
"Kau masuk perangkapku Diva. Dengan begitu kau akan mudah menunduk padaku. Ketika bersama Melin, aku akan mengancam. Jika tidak ku sebar video ini pada istrimu dan klien besar akan membuatmu tercengang siapa dirimu sebenarnya. Hahaha."
Sea tak peduli, dalam hotel itu hanya mereka. Diva dalam pengaruh obat ia melakukan tanpa akhir. Hal yang membuat Sea tertarik adalah, Diva begitu sempurna dalam hal bergairah. Tampan dan kaya, ia tak peduli masa lalu Diva. Ia harus mewujudkan hanya dirinya yang berhak mendapatkan suami perfect.
"Melin aku minta maaf. Aku mencintai suami kamu lebih tepatnya, mantan suami masa lalu kamu. Kamu memulainya dariku. Kita akan lihat siapa yang bertahan?" cibir Sea.
"Aaauuuw. Mas pelan pelan, aku kesakitan!"
Sea mulai terpedaya. Hampir pagi mereka bermalam habiskan. Tak melupakan momen adegan mereka pun di rekam, untuk meminta Melin segera melepasnya. Menatap Diva yang telah tertidur pulas pengaruh obat dalam minuman, membuat Sea semakin tak peduli.
"Diva. Kamu memulai perang dariku, sebelum kau mengancam. Aku lebih dulu yang akan mengancam dan membuat kartu As mu!"
Sea berlalu meninggalkan hotel. Ia pergi menuju bandara. Sementara di loby bawah, terlihat jelas pengawal bodoh yang masih setia menunggu tuannya.
"Dasar supir bodoh. Tuanmu sedang tidur karena puas, mungkin masih beberapa jam dia akan sadar dan bangun." gumam Sea dengan tersenyum jahat sedikit miring.
Sementara Melin yang menunggu di ruang tamu, dikediaman Mama May, yang menjenguk kedua anaknya. Ia menatap ponsel tak ada balasan atau pesan apapun dari Diva. Itu sebabnya ia meminta anak anak tidur lebih dulu dan membuat alibi.
__ADS_1
"Nak. Jangan sedih ya, Ayah sedang ada urusan penting yang enggak bisa ditinggalkan. Kalian tidur dulu, kita ganti hari lain. Bunda dan Ayah masih menemani kalian beberapa pekan."
Rey dan Rena pun mengangguk. Ia amat sedikit kecewa sehingga Melin saat itu menemaninya sampai terlelap.
Sementara Diva di dalam hotel, ia tersamar bangun. Ia memukul kepalanya dengan berat. Menatap pakaian yang tak ada di tubuhnya. Ia segera berlalu dan meminta seorang pengawal membelikan baju ukurannya. Hal ini membuat Diva tak mengingat apa yang terjadi beberapa jam lalu.
"Siapkan. Cari tau apa yang terjadi, minta duplikat cctv apa yang terjadi. Ingat bungkam, jangan melihatnya sebelum aku melihatnya. Mengerti!"
"Ebi pun menuruti. Ia lalu menyetir kembali hingga sampai tujuan di mansion."
"Mas. Kamu sudah pulang. Aku tertidur maaf?"
"Sayang. Tidurlah di kamar, ruang sofa tamu tidak aman untukmu!"
Masih dalam mode pelukan dalam gendongan ala Bride. Melin merasa nyaman, ia merangkul leher maskulin sang suami. Mengecup ranum manis sang suami dengan kilat.
Tapi ia terhenti saat penciumannya samar seperti ada yang aneh.
__ADS_1
"Mas. Kenapa bau parfum yang tak asing. Lalu kenapa baju mu ganti?"
Diva terdiam, ia menatap Melin dengan bingung. Lalu dengan asal ia menjawab dan mengelus pipi Melin yang manis setelah meletakkan tubuhnya di kasur empuk.
"Mas. Kamu mengkhianati ku lagi?"
Tidaaaak ... Diva terbangun, ia mengusap keringat di keningnya. Hal yang tak bisa ia lupakan adalah merasa bersalah. Sehingga ia selalu saja mimpi dan dejavu akan sikapnya pada Melin istri berlian yang ia khianati.
"Sayang. Maafkan Mas membuatmu kecewa lagi. Mas harus berbuat apa agar kamu tahu, Mas hanya membutuhkan dan mencintaimu."
"Tetap saja, sepertinya rencana aku mengulur waktu, akan menjadi kenyataan. Kamu tidak bisa melepas Sea." lirih Melin dengan sakit hati.
Di satu sudut. Melin kembali menatap laptop saat mengirim email. Tetapi tiba saja ia tersedak dan mengambil sebilah gelas berisi air putih. Entah ada hal apa setelah ia minum habis air di gelas kaca itu. Ia teringat akan perkataan Sea dan rindu pada Diva.
"Mas. Aku rindu padamu, apa kamu merasakannya?" batin Luna menatap album foto pernikahan. Tapi ia ingat video yang dikirim oleh Sea, sehingga ia tutup album foto pernikahannya.
Dan Melin telah hilang kesabaran, waktu demi waktu untuk mencabut gugatan. Ia putuskan, kala kedua anak anaknya terlelap. Melin bergegas pulang ke kostan elitenya.
'Sepertinya aku harus pikirkan lagi, kita tak bisa bersatu mas.' deru batin Melin yang tadinya ingin mencabut gugatan pada mas Diva, namun tak bisa bersatu karena Diva kembali khianat.
__ADS_1
TBC.