
"Roy itu siapa Rein?"
"Itu bukan urusan kamu Azam! Jadi saya minta sebaiknya kamu pulang."
"Tunggu Reina, lagi pula saya datang hanya menitip ini."
Reina terdiam, lalu mengambilnya. Ia tidak ingin kedua anak anaknya terlihat oleh Azam, apalagi sosok Azam bisa dekat dengan anaknya.
Azam pun pergi, setelah memberikan sebuah undangan, dan Reina masuk menutup pintu. Ia berdiri mengingat semua kejadian masa pahitnya sebelum terusir orangtuanya.
"Apa maksud ibu, aku nikah sama dia?"
"Iy nak, dia baik kok." ucap ibu.
“Menikah dengan Roy?”
“Iya Reina, itu adalah wasiat terakhir kakekmu sebelum dia berpulang dan menutup semua aib agar ayahmu tidak tahu sebab ...”
Reina termangu dalam beberapa detik wanita manis dengan kulit seputih susu itu terkejut bukan kepalang mendengar perkataan ibunya bernama Milen.
Menikah? dan desusnya itu dengan Roy, cucu sahabat sang kakek, oh tidak! Reina bahkan tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.
Bahkan Reina saja tidak cukup mengenal bagaimana Roy yang Reina ketahui, lelaki itu hanyalah seseorang yang dekat dengan ayahnya sewaktu sakit dahulu, selebihnya Reina tak tahu apapun tentang dia, lalu bagaimana bisa saat ini Reina harus menikah dengannya? sementara ia menutup diri, karena patah hati, selepas party dan kehamilannya yang ingin sekali Reina gugurkan.
__ADS_1
“Tidak bu, aku tidak mau!”
Sang ibu menghela nafas, wanita paruh baya itu sudah menduga bahwa putrinya pasti tidak akan mudah setuju dengan perjodohan ini.
“Reina, jika kamu tidak menuruti wasiat terakhir kakekmu, kasihan ayah nak, keluarga mereka sudah banyak membantu "
“Bu, Reina tidak terlalu mengenal Roy itu kan disukai teman Reina. Reina tidak bisa menikah dengannya, karena ..!”
“Reina, Roy itu lelaki yang baik, selama dua tahun belakangan ini dia yang telah membantu ayahmu, mana bisa di katakan tidak baik. Ibu yakin dia bisa menjadi suami yang baik untuk kamu nak. Apalagi ia saat ini berprofesi intel hukum selain membuka banyak klinik apoteker.
Reina mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan, Reina bingung dan dilema, apa yang harus dia lakukan menyetujui perjodohan ini sama saja akan membuat hidup nya hancur, dan kehamilannya akan diketahui jika Roy tahu, dia sudah hamil duluan, karena party dan cinta nya yang tulus di samakan oleh wanita lainnya.
Sampai akhirnya, derup suara langkah kaki terdengar mendekati Reina dan juga ibunya yang saat ini berada di ruang tengah.
Reina mendongak, saat itu pula ia melihat kehadiran Roy, pria yang baru saja mereka bicarakan.
Roy mengulas senyum pada wanita paruh baya itu.
“Ya tante, baru saja.”
“Tante sudah bicara sama Reina, sekarang tinggal kamu yang meyakinkannya, kalau begitu tante tinggalkan kalian berdua dulu ya,” sambungnya.
Yang berhasil membuat Reina terperanjat.
__ADS_1
“Ibu mau kemana, di sini saja!” cegah Reina.
“Reina, kamu perlu bicara berdua dengan nak Roy, ibu permisi dulu,”
Di saat yang bersamaan, Roy terlihat mencari posisi nyaman untuk duduk tepat di samping Reina.
Entah kenapa, Reina mendadak menjadi sangat canggung dan begitu gelisah terlebih lagi tatapan Roy yang begitu intens padanya, membuat darah Reina, rasanya seperti naik turun.
“Saya tahu kamu pasti merasa terkejut dengan wasiat terakhir kakekmu tapi memang itu lah kenyataannya, mendiang Kakek Dani ingin saya menikahi kamu Reina saat melihat fotomu aku juga kagum akan wajah dan sifat baik penurut mu, aku tahu kamu dekat dengan El temanmu, tapi kita tidak bisa menolak perjodohan ini kan.” ingatan Roy, beberapa tahun lalu.
"Tidak mungkin, ka-karena aku sedang ha .." dan itulah awal Reina terusir.
Tap Langkah Kaki.
Lamunan Reina saat di belakang pintu. Membuat ia tersadar, ketika Bibi Ros, dan kedua anak anaknya menghampiri.
"Bunda, ayo kita udah ciaap nih." ujar Kanya.
"Iya, ayo bunda. Bunda aku dah bawain tas Bunda." senyum Bima.
Sementara bibi Ros ia mendekat dan tahu apa yang dialami majikannya itu. Bibir Ros sebatang kara, sehingga ia ikut kemanapun Reina tinggal, bahkan ia menganggap bibi Ros seperti ibunya sendiri.
"Non, kalau kurang sehat kita batalin aja, bibi bisa handle kok."
__ADS_1
Deg.
TBC.