Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Saling Berjanji


__ADS_3

Hari demi hari, Milen dan Brian selalu memesan online makanan. Meminta driver meletakkan makanan di depan rumah yang terlihat bagai rumah Hantu, tapi lantai dua disulap Milen seperti istana, hanya untuk mereka tinggal, karena Milen belum bisa melakukan rutinitas berjalan jauh.


Tak lupa, Brian meminta wo untuk mengurus pernikahannya dengan Milen.


Mempersiapkan berkas untuk Milen dan Brian mendaftar ke Kua. Brian pergi meninggalkan Milen sesekali, untuk mengurus janjinya hidup bersama Milen seumur hidup.


Perhatiaan Brian, perhatian Milen membuat mereka saling melengkapi, Milen melihat kebahagiaan dan tidak sepi, kini ia memegang liontin di kalungnya dan berkata.


"Nenek sebenarnya dimana? nenek tau gak, Milen akan menikah dengan Brian. Tapi Milen sedih karena belum dapat info kabar tempat nenek berada, kita Sumbar sangat luas. Tapi Milen dan Brian tidak putus asa mencari keberadaan nenek. Sekaligus Milen akan mengunjungi makam abah, dan ibu sama ayah." ujar Milen.


"Lagi apa, maaf ya ninggalin kamu lama. Alhamdulillah, minggu depan kita udah siap buat acara nikah. Lusa kita ke kota S ya, aku udah pesen rental mobil milik Yono." ujar Brian tiba datang, membuat Milen menoleh senyum pada pria yang akan merubah status hidupnya.


"Yono, tapi kalau bisa kita ga perlu pesta. Mending di tabung aja."

__ADS_1


"Mil, menikah kita seumur hidup. Aku mau pestain di depan nenek Kari, bentuk rasa sayang aku sama kamu. Maaf, beberapa hari aku gempur kamu terus, rasanya sepekan ini kita kaya manusia normal. Arwah ga ada yang datang, sehingga kita jadi punya waktu luang yang ga singkat."


"Dasar cowok! arahnya kesitu terus." malu Milen.


Milen pun turun dan mengambil piring, tapi ia lupa jika lantai satu sengaja dibiarkan berdebu, agar driver antar pesanan menyangka rumah Brian terlihat tak berpenghuni.


Brian sengaja memindahkan perabotan ke lantai dua, seperti ruangan khusus miliknya, yang tak bisa di sentuh arwah datang ke ruangan privasi milik Brian dan Milen yang akan menyandang gelar nama Nyonya Brian, sebentar lagi. Hal itu membuat tawa pecah Milen terkekeh aksi lucu.


"Makasih, gue ga nyangka kita bakal. Maksud aku, kita bakal jadi pasangan resmi." ujar Milen, hampir keceplosan bicara formal, pasalnya ia baru beberapa hari memanggil sebutan halus, yank dan aku, kamu. Yang rasanya aneh bagi Milen saat itu.


Brian mendekat, seolah candu melihat wajah Milen yang selalu ia rindui. Entah kesempatan ini, Brian seolah tidak akan menyianyiakan kesempatan, baginya momen pasangan indigo dan peka seperti mereka, sangat jarang seperti manusia umumnya yang tiba tiba bisa berdua, dan melakukan rutinitas indah.


Milen membuka sedikit bibirnya yang tipis, menggigit bawah bibirnya, saat Brian telah memeluknya. Tapi saat mereka akan menyatukan jiwa, kemeja Brian telah terbuka. Tiba saja sebuah ponsel Milen berdering membuat hasrat Brian padam begitu saja.

__ADS_1


"Siapa yank?"


"Pak Diva! dia hubungi aku, aku angkat dulu ya." lirih Milen yang sudah berada di sofa bad, entah dari kapan.


"Kenapa pak Diva ganggu istri orang." sebal Brian.


"Yank, ini bagian kerjaan kan. Kita udah sepekan, aku juga sepertinya udah bisa kembali normal jalan, jangan lakuin itu lagi. Tahan sampai kita menikah ya! beberapa hari aja, please!" ucap Milen.


"Baiklah, tapi jangan tolak aku, ketika aku ingin ini!" ujar Brian, yang mencubit bibir Milen.


Milen senyum, lalu bangkit menerima telepon dari pak Diva.


"Ya pak! apa ..?" kaget Milen, lalu menoleh ke arah wajah Brian.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2