
Melin yang sedang berada dalam dunia berbeda, hatinya yang semakin ditahan dengan getarannya yang terus menyerang, semakin membuat nafas Melin seakan terhenti.
Dia wanita bergelung itu memasuki ruangan kamar bergaya khas eropa dengan tergesa-gesa menemui salah satu mahasiswa yang memimpin perdebatan sengit yang terjadi di meja bundar.
"Dia, mereka semua penjajah bersama para penduduk sepertinya mengetahui apa yang akan kita lakukan. Para anggota senantiasa memutuskan kita tidak perlu melanjutkan misi."
"Den, tujuan kita sebenarnya untuk membuktikan mereka, perkumpulan kita adalah sangat penting bagi kemajuan kita."
"Tapi, mas jangan lakukan! Atau kita tidak akan selamat."
Wanita itu berdiri menatap dengan cairan bercampur tanah terus keluar hingga menetes sampai membasahi lantai.
"Lihat!"
Salah satu tangannya mengarahkan Ku ke suatu tembok, dengan warna cat yang berbeda. Sepasang mata Melin terkejut melihat mereka dengan perdebatan yang sangat sengit. Jadi sebelum hotel dibangun, ini adalah rumah keramat yang melakukan pesugihan dan tumbal setiap bulan.
Wanita itu ditariknya untuk bersembunyi, namun mereka semua sudah menemukan persembunyian mereka. "Semoga kalian berubah pikiran." ucap salah satu pria kepada mereka yang masih berpelukan.
"Mas. Apa yang harus kita lakukan."
__ADS_1
Semua pria itu menarik mereka dan memukulnya hingga pingsan.
Aku mulai melihat kejadian menyeramkan yang sesungguhnya menjadi *******, dari apa yang akan dia tunjukkan.
Semua pria itu membuka sebuah ruangan dan memasukkan mereka ke dalamnya. Pintu itu ditutupnya. Mereka mengunci hingga merekatkan semen bercampur batu bata.
"Jangan, mereka masih hidup!" teriak Melin, seolah meminta jangan mengubur manusia yang masih hidup kedalam lubang pembuangan.
Seperti biasa Melin, berteriak dan terkujur lemas hingga butiran-butiran keringat terus membasahi tubuhnya karena apa yang ia lihat sangat menyeramkan.
Kulitnya yang sangat kusut keriput dengan tulang yang terlihat. Jelas sekali mereka mati karena kehabisan udara di dalam gudang itu, yang sudah di tutup dengan pasir bercampur semen untuk menghilangkan jejak mereka, mencegah membongkar perlakuan kejam para penjajah.
"Kring...kring..."
Suara kemerincing dari kereta putri titisan atau apalah yang kembali ku dengar datang kembali, membuat aura rumahku menjadi sangat menyeramkan.
Baru Melin sadari, ia kembali berada di dunia mereka. Putri itu dengan wajah pucat nya menunjukkan tatapan tajamnya dengan warna merah menatap wanita bergelung dengan mengulurkan salah satu tangannya.
"Pergilah." sosok itu meminta Melin, tidak ikut campur.
__ADS_1
Wanita bergelung dengan cepat pergi dari kamarnya. Sepertinya ia selalu mendapatkan perlindungan dari putri itu.
Tapi Melin lihat, sosok itu tidak mau dia menolongku. Melin tidak mau mereka melakukan apapun denganku.
"Pergilah." sosok itu meminta Melin kembali, tidak ikut campur dengan berteriak seram sekali.
Wanita bergelung dengan cepat pergi dari kamarnya. Sepertinya ia selalu mendapatkan perlindungan dari putri itu.
Tapi Melin lihat, sosok itu tidak mau dia menolongku. Melin tidak mau mereka melakukan apapun dengan kebiasaanku yang ingin menolong, meski ia berada di alam lain.
Aku berdiri dalam ketakutanku. Melawan mereka yang selalu datang silih berganti menganggu ku dengan kisah mereka yang ingin aku tuliskan.
"Kamu, putri atau apalah aku tidak mau mengetahuinya. Jangan pernah menolongku dalam hal apapun. Aku tidak mempunyai hutang budi dengan kalian, jadi pergilah!" ujar sosok itu berbicara pada raga Melin.
"Aku hanya ingin tahu, kenapa salah satu kamar tidak boleh ditempati, mengapa setiap mereka yang datang selalu kecelakaan mengenaskan." ujar Melin mengikuti lelembut itu, yang jaraknya 10 kilo namun menoleh ke wajah Melin hanya dengan leher yang maju bak panjang sekali mendekati tapi tubuhnya ada di jarak 10 km.
Ssssst!! Pergilah ...
TBC
__ADS_1