
Beberapa Hari Kemudian.
Sesampai di cafe puncak. Milen memesan seperti biasa. Ia melanjutkan berkas naskah. Lalu membalas pesan dari pengacara untuk perpisahannya. Milen pun membalas dengan singkat untuk bicara perlahan pada Hari sang pengacara.
"Assalamualaikum. Ya pak Hari, saya harus memutuskan banyak perkara. Besok saya bicarakan sebelum pukul dua siang mediasi dibuka. Entah saya akan mengambil keputusan apa, yang jelas saya bimbang."
"Baik bu Milen. Saya akan menunggu pukul sepuluh pagi. Kita bertemu di cafetaria sebelah gedung pengadilan!"
Milen pun menutup ponsel setelah mengakhiri panggilan itu. Lalu menatap panggilan tak terjawab dari Diva. Hingga akhirnya ia menonaktifkan ponselnya dengan mode terbang.
"Bagaimana. Hari kamu telah mendampinginya dengan baik?" tanya Alva Muda, di suatu tempat. Tidak ada yang tahu, jika Hari adalah orang yang ditunjuk Alva menjadi pengacara Milen entah atas dasar motif apa.
"Ya. Tapi sepertinya bu Milen ingin memutuskan untuk tidak berpisah. Banyak yang ia ingin pertimbangkan, tapi saya tidak tahu apa penjelasannya." ucap Hari.
"Baiklah. Terimakasih atas kerjasamamu Hari."
"Saya yang harusnya berterimakasih pada ustad muda Alva. Sudah memberikan kontak pengenalan agar saya mempunyai job."
Alva tersenyum pada Hari. Lalu ia pamit ketika itupun langkahnya terhenti ketika Hari menjawab pertanyaan.
"Apa ustad Muda menyukai bu Milen. Kenapa membantunya secara diam diam?"
"Saya hanya membantu karena dia teman baik. Cinta hanya keindahan sesaat yang tak pantas untuk di kejar. Hanya bisa membantu, jika ditakdirkan untuk bersama itu adalah Bonus. Saya pamit Hari . Assalamualaikum."
Hari pun menjawab walaikumsalam. Namun langkahnya terhenti beberapa saat. Ia menatap biodata Milen dan mempelajari sisi kelam Diva suaminya hingga beberapa saat ia melontarkan.
"Astaga. Andai aku jadi Milen, aku ditakdirkan jadi wanita pun mungkin tidak tahan. Tapi bimbang Milen sebenarnya apa, anak mereka itu bukan anak kandung. Lalu .. Histori disini bu Milen pernah menikah dengan Brian." terdiam pengacara.
Tapi ia sungguh beruntung di bantu segala hal oleh ustad muda Alva." lirih Hari kala itu menatap foto Milen dan Diva dalam sebuah laptopnya.
-- CAFE PUNCAK --
__ADS_1
"Cynthiara. Udah dimana sekarang, kamu kok kaya di cafe puncak sih. Kenapa ga ajak kita bertiga sih?" tanya Rei pada Milen saat tersambung Voice dilaptopnya.
"Hehehehe. Aku lagi butuh sendiri nih, gimana kerjaan kalian udah beres belum Cynthiara." balas Milen meledek.
"Eiiikh. Luna kamu jangan ikutin jejak sesat eike. Cukup kami bertiga oke." lirik Kea pada Rei.
"Elo aja. Gue sih ogah." ketus Mis kala itu.
Milen tertawa kala itu. Sehingga tatapan matanya yang berbinar membuat pandangan seseorang dari balik meja tak jauh memperhatikan. Ya saat ini, Milen memang ada di cafe puncak, tapi ia sekedar call video, pada ketiga teman pria yang seperti putri raja jika berbicara, jalannya pun tidak ingin kalah dari Milen, si wanita tulen.
"Andai saya lebih dulu mengkhitbah kamu Milen dan menyembuhkan mata batin kamu yang terganggu. Andai saya tidak menolak dan pergi ke luar negeri. Sudah pasti saya tidak akan melihat konflik kamu seperti ini, saya menyesal telah membuat kesalahan dan hubungan pertemanan kita menjadi renggang. Kamu asing dengan gelar dan sikap saya dulu padamu." gemuruh Alva menatap pandangan Milen saat ini, yang mana Milen sedang tersenyum.
Milen pun tak jauh ia segera mengakhiri panggilan dari ketiga temannya itu. Tak lama ia menatap file terkunci. Ia mengingat ingat file apa itu. Hingga lima menit berlalu ia menatap kisah sahabat dahulu saat di bangku biru.
Milen pun memutar file video itu hingga ia termenung. Saat file video itu terputar, banyak hal beban ringan saat ia merasakan masa masa bersama ibu dan ayahnya. Hingga dimana ia terkejut akan file yang membuat ia sakit hati melebihi perbuatan Diva suaminya kini.
Setelah pernikahan pertama di tinggal mati oleh Brian suami pertamanya, disusul anaknya. Tidak mudah bagi Milen berdamai pada kenyataan hidup normalnya ini.
Milen ..
Teriak Irli sahabatnya yang telah meninggal saat di bangku abu abu.
"Kamu tahu. Katanya kedua orangtuamu bakal kedatangan Abie dan Ummi dari pondok Al Gus. Kamu tau gak sih, kakak tertua akan mengkhitbah kamu, dan menyempurnakan mata kamu agar tidak liat hantu gitu."
Milen terdiam tak percaya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Alva tak jauh dari kelasnya. Ia menemui Alva. Teman pria yang dekat dengannya kala itu, hanya saja Milen yang bisa berteman dengan anak dari pemilik pondok. Karena saat itu Milen akan di khitbah.
"Alva. Kamu tahu siapa yang akan menghitbah ku. Ayo beri tahu aku!"
"Jangan merengek. Diam Lah di tempatmu, aku kira Mas Syar akan menghitbah mu. Umi menyukai kamu."
"Benarkah, tapi aku gak pernah tahu kamu punya kakak tertua selain Mas... "
__ADS_1
"Udah. Kembali sana ke kelas, nanti malam akan aku beri tau."
Milen kala itu menurut, lalu setelah jam pulang pelajaran dia kembali menemui bunda dan melakukan sehari hari membantu ibu dan ayah.
Tapi saat malam menjelang tamu datang. Hanya ada Ummi dan Abie. Saat itu mereka meminta memutuskan hitbah karena Syar telah menghitbah di negeri lain. Saat itupun Milen hanya terdiam beku. Tapi kedua raut wajah ibunya merasa sedih. Segala cara permintaan maaf. Membuat Alva mengajukan pertanyaan.
"Ummi. Jika mas Syar tak ingin, biarkan Alva menghitbah Milen."
Pertanyaan itu membuat Milen menatap Alva. Pasalnya ia menyukai Alva tapi entah mengapa Milen mengenal dan tau jika Alva selalu membuat lelucon hal buruk. Milen juga menarik Alva. Ketika orangtua mereka saling bicara. Lalu tak lama ia menepi di balik bilik dan bicara.
"Kamu tau artinya khitbah. Kamu tau pembicaraan orangtua kita itu serius?"
"Hahaha. Ga usah di ambil pusing, lagi pula aku akan ke Jiran. Setelah sampai sana menuntut ilmu, banyak wanita soleha yang putih dan mancung seperti bidadari. Aku pasti akan memilih wanita di sana. Jadi kamu jangan bermimpi untuk aku pinang, kamu tetap teman. Lagi pula itu hanya bualan agar kedua orangtua kita tak bersedih bukan?"
Milen bagai tersambar petir. Hal yang ia sesali adalah serius percaya pada Alva yang akan meminang dia kelak. Tapi mengingat perkataan Alva dengan enteng. Milen mengeluarkan air mata dan mendorong tubuh Alva karena hatinya memang punya rasa namun sakit ketika Alva mempermainkan.
"Baiklah. Nikahi wanita bidadari, aku tidak akan menunggu kamu Alva!" ujar Milen, kala masih labil mereka selalu dianggap lucu lucuan.
Milen tak terasa sudah tiga puluh menit menatap album kenangan video itu. Hingga akhirnya ia membuka file lain dan mencoba untuk menghapusnya.
"Yes. Delete. Ini adalah hal yang tak akan bisa aku ingat kembali rasa sakit itu. Membully mirip tak jauh beda dengan perlakuan Diva." lirih Milen.
Di balik meja duduk Milen ada Alva yang mendengarkan aksi ocehan Milen dan mendengar segala video yang Milen putar.
'Mil, Maafkan aku membuat luka itu, Hal yang membuat kamu kecewa. Setidaknya kamu bisa bersandar dan menganggap aku teman seperti dulu. Aku ingin kamu kembali kejalan yang baik dan tak sendirian. Kamu mempunyai keluarga, keluargaku adalah keluargamu juga Milen, aku tahu perjalanan hidupmu tak mudah.' batin Alva.
Namun di tepi saat Milen meregangkan ototnya. Ia menatap seseorang telah berdiri tepat di hadapannya. Sehingga ustad Alva menoleh dan memperhatikan apa yang terjadi pada Milen.
"Kamu, mirip Alva temanku, apa hanya mirip ya .. ?" lirih Milen, kala Alva memalingkan wajahnya seolah mencuri melihatnya.
TBC
__ADS_1