungguh sangat ingin membantu Brian untuk mewujudkan keinginan terakhir Brian, agar Brian bisa pergi lalu bereinkarnasi, atau sosok qorin nya tidak diterima karena tidak menerima kecelakaan tragis, yang di renggut oleh iblis, sebab bukan waktu mereka mati sesuai takdir kematian aslinya.
Keesokan harinya, Milen pun memutuskan untuk mengunjungi Brian lagi, sebab mas Diva mengabarkan ia akan ke surabaya selama beberapa hari. Milen juga merasa bersalah, sebab ia dulu berjanji untuk selalu mengunjungi Brian. Namun ia tidak bisa menepati janjinya.
Milen pun membawa bunga dan membawa coklat yang banyak. Ia juga membawakan persembahan lainnya. Penampilan Milen yang menawan membuat arwah lainnya juga terpana dan hendak ingin menggoda Milen.
Tidak hanya itu, Milen juga membayar seseorang untuk membersihkan makam Brian agar terlihat rapih dan terurus, setelah meminta membersihkan makan nenek Kari yang ia dahulu kan.
Setelah kuburan Brian bersih, Milen pun meletakkan bunga satu lagi dan menghidupkan dupa di sana. Saat Milen menghidupkan dupa, Brian pun langsung tertarik ke kuburannya.
Melihat kuburannya yang sudah bersih membuat Brian sangat merasa terharu, hingga ia menangis.
Milen yang baru selesai berdoa, langsung menoleh, sebab ia bisa mendengar dengan jelas tangisan Brian.
__ADS_1
"Kenapa, kamu, menangis?" tanya Milen. Ia selalu saja menyaksikan Brian menangis.
"Aku sungguh sangat merasa terharu, setelah sekian lama, hanya kamu yang menghidupkan dupa dan sembahyang di sini," jawab Brian. Mendengar itu membuat Milen iba dan juga semakin merasa bersalah.
Milen pun terdiam, ia merasakan kesedihan yang mendalam. Ingatan wajah Brian sungguh memilukan, karena arwah suaminya tidak ingat kisahnya dan memori hari hari terakhirnya, entah kenapa disini sesak hati Milen ingin sekali mengatakan kejujurannya. Tapi Milen juga tidak ingin terus menerus menolong arwah yang menyebabkan dirinya dan orang terdekatnya mati karena dirinya berteman dengan mereka yang tak kasat mata, sebab yang tak kasat mata hanya ingin memiliki Milen, setelah mereka merasa selalu di bantu sosok manusia yang bisa melihat sebangsanya.
Sementara penjaga makam, salah satunya terlihat aneh. Ketika seorang wanita memintanya membersihkan makam, tetapi berekspresi tidak nyata berbicara pada orang yang tak bisa dilihat banyak orang.
Semakin hari, Milen dan Brian pun semakin dekat. Milen juga sering menyempatkan waktu untuk mengunjungi Brian. Bahkan, Milen mengurangi waktunya dengan mas Diva di saat ia sedang tugas keluar kota, rasanya ngobrol dengan Brian membuatnya merasa nyaman meski ia saja yang tahu, siapa sosok arwah ini.
Saat Milen ingin lanjut bertanya, ponselnya pun berdering.
"Halo Meri .. Kenapa?" ucap Milen.
__ADS_1
"Ibu di mana? Kita ada meeting mendadak!" jawab Meri dengan panik, ia adalah sekertaris di kantor.
"Saya akan segera ke kantor, 20 menit saya sampai," kata Milen.
Milen beruntung, jarak kantornya dengan makam Brian tidak jauh, sehingga ia bisa curi waktu untuk mengunjungi Brian.
"Aku harus pergi. Ada pekerjaan mendadak, besok aku akan datang lagi," ucap Milen berpamitan pada arwah itu.
Setiap Milen pamit pulang, Brian selalu merasa sedih, itu pertanda ia akan sendiri lagi, dan merasa kesepian lagi. Namun Brian tidak ingin melihatkan kesedihannya, ia tidak ingin mengganggu Milen apalagi harus menahan ia yang akan bekerja dalam dunia nyata.
Dan sebenarnya Milen juga tidak tega harus meninggalkan Brian sendiri, namun apa daya, ia juga memiliki kehidupan yang harus ia jalani. Bahkan di saat mas Diva menolong dirinya, seolah dia hanya wanita tidak tahu diri, masih saja mengharapkan sosok arwah suaminya yang sudah bukan lagi manusia.
'Aku harus segera memberitahu mas Diva, jika aku sering kemari karena ada arwah Brian, apakah mas Diva akan percaya atau kecewa setelah aku katakan, tapi jika aku tidak jujur. Aku merasa sakit telah membohongi pria sebaik mas Diva.' batin Milen bergumul.
__ADS_1
Tbc.