
Perkataan Reina, membuat bibi Ros berpikir. Apakah pria yang meminta ganti rugi soal mobilnya di lukis Bima, dan saat ini menjadi bosnya yakni dia adalah Azam.
"Ayo bi, aku bersiap sebentar ya. Kasian anak anak di sofa bermain dengan mainannya. Reina pasti bisa hadapi kok."
"Iy non, non pasti bisa. Bibi akan di garda depan, jika ada sesuatu dengan non Reina."
Mereka tersenyum, lalu Reina memeluk kedua anak anaknya, ketika asik bercanda. Dalam beberapa puluh menit.
Dan Reina pun menyetir beberapa kali ke toko makanan, kue dan minuman. Ia berencana ingin ke taman wisata di daerah puncak.
"Bunda, aku ceneng deh." ujar Kanya.
"Iy sayang! Kanya dan Bima, kalau butuh sesuatu minta sama bibi ya. Bunda fokus nyetir dulu."
"Iya, siap bunda."
Hingga Reina berhenti, memesan karcis. Tapi saat itu ia terkejut ketika salah satu orang membuat pandangannya tak berkedip.
"Ibu, jika sudah memesan. Anda bisa pindah dan memarkir mobilnya di ruang private khusus. Kali ini ada mobil jeep! di antarkan oleh driver khusus kami."
"Loh pak, saya ga perlu pake driver dan gak pesan tiket khusus apalagi private."
"Mohon maaf, karcis kedatangan ibu telah terpilih."
Mau tidak mau, Reina tidak bisa memutar balik karena kedua anak anaknya sudah menunggu. Akan tetapi, pria pemandu dan driver itu adalah ....?!
'Pak Azam .. anda?' batin deru Reina.
"Silahkan ibu pindah, ke mobil jeep khusus kami. Saya sudah tahu, kedatangan ibu dan keluarga, saya pasti akan memberi perlindungan pada anda. Jangan lupa beri rate lima." bisik Azam, seolah membuat Reina ingin pergi dan muntah saja.
"Kau mulai menguntit seperti dulu Azam?" lirihnya, tapi Azam hanya ter ulas senyuman apalagi menyambut kedua anak anak Reina, entah apa yang ada dipikiran Azam saat melihat Kanya dan Bima.
"Aku hanya ingin tahu, sandiwara kehidupan seperti apa, yang saat ini kamu jalani. Hidup berdua saja dengan kedua anak anak, dan irt setia ibumu. Lalu kamu hanya bekerja sebagai office girl, gajinya tidak seberapa. Tapi kamu bisa menjalani hidup wah .. "
"Hentikan omong kosong anda pak Azam! saat ini aku sedang mengajak anak anakku berlibur, jangan usik kehidupanku, atau aku adukan dengan suamiku."
"Serius! bukankah kamu single parents? atau ..."
"Bi, aku duduk sama Kanya dan Bima ya. Bibi bisa duduk di depan supir ini. Reina masih tahu sopan santun, bibi harusnya berada di depankan."
__ADS_1
Deg.
Azam mengrenyit alis, sambil menyamar jadi pemandu wisata kala itu. Bibi Ros pun berganti posisi, sehingga kala itu Reina duduk bersama kedua anak anaknya dibelakang, melihat hewan di tempat wisata dan berkeliling.
Diam diam! Azam memang ingin mencuri sesuatu, sesuatu kehidupan Reina. Ia salah, saat menikah dengan Shi, ia tidak tahu jika Reina sempat datang, di saat pertemuan keluarga yang bukan ia inginkan. Hingga Azam mencari Reina, tapi rumahnya kosong, bisa bisa nya takdir mempertemukan mereka, di tambah kedua anak anak itu entah hati Azam, merasa dekat dan nyaman semakin ingin tahu, kehidupan Reina yang Azam rasa miris, karena ia mau menjadi office girl di perusahaannya yang baru berjalan setahun, Azam putuskan membuka perusahaan sambilan dirinya sebagai pilot sejati.
'Aku tidak akan berhenti mengejar apa yang terjadi denganmu Reina.'
"Saya sudah bilang, undangan acara nanti malam, ada acara tahunan kantor. Aku kira kamu berhak saya undang, bukankah kamu tahu keluargaku. Bukankah ibuku sudah pernah kenal denganmu." ucap Azam, melirik kaca tengah menuju tatapan Reina, membuat semua terdiam.
Deg.
Reina benar benar tidak ingin keluarga Azam sampai tahu, aku kembali dekat dengan putranya.
"Bunda, bunda kenapa diam. Bunda kenal paman yang nyetir kita?" ujar Bima.
"Dia bos bunda sayang! sekaligus, bos yang gabut cari tambahan kerja." jelas Reina senyum mengusap pucuk rambutnya.
"Ooo. Apa jadi bos kulang uangnya ya paman?" cadel Kanya, seolah ingin tertawa tapi tertahan oleh Reina dan bibi Ros.
"Paman, bukankah paman yang di mall itu. Iya kan bibi, paman aku minta maaf soal lukisan mobil itu." telisik Bima, ia berdiri seolah menghampiri Azam, yang tersenyum balik padanya.
"Kanya ikut kan Paman."
"Ah! Ya benar, Kanya juga harus ikut." satu langkah Azam, membuat Reina semakin ketakutan.
"Tunggu! mana bisa acara kantor bawa anak Azam .. Maksud saya pak."
"Bisalah, kan saya yang undang. Lagi pula kamu undang tepat di kediaman saya, hanya ada orang orang kerja saya saja. Ajak bibi Kamu juga untuk datang, refreshing." senyum Azam.
Reina kala itu tidak bisa berkata kata, ia juga sebenarnya ingin tahu mengapa Azam bilang rumahnya tidak ada siapa siapa, bukankah dia sudah menikah.
Kedua anak anak Reina itu antusias bahagia, berkeliling hingga beberapa jam membuat Azam lelah juga menjadi seorang driver pemandu wisata, tak lama sebuah pesan dari Heru, membuat Azam kesal ingin mematikan saja ponselnya.
[ Bos! jadwal jam 7 lewat lima belas menit, anda terbang ke inggris. Jangan lelah bos! karena saya sudah menunggu anda, di gerbang pintu kedua. ] pesan Heru, sang asisten.
"Anak manis, paman hanya bisa memandu kalian sampai sini, sampai bertemu lusa malam ya!"
"Oke paman."
__ADS_1
Satu hal membuat Reina takut, di saat mereka lelah ingin makan sejenak. Azam pergi dengan pamit, wajah pria itu memang masa lalunya, tapi karena dia juga Reina di buang dan sulit menjalani hidup.
'Tidak, jangan sampai dia ke rumah lagi. Sepertinya aku harus cari rumah sewaan, kalau perlu lebih jauh.' batin Reina bergumam.
Tanpa melihat Azam, see you good bye! pada kedua anak Reina, yang antusias ikut melambai tangan. Tapi anehnya Azam menghubungi seseorang, entah pada siapa saat itu.
***
DI BERBEDA TEMPAT.
Shi kembali berulah, ia merencanakan sesuatu untuk Reina. Ia tak ingin hidup Reina sedikitpun bahagia. Ia menginginkan Reina selaku mendapat karma, karma atas dirinya yang kini mendekati suaminya, di saat mereka benar benar belum bercerai. Meski Shi tahu, jika Azam sudah meninggalkan Reina.
Akan tetapi, saat Azam pernah menceritakan, dia adalah wanita yang mungkin membuatnya bahagia, dan ia tidak menyetujui pernikahannya, membuat Shi lebih dulu ingin memberikan ancaman pada Reina, karena ia telah berani muncul di kehidupan suaminya lagi, karena orangnya memberitahu beberapa foto kegiatan Azam.
Shi cukup kecewa, kala Azam bicara memintanya mendukung perceraian mereka berjalan semestinya, sudah pasti untuk mendekati Reina yang ia temukan lagi.
Shi tetaplah wanita yang cemburu, ia bisa saja percaya. Tapi kali ini tidak, ia merasa takut jika Reina akan bersama Azam setiap saat. Hingga di mana benih cinta mereka datang lagi begitu saja, membuat dirinya terancam, dengan sebuah foto dua anak yang bersama Reina yang ia yakini, itu adalah anak Azam. Lebih kuatnya Shi tidak bisa memberikan keturunan, sehingga keluarga Azam tidak mempermasalahkan jika Azam ingin bercerai dengannya, itu adalah hal fatal luka Shi membuatnya membenci wanita bernama Reina.
Shi pun menghubungi seseorang, seseorang yang ia percaya untuk membantunya.
[ Ya. Lo harus lakuin, gue mau acara itu tetap aman. Reina harus di nodai, kalau dia hancur baik itu wajah dan kehormatannya. Gue bakal jadi wanita nomor satu yang cukup puas tersenyum. Dengan begitu, gak ada lagi benih cinta tumbuh untuk Azam pada wanita benalu, kalau perlu singkirkan juga anak anaknya! ] menutup panggilan, Shi.
Perkataan Shi cukup membuat dirinya tertawa puas. Akan tetapi saat Shi ingin melangkah, ia dikejutkan seseorang pria berjas hitam tepat di belakangnya. Tak lama seorang wanita datang membenturkan tubuhnya ke alas dinding.
"Eh, siapa kalian?" teriak Shi.
"Jangan berani mencoba menyentuh Reina, jika kau tidak ingin kehilangan suami dan kekayaanmu yang ada! dia sudah banyak berkorban, jangan pernah coba coba membuat kesalahan! atau foto syur kamu akan tersebar." ujar pria bertopeng, mengambil ponsel Shi dan membuangnya ke tepi danau.
"Eh .."
Plugh
Melempar ponsel Shi, dan pergi begitu saja.
Arrrgh!!
"Siapa mereka, dia gak tau siapa aku. Dia pikir aku takut hanya dengan ancaman tadi?" lirih Shi, ia segera menahan sakit, kala lehernya di cengkram pria gila, sesaat ia memerintahkan seseorang.
TBC.
__ADS_1