Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Alva Ayah Reina


__ADS_3

Reina mendapat surprise, sebuah bunga yang hadir di villa. Di saat menemani kedua anak anaknya bermain, tanpa rasa jenuh. Ternyata Azam selalu saja membuatnya kagum. Di setiap sudut ada bucket, dengan tulisan kata kata mengagumkan.


'Untuk istri tercinta, jaga hatimu dan matamu hanya untukku, titip si kembar yang selalu rindu karena ada matamu yang indah disana.'


"Eh, dasar pria gombal. Masih saja berulah seperti dulu." gumam Reina, kala itu ia tidak ingin memakai jasa pembersih.


Dimana semua sudah canggih, bahkan sebuah robot bisa membantunya bebersih di dalam ruangannya. Apalagi ia akan bosan, jika tak melakukan apapun.


Melihat Kanya dan Bima, yang sedang zoom school, beda negara mereka hadir dari sebuah laptopnya, Reina mengawasi karena kedua anak anaknya izin pada pihak sekolah, maka ia akan hadir dari jarak jauh.


"Anak anak, bunda ke kamar sebentar ya! Ingat jangan buka pintu dari siapapun, tanpa pengawalan Bunda atau Ayah."


"Oke bunda." senyum mengedipkan mata kedua anak anak itu, mengangkat tangan.


Sementara itu, Reina merapihkan isi lemari milik Azam, jas hingga setelan seragam pilot yang mungkin sebagai seragam pengganti. Beberapa jas bermerk terpampang, hingga dimana Reina merasa bingung pada pria yang ia cintai itu.


"Katanya ingin berhemat, tapi biaya tiket saja sudah wah, lalu pria ini benar benar selalu tampilan Wah, yang di kenakan. Bahkan baju bajunya bermerek semua. Ah, dasar Azam, masih sama saja seperti ibu ibu glamour." oceh Reina, entah pada siapa.


Sesekali mata Reina terlihat pada ponsel pipih nya, dimana ia mencoba mencari sinyal, yang begitu ingin ia lakukan adalah menelepon bibi Ros, pada umumnya memang akan sulit menghubungi berbeda negara, jadi perlu sabar dan beberapa kali tersambung. Terkadang sekalinya tersambung, sedikit macet seperti kaset kusut.


[ Bibi, apa kabarnya. Karena sinyal sulit, jadi Reina memberi kabar. Bagaimana dengan pencarian putri bibi, semoga sekembali Reina, ada kabar baik ya. ] pesan.

__ADS_1


Reina menatap pesan itu terkirim, hingga dimana ia tak lupa mengisi saldo pulsa untuk nomor ponsel bibi Ros, sebab ia tahu membalas pesan tiap karakter saja, sudah puluhan ribu. Jadi Reina berinisiatif mengabarkan setiap hari pada sang bibi yang ia anggap seorang ibu.


"Kenapa bibi enggak balas satu aja pesan aku ya?" khawatirnya.


'Ah, aku sampai lupa. Apakah lusa benar benar ibu ingin menemui Ku, kenapa bisa sampai .., apa ini nomor palsu atau benar nomor ibu?'


Reina juga memberi pesan pada Azam, terkait pesan dari sang ibu yang terlihat benar atau sebuah pesan palsu orang iseng, karena di luar negara yang tak Reina kuasai, jujur Reina benar takut keluar Villa tanpa izin dan tanpa Azam.


***


Sementara Di Tempat Lain.


Azam sendiri nampak gusar, ketika transit di istanbul. Dimana ia rehat menyalakan sejenak ponsel nya mode normal, bukan mode pesawat lagi. Bak tebar pesona, ia berada di samping sayap pesawat menghubungi Heru dalam puluhan menit.


Azam mematikan sambungan telepon, lalu menatap sebuah pesan dari Reina.


Sehingga bagai buah simalakama, Tuan Alva membenci dirinya, terkait bu Jing yang selalu berulah, lalu jika sampai tahu istrinya adalah anak dari mantan mertuanya, tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi kelak.


Azam berencana untuk memberi surprise di hari ulang tahun istrinya itu, bukan tanpa alasan ia mengajak dan memboyong Reina dengan anak anak, sudah ia rencanakan dari jauh hari, tapi terkejut bukan main ketika mantan mertuanya ada kaitan dengan bu Milen.


'Aku tidak yakin, jika ibu Milen mantan suami tuan Alva, sudah selama ini kenapa aneh rasanya, apa ada hal yang tidak ku ketahui dari istriku, sebab Reina bicara ayahnya sudah meninggal.' gumam Azam merasa dibohongi.

__ADS_1


[ Sayang, tunggu aku kembali esok malam. Kita akan temui lokasi ibu mu, jika beliau ada di sini, kita akan menyambutnya dengan meriah. Apapun itu, aku akan membuat keadaan renggang menjadi akrab. Demi kamu dan kedua anak anak kita, restu mereka adalah suatu berkah. ] balas Azam melalui pesan.


"Azam, ayolah. AME sudah di cek! Aircraft maintenance engineer semua sudah selesai, struktur kerangka mesin dan sistem lainnya telah aman." ucap Rekannya menepuk bahu Azam.


"Ok, thanks."


Azam segera mengubah mode pesawat untuk ponselnya, lalu meletakkan di tempat aman, dimana ia tidak di perkenankan mengantongi ponsel. Ada bagian pramugari yang membantu mengamankan di tempat aman.


Satu langkah perlahan, wangi Azam dengan pesona yang tak terkalahkan, membuat semua pramugari hampir tidak fokus, sesaat ingin mengecek atau memberi intruksi, ketika Azam lewat semua buyar. 


Tak dari satu hingga delapan penumpang, menatap langkah Azam menuju beda arah tanpa berkedip, bahkan ada yang memuji jika calon istri pilot pastinya akan beruntung, bagaimana tidak ngiler pria itu mapan dengan posisi pilot, tinggi, putih dan tampan pastinya.


Azam telah duduk, dimana semua mesin satu persatu ia cek, bahkan sebuah sinyal dengan kode id Azam, dan kode pesawat yang akan ia jalankan sampai tujuan. Ada banyak orang yang harus ia bawa, selama dalam perjalanan bekerjanya.


Azam hanya berharap dapat selalu membawa penumpang selamat sampai tujuan, dimana Azam akan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan semua penumpang, bahkan itu adalah moto sebagai kru pesawat, pramugari dan pilot yang memegang kendali semuanya.


Azam pun memberi aba aba, pada Rekan di sebelahnya yang membantunya, agar ia memberi aba aba pada sang pramugari untuk memberitahu penumpang. Jika pesawat segera take off dalam sepuluh menit.


"Siap."


"Siap Pilot." tawa penuh semangat rekannya, ketika Azam fokus menyalakan beberapa tombol, dan menaikan turun sebuah mesin kendali di depannya.

__ADS_1


'Reina, setelah kembali mungkin akan mengejutkan. Jika kenyataannya papa mertuaku adalah papa kandungmu, semoga kamu benar benar tidak tahu jika papamu yang kamu ceritakan telah meninggal.' batin Azam bergumam, ia menutup mata dan fokus untuk bekerja hari ini, tanpa ada pikirannya di rumah.


TBC.


__ADS_2