
Melin pun pulang ke rumah, alhasil ia menyendiri di kamar. Membuka kotak bloody marry, yang seakan dirinya sedih karena pernah jatuh cinta, ia ingin mengenang masa masa indah sebelum ia jatuh hati pada Diva, dan Melin merasa ingin mencoba memanggil arwah Brian, sebab dengan ia kembali terbuka.
Mungkin sosok dirinya akan kembali dingin tak lagi jatuh cinta, dan itu lebih baik baginya ketimbang ia berteman dengan manusia yang amat curang.
Dan kali ini Melin melepas jiwa dan raganya dalam permainan, ia kembali pada satu tempat 8 tahun lalu saat ia berusia masih muda dan Melin ingin ada di waktu itu, bukan dimasa ini yang menyakitkan ia sendirian.
Wuush ..
Sinar jiwa dan Raga Melin kembali pada 8 tahun lalu.
Di sebuah gedung mewah, tepat di ruang loby itu tiga anak muda terlihat sedang duduk beralaskan karpet. Buku-buku pelajaran terbuka, sementara remah remah makanan ringan berceceran di atas meja.
Satu wanita cantik bernama ika teman lamanya terlihat, ia dengan rambut sebahu tak luput pandangannya dari layar laptop. Jarinya begitu lihai menari di atas keyboard. Sementara dua pria tengah asyik terkekeh, sembari mata mereka tertuju pada komik agak tebal bertema melawan Hantu. Ia adalah Brian dan Jun.
"Woy! Kalian ke sini mau kerja tugas apa cuma numpang duduk doang, hah?" Wanita cantik berambut sebahu menyela keasyikan dua pria yang duduk sekitar dua meter darinya.
"Yaelah, Sis! Nanggung nih. Ye 'kan, Brian? Si Brian aja yang baru baca komiknya udah ketagihan. Lagian dikit lagi keknya si hantunya bakal nongol." Pria tampan berbadan ideal dengan rambut belah tengah menawar sedikit lagi pada temannya demi mendapat bela.
Brian pria itu kerap dipanggil teman lain yang tidak menyukai Melin sejak saat itu, dan pertama kalinya.
"I-iya, ika. La-lagi asyik, nih. Co-coba kamu baca." Satu pria berbadan agak gemuk dengan rambut agak botak sekitar setengah sentimeter, membenarkan perkataan Jaet. Dia adalah, pria linglung dan sedikit gagap. Mereka kerap memanggilnya Ton.
"Terserah lu dah. Ini juga gue udah selesai, mau cari Melin dulu, dia kan jadi anggota kita nanti kemah." ucap wanita yang kerap dipanggil ika.
"Hati hati loh, Ka. Kemarin si Brian liat penampakan di pohon belakang kampus kita. Baik baik kalau cari Melin disana, dia suka duduk di pohon mulu. Angker tuh pohon." ujar Jat.
__ADS_1
"Yaelah. Ganteng doang, ngelihat hantu depan gang. Gue dong, kemarin ngelihat Mbak Kunti gelantungan di pohon asam dekat kampus kita," ucap Brian.
"Y-yeee. Me-mentang-mentang cowo indigo. Li-lihat hantu sembarangan!" Ton memotong.
"Baru ngelihat, dimarahin. Ngajak marahin?!" ujar Brian.
"Hey kok malah adu tagline iklan sih? Terus, lu apain tuh kunti? Lu ajakin enak enak yah, hayo? Astaga, Brian kamu berdosa banget!" Ika berucap setelah meneguk jus jeruk yang ada di meja, milik Brian.
"Lah, berdosa? Kamu tuh yang berdosa. Gile lu yah? Nggak lah. Gue lari sekencang kencangnya dong. Celana gue hampir basah anjay!" Kening Brian mengerut, setelah Ika mengucapkan hal itu.
"Yaelah. Indigo penakut, lihat kunti malah ngompol."
"Bukan gitu coy! Sumpah, gue tuh paling anti sama hantu tau kagak. Parahnya gue terlahir sebagai liat kaya gitu. Lu pasti tau rasanya, disaat lu phobia ketinggian, terus kerjaan lu enggak sesuai lo banget, dan posisi lu lagi ngelap kaca. Mampus dah lu ngompol. Mana pas di pohon asam itu ada si Om Pocong lagi. Keknya dia nguntit si Janda Kunti deh."
"Jhahaha. Emang gimana tuh ceritanya," tanya Jat penasaran. Hingga Ika menutup obrolan, jika teman mereka selalu saja riweuh bercanda terus dan membual. Ika baru sadar di kibulin, dan itu adalah cerita film bioskop yang mereka tonton kemarin.
Perjalanan Pulang.
Langkah kaki Milen agak cepat. Saat Ika bilang ada sesuatu di pohon yang ia lewati, bulu kuduk nyaris benar copot membuat adrenalinnya menciut. Milen yang baru bergabung teman camping, ia yang sepulang dari rumah Ika, saat itu dia ingin mengambil motornya di bengkel. Lepas seratus meter dari rumah Ika. Milen tertegun melihat seseorang duduk di bangku jalan depan pagar kampusnya. Posisinya saat itu berada di bawah pohon besar ratusan tahun, yang telah ada dikampusnya itu.
'Gara gara Ika nih, omongan dia soal pohon ini bikin gue jadi mikir keras. Dan benar aja, semoga yang duduk itu manusia bukan muka rusak, pucet deh.' batin Milen menguatkan.
Sudah lama pohon itu dipangkas, tetapi tumbuhnya begitu cepat sehingga membuat pihak kampus harus memangkasnya sebulan sekali. Konon katanya, di pohon asam jawa itu banyak penghuninya. Jelas saja, Milen yang mempunyai kemampuan indigo sudah terbiasa melihat hantu di area tersebut. Dan temannya tidak ada yang tahu ia bisa melihat, bagi Milen hal semacam itu tidak perlu di ungkapkan.
Sayangnya lagi Milen tahu, jika Brian adalah salah satu teman kampus yang bisa melihat sepertinya tapi sangat penakut. Brian orang yang membenci hantu dan takut jika bertemu dengan mereka. Hal itu juga membuat Milen menyembuyikan dirinya indigo sejak lahir.
__ADS_1
Tap .. Tap!!
Langkah Milen dihentikan oleh sebuah tangan, Milen terdiam pasi, kala sebuah akar yang tiba saja melilit kaki kanannya, jelas ia lihat benda kenyal seperti tangan menempel ke kakinya baru saja.
"Hallo? Siapa di situ?" Milen berucap kepada seseorang yang duduk di bangku jalan itu.
Degup jantungnya agak cepat, sementara keringat mulai tumbuh di pelipisnya. Kala itu pukul seembilan malam waktu setempat. Jalanan sepi, meskipun sesekali kendaraan lalu lalang. Milen harus pulang dan hanya itu satu satunya jalan ia pulang lebih sampai ke rumahnya.
Berkali kali berucap istighfar. Melontarkan tanya kepada orang yang duduk itu. Namun, tidak ada respons darinya. Dia hanya menatap ke depan tanpa menoleh sedikit pun. Sementara Milen belum berani melangkahkan kakinya ke depan.
Milen merasakan titik titik air jatuh di badannya. Tampaknya hari itu akan turun hujan. Trotoar di depannya perlahan terlihat titik titik basah. Anehnya, semakin banyak bulir bulir air jatuh, bau amis pun ikut menyertai. Hal itu pun membuat Milen heran.
Saat itu remang remang. Sehingga tidak terlalu jelas apa yang ada di sekitar.
Pandangan Milen dipalingkan ke kiri dan ke kanan. Tidak ada tanda tanda sosok hantu yang ada di dekatnya. Namun, semakin lama semakin menyengat bau amis itu. Biasanya jika ada bau aneh, pasti ada hantu di sekitarnya.
"Siapa kalian, kalian mau apa? saya hanya numpang lewat. Kenapa kalian mengganggu saya?" ucap Milen, yang semakin berkeringat dingin.
Milen semakin menguatkan diri, jika sang nenek berkata ia tidak boleh semakin takut dan semakin takutnya akan membawa Milen jauh ke dalam dunia tak kasat mata, dan hal itu tak ingin terjadi.
Sosok itu jelas mengeluarkan suara lidah, Milen tiba saja menatap atas kepalanya. Begitu terdengar kaget, ketika dari ujung pohon sebuah lidah panjang menjulur menghampiri wajah Milen.
Aaaaarrrrgh!! teriak Milen saat itu, tanpa sadar suaranyaa mengecil dan wanita berwajah lidah melilit itu dengan darah yang menetes bau amis, membuat Milen mual dan ingin muntah.
'Tolong a-aku!' bisikan itu membuat batin Milen terjuntai lemas karena ia phobia darah. Bukan karena wajah buruknya yang dipenuhi lidah berbau busuk.
__ADS_1
"Mil.. Milen. Bangun! Bangun Milen!" ujar seseorang.
TBC.