Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Dibantu Intel


__ADS_3

Brian siuman dari pingsannya, ia menyadarkan pandangan ke sekitarnya. Ia tidak melihat orang orang lagi, apalagi sosok yang terakhir ia lihat. Hanya Milen, yang setia menungguinya.


Tidak ada luka serius, ataupun patah tulang di sekujur tubuh Brian. Karena setelah kematian roh arwah dan jin menyatu menjadi wujud padat, Brian terpental naik dan dihempaskan ke dasar tanah penuh dedauanan.


Ia berwujud jiwa, efek kerusakan tubuh tidak Brian rasakan. Namun, sakit karena mendapat serangan akan terasa. Ini disebabkan karena serangan yang dilakukan Jin adalah serangan energi yang berpusat untuk merobek ketenangan jiwa. Sama seperti senjata mbak kunti di dapur Milen, yang dulu digunakan seseorang untuk menakut nakuti Brian, yang bersikap tidak baik.


"Akhirnya sadar juga." lirih Milen sedikit tenang.


"Sakit punggung gue kebawah, gue kenapa tadi ya Mil?"


"Udah, kita cepet pulang! masih banyak yang perlu kita siapin buat kembali, nanti aja udah sampai kota gue ceritain." ujar Milen, dan Brian mengangguk, ia nurut kala dibantu berjalan meski tertatih sulit


Wajah Milen yang semula cemas, mulai memudar. Ia menampakkan wajah bersyukur. Karena Brian tak apa apa, dan sosok lidah panjang bau anyir itu seketika hilang, ketika Milen mengucapkan asma Tuhan dan membaca ayat kursi. Meski saat berhadapan, mulut dan bibirnya seolah terkunci, tapi bisa Milen lewati juga.


"Lo duduk! biar gue yang kendarain motornya!" ujar Milen, menyalakan motor gunung itu.


Brian terdiam, ada rasa sakit ketika ia dibonceng oleh Milen. Brian mulai menatap wajah Milen dari spion, terlihat pantulan cahaya menerangi wajah Milen yang semakin bersinar, andai ia tidak sakit punggungnya. Mungkin ia akan memilih bertukar tempat, bahkan membonceng Milen dan memanjakan momen Milen yang sangat natural beautifull.

__ADS_1


'Milen kenapa mirip ka Ima, perhatian dan cantik natural.' batin Brian, senyum tapi mode menahan rasa sakit.


Hingga beberapa saat perjalanan mereka sedikit terhambat, tapi mereka berhasil keluar dari hutan mati, sebab itulah Milen harus membantu sebuah misi para arwah, agar kelak hantu tak lagi datang memunculkan wajah bermacam macam rupa, yang membuat Milen benar benar terganggu bagai orang stres.


PERJALANAN PULANG


Begitu keluar dari hutan, Detektif Jhoy beserta kedua asistennya segera menuju mobil yang terparkir di tepi jalan. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.


"Terimakasih," batin Detektif Jhoy bersyukur.


Ayah Detektif Jhoy adalah seorang detektif di Kota yang sangat mengenal Brian. Dan karena kasus camping banyak tidak terungkap, Brian mampu membuat tim detektif dinilai mampu.


Detektif Jhoy berharap bisa mengembalikan nama baik Ayahnya dengan cara menyelesaikan kasus itu. Oleh karena itu, ia dengan kesadarannya sendiri mengajukan kepada Ketua Diva untuk mengurus kasus pertama, camping dua temuan guru dan siswa hilang tanpa jejak setelah berbulan bulan.


"Bapak, ini gambar yang saya dan teman saya diberikan petunjuk, jika tak percaya tak apa. Tapi percayalah! kasus ini benar benar dari mereka yang tidak terlihat. Kami melihatnya dan Milen teman saya mampu berkomunikasi dengan dilihatkan akhir korban." jelas Brian.


"Kamu yakin? tepat sasaran kan. Tahu jika tidak tepat sasaran?" ujar Jhoy.

__ADS_1


"Paman tidak mudah bagi kami, masuk ke energi mereka. Bagi sebagian orang mungkin dianggap halu dan gila, tapi percayalah aku minta sepuluh ekor ayam hitam berusia satu setengah tahun, kembang 7 rupa dan air mawar segar 10 botol. Tiap pukul tujuh malam, Brian akan ambil!"


"Apa, sebanyak itu .. kau yakin?"


"Paman, percaya atau tidak kami juga lelah. Tapi mereka selalu datang, terlebih Milen teman saya sudah sangat letih, energinya terserap oleh mereka yang semasa hidupnya kurang beruntung." jelas Milen, membuat Jhoy segera mengambil pena, dan tanda tangan.


"Ok! kami segera ke lokasi, dan permintaan kalian saya acc." ujar kepala tim SAR.


Tidak sedikit pula anggota kepolisian yang awalnya meremehkan Milen dan Brian, kini mungkin tertarik, meminta dua mahasiswa siswi ini untuk membantu kasus lainnya.


"Kalau begitu kami pamit pak!" ucap Brian, kepada paman Jhoy.


Di luar, Brian berusaha menghidupkan motor. Brian yang memakai helm, terkejut kala anggota kepolisian meminta waktunya sebentar.


"Dek Brian! begini, bisa ke kantor sekarang? kepala kepolisian kami yang memintanya langsung." ujar pak Diva.


Melin dan Brian saling menatap, mau menolak mereka anggota pihak berwajib. Hanya saja dipikiran Milen, beberapa anggota pasti kembali menyebutkan gila dan halu, padahal jelas jelas Milen sudah tidak sanggup untuk menghadapi para arwah yang datang padanya dengan seram dan menyakitkan yang membuat daya energi Milen semakin lemas.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2