
"Skripsi kalian akan bapak setujui! asalkan kalian bisa temui mayat pak Kola." jelas pak Brody.
"Astagfirullah pak! apa urusan skripsi kami dengan hilangnya pak Kola. Tim polisi kan sedang mencari terus, meski tim sar diberhentikan, tapi pencarian dilanjutkan." ujar Brian.
"Karena dia adik kandung saya! satu lagi yang rekomendasi tempat itu kamu kan Brian?!Jangan berlaga lupa kamu itu! dan Milen, kamu juga dalang dari hal mistis rumor anak dukun kan?"
Milen menelan saliva, ia menahan sabar. Jika di depannya bukan dosen, skripsi hasilnya sudah di lolos, mungkin akan Milen siram dengan air kopi tepat di samping pak Brody. Tapi Milen masih tidak hilang akal, ia masih punya batas kesabaran yang tidak tahu sampai masa akan meledak.
"Terimakasih pak! kami pasti akan menemukannya! tapi janji bapak, bertemu pak Kola, kasus selesai saya minta lolos tidak di persulit!" ujar Milen dan pamit.
"Of course!" senyum Brody si dosen yang picik.
Brin termangu, lalu ikut pamit juga dan bicara pada Milen apa yang ia lakukan tadi. Bukan tanpa alasan masuk akal. Brian menarik tangan Milen dan kini saling menatap.
"Lo janji sama pa Brody? kita cari gimana, ga mungkin kita lakuin ke tempat itu lagi Milen. Why, kenapa lo buat ide kaya gini sepihak?"
"Trus, mau sampai kapan kita belum di lolosin. Sementara anak anak lainnya udah clear! gue mau cepet cari nenek gue Brian! gue mau susul nenek gue, gue takut dia tersesat. Please lo ngertiiin gue!" pecah tangis Milen.
"Ok I'm sorry! terus kita mau coba cari gimana, gue ikut lo sesuai janji gue ..."
"Bloody Mary, kali ini gue aja yang lakuin. Lo pantau sekitar jangan terlepas atau terpental. Biar di antara kita ga ada korban jiwa lagi." cetus Milen, membuat Brian terdiam pucat.
Tak lama Milen kembali bertemu sosok arwah anak kecil itu lagi, bukan tanpa alasan Milen tak ingin membuat Brian panik. Ia berjalan santai dan diam fokus sebentar saja untuk mengalihkan pikirannya.
Dia, anak kecil dengan tubuh yang mengerikan, akhirnya menghilang dari pandangan. Milen saat itu, sangat melegakan hati yang terus berlari ketakutan dengan bergetar tiada henti. Tapi ketakutanku setiap hari tidak bisa aku atasi lagi. Aku semakin menjadi orang yang jauh dari normal.
"Ok, besok malam ke rumah gue. Gue minta lo hubungi dan ini, tanda arwah anak kecil itu yang kasih tahu. Katanya kalau lo kasih tahu polisi, dia pasti percaya."
"Ok, gue paham. Lo pulang hati hati, gue nyusul ke rumah lo kalau kasus arwah anak itu kelar. Ga apa apakan?"
"Gue ga apa, thanks lo udah care sama gue Brian."
"Kembali, sama gue juga." senyum Brian, yang mengantar Milen menyambung lewat taksi.
***
Ke esokan paginya, perasaan Milen benar benar kacau. Milen tidak bisa tidur nyenyak, lengan Milen nyeri, dan kepalanya juga amat sakit. Perasaan Milen semakin kacau dengan apa yang di alami beberapa hari ini.
__ADS_1
Setiap Milen membuka mata, dimanapun ia berada, semua menunjukkan dirinya dengan berbagai macam wujud menyeramkan.
Sangat bosan sekali berada di kamar Milen saat ini, apalagi setiap hari lamanya. Milen menjalani kegiatan scholl di rumah, karena pasti akan sangat mahal dan menjenuhkan buatku selama tak ada nenek Kari di sampingku, terlebih menunggu kelolosan skripsi yang tak usai selesai, terus ditolak dengan alasan tak masuk akal menyalahkannya.
Ku buka lemari dan segera ku ambil seragam kemeja yang sudah berbulan bulan berada di dalam almari dengan rapi. Kujalani aktifitas ku saat ini dengan bekerja freelance di kasir swalayan grosiran.
Hingga saat itu aku mendatangi rumah sepupu Brian yang kebetulan terletak di tengah pemakaman kampungku, setelah pulang bekerja.
Dia sangat berani dan tentunya sudah biasa baginya untuk menghadapi kejadian aneh di rumahnya setiap hari. Milen selepas pulang bekerja, ia menanyakan keadaan Brian yang sudah dua hari tak kunjung datang menemuinya, bahkan ponselnya saja tidak aktif.
'Cccch! kemana sih Brian ini, udah aku pesan kok ga ada kabarnya lagi tuh anak, sebenarnya dia jadi mau cari kebenaran pak Kola di hutan, atau pasrah skripsi ga lolos begitu aja.' batin Milen berderu.
Tak lama saat Milen kembali mencoba memencet layar ponselnya, tiba saja tabrakan arwah penasaran yang tidak orang lihat menyentuh bahunya kasar.
Milen menoleh, kala ponselnya jatuh setelah ia ambil, dan benar saja wajah penuh sayatan melebarkan senyuman dan menangis didepannya hanya sejengkal lima centi.
"Ya allah! makluk apa lagi yang kau ciptakan sih, kenapa aku terus saja tidak tenang." lirihnya menutup mata, tapi perlahan membuka sedikit demi sedikit.
'Tolong aku! ikuti aku, namamu Milen kan? aku mohon ikuti aku!' ucap Arwah itu seolah membuat kode pesan.
Milen pagi seperti biasa, ia akan bekerja sampai pukul satu siang. Setelahnya ia kembali menemui rumah Brian, bermaksud menanyakan keadaanya akhir akhir ini yang ponselnya tidak aktif.
Sampailah ia di depan rumah Brian! sorot matanya tergugah melihat sebelah rumah tak jauh, banyak kerumunan yang membuat mata Milen mendelik. Sosok arwah tua itu berjalan bagai orang rapuh tatapan kosong, wajahnya hanya menampilkan pucat dan sedikit gosong tidak menyeramkan, seperti arwah lain yang terjadi kecelakaan.
Sosok itu melewatinya tanpa memperdulikan wajah Milen yang melihat pria tua itu.
"Woy, liat apa Mil?"
Kaget Milen, "Lo kemana aja? ponsel lo ga aktif?"
"Duh bestie gue, keren dah! hape gue rusak, lagi di service. Sehabis nyerahin bukti arwah anak kecil itu. Polisi minta ketemu sama lo nanti, semua kasus selesai dan keren deh! gue liat banget arwah anak itu di kantor polisi ngelambai tangan kaya salam perpisahan gitu. Lucu kan?"
"Ah syukurlah! gue kira ada apaan. Panik gue berlebihan rupanya. Trus itu siapa yang meninggal, Brian?"
Mile terus memandang semua gerumulan orang yang melakukan pemakaman di bawah rumah temanku, yang hanya berjarak beberapa meter dari tembok rumahnya.
"Tetanggaku tuh di depan sana. Bapak tua itu. Entahlah dia tiba tiba saja meninggal. Kenapa emangnya mau lihat hantu. Hhhhiiiiiii...." Brian sambil menakutiku dengan memperlihatkan wajah jeleknya.
__ADS_1
"Jelek banget kamu Brian, malah lebih serem dari pada hantu." Ledeknya dan sedikit tersenyum.
Tetapi pandangan Milen yang terus berarah ke pemakaman membuatku sangat bergetar. Mulailah kembali mata batin melakukan aksinya.
Yah, dia alias arwah itu tidak menyadari jika dirinya sudah pergi dari dunia. Sambil mengamati pemakamannya sendiri, dia hanya berdiri memandangnya. Hingga angin kencang itu datang.
Entahlah pandanganku seakan ada yang menghalanginya, hingga aku tidak bisa membuka kedua mataku ini.
"Mil, ngapain sih kamu. Geleng geleng sendiri." Brian mengejutkanku dengan membawa kue bikinannya, yang terbuat dari tape dowosa super manis.
"Eh, Brian makasih ya. Enak banget sih kue ini."
Sebelum aku makan secuil kue tape ke dalam mulutku, mereka semua sudah tidak ada di pemakaman.
"Eh tunggu! Kemana mereka semua, kok ga ada ya?"
"Milen makan aja sih!"
"Kemana mereka semua itu, Brian?"
"Ya pulang, uda dari tadi. Kamu itu kemana aja. Di sini kok malah ga tau."
"Pulang? Kok cepet amat sih, aku perasaan cuman memejamkan mataku ini hanya beberapa detik saja."
"Eh, mulai deh komunikasi lagi?" tanya Brian duduk di depan terasnya.
Segera kuangkat tubuhku dan melihat sekeliling makam yang memang sudah sangat sepi. Tapi, dimana dia laki laki itu?
Milen memejamkan mata, dan Brian kali ini memberi ruang, ia yang insting gaib pun sedikit tak bisa melihat jika arwah itu tak memperlihatkan di depan matanya.
"Eh, Milen. Tahu ga, kalau kata Jae itu, seseorang habis dimakamkan, pasti tanahnya bergetar. Trus ada suara teriakan gitu kalau telinga kita tempelkan di tanah yang masih basah itu." Brian mendekatiku dan bercerita dengan sangat serius sambil memberiku tatapan tajam.
"Apa? Kamu memang sudah pernah lihat, Brian?" tanyaku heran dan kembali memandang makam yang masih segar itu.
Jaet yang di ceritakan Brian, dengan mengejutkan datang menghampiri makam itu.
TBC.
__ADS_1