Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Kecelakaan Karena Arwah


__ADS_3

Saat Milen menghampiri. Milen terkejut ketika seseorang menghampiri Diva dengan manja. Sementara Alva yang sedang berganti profesi menjadi Tuan Ha. Ia hanya menyaksikan aksi Milen yang kembali di sakiti.


"Sampai kapan kamu mempertahankan pria bodoh yang menyakitimu berulang kali Milen?" kesal Alva.


Milen hanya menatap seorang wanita itu memeluk bersandar pada suaminya.


'Sea. Jika kau ada di posisiku, apakah akan merasakan sakit yang aku rasakan kali ini.' batin Milen menatap.


Tak lama Sea menghampiri Milen. Tapi cekat Diva menerima panggilan penting untuk menunda menghampiri kedua wanitanya. Milen segera membelakangi tubuh dan berlalu melangkah. Ia mencoba menghapus dan tegar berada di bawah alam sadarnya untuk tidak terlihat lemah.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Sea. Tapi Milen memilih mengabaikan dan tetap melangkah.


"Cukup Milen. Kamu gak bisa lakukan itu, karena aku sedang Hamil. Tidak bisakah kamu mengalah, bukankah kamu selalu bilang jika kamu sudah mandul tak bisa memiliki keturunan. Kenapa diam Jawab aku Milen!"


Milen tetap mengabaikan perkataan Sea. Semata hanya ingin mengumpat untuk tidak terbawa emosi.


Teriakan Itu membuat Milen dan Alva tak jauh menoleh. Karena ia tau persis apa yang ada di dekatnya. Ia tau persis suara siapa itu yang membuat dirinya naik darah ketika ucapan tak masuk akal.


"Wanita picik. Jawab!"


Alva segera memegang erat Milen yang hampir tersungkur jatuh saat Sea, mendorong tubuh Milen. Meski Milen menatap Alva penuh dengan curiga karena telah mencampuri masalahnya lagi.


"Kamu gak apa apa?" tanya Alva.


"Pergilah. Terimakasih, karena kalian memang sama saja. Aku telah terbiasa untuk mendengar wanita lain yang berdiri di samping suamiku."


"Dan kamu Sea. Aku akan pergi jika Diva memintaku untuk berpisah."


Milen kembali pergi dan berlari. Ketika itu ia mengumpat di balik ruangan kosong. Terlihat menyedihkan jika ia berada di ruangan sana untuk menguras air mata yang dari tadi saja ia tahan.


Tak lama Milen menatap Diva telah ada di hadapannya.


"Mas. Kamu kenapa di sini?" Milen kembali membenarkan posisi duduknya kala itu. Sehingga Diva meraih tangannya dan memeluk erat.


"Percaya sama Mas. Mas ga pernah menyentuh Sea sayang. Mas hanya sayang sama kamu selamanya. Mas sedang mendalami perusahaan koleps karena ada campur tangan Sea, dan mas melakukan pada Sea jauh hanya dua kali sebelum Mas memintamu kembali. Banyak hal yang mas belum bisa katakan saat ini. Mas mohon bertahanlah!"


"Kenapa kamu tidak arogan dan berkuasa seperti dulu. Apa karena Sea Mas?"


"Mas tidak ingin papa sakit jantung. Dan kedua mas tak ingin kehilangan kamu ketika Mas tak bisa membiayai kedua anak anak kita yang sedang membutuhkan biaya besar. Maafkan Mas harus mengorbankan perasaan kamu sayang!"

__ADS_1


"Mas. Tapi foto ini benar benar kamu, apa aku harus tidak percaya atau sebaliknya?" menatap sedih ketika Milen memperlihatkan chat kiriman dari foto Sea bersama suaminya itu.


"Sayang. Tunggu Mas!"


Sementara Milen menatap Diva yang mengejarnya. Milen pun kembali masuk kedalam mobil dan melajukan kecepatan mobilnya.


Milen bahkan menyetir dengan kecepatan cepat. Ia terbawa suasana sedih akan senangnya Sea kali ini. Tapi ia kembali turun dan menapaki sebuah taman.


Sementara Sea menatap Milen yang berlari hampir melewatinya.


"Sial. Ternyata dari tadi suamiku mengejar tikus kecil ini." tutur Sea.


Sssssrrrth... Membelok setir dan berusaha menabrak.


"Kamu harus musnah tikus kecil. Kamu menghalangi jalanku!" ungkap Sea.


Diva yang mengejar Milen dengan mobilnya. Ia melaju dengan cepat membuat mobil Sea jatuh berlawanan arah. Sementara Mobil yang di kenakan Diva membuat ia jatuh pada pohon tebing dan mengeluarkan Asap.


Milen menatap nanar dan bergetar kala itu. Ia langsung melemas saat berdiri seolah mematung. Begitu terasa angin mobil yang melewatinya bagai angin yang hampir menyentuh kulitnya. Ia menatap adegan mobil putih itu ingin dekat dengannya.


Kau, kenapa menyentuhnya!! Teria Milen pada arwah bayangan, yang membuat mobil Diva dan Sea kecelakaan masuk jurang, tepat di depannya kala itu.


Namun mobil biru doop segera melucur menguat mobil itu tersungkur di lawan arah.


Ambulance telah tiba di rumah sakit. Milen masih kebingungan karena Diva masih di rawat di UGD. Sementara Sea ditangani dalam operasi ruangan sebelah dalam keadaan koma.


Milen masih tidak tau apa yang terjadi. Yang ia tau adalah ia menangis karena kecewa pada suaminya.


"Maafin aku Mas. Andai aku tidak bersikap kekanak kanakan, mungkin kamu ga akan berada di ruang operasi seperti ini."


Tak lama Kea. Rei dan Mis tiba saja datang. Ia membawa seutai bunga dan buah untuk Milen kala itu.


"Eeeekh wedus. Lo ngapain bawa kembang kemboja. Banyak banget lagi di keranjangin?" tanya Mis yang menenteng buah.


"Dari pada gak bawa apa apa. Gue bawa deh keranjang telor emak gue tadi. Dari pada Rei ga bawa apa apa." cetug Kea.


"Enak aja gue ga bawa apa apa. Gue bawa darah dan jiwa untuk membawa Milen menjadi kuat dan tabah. Ada pundak gue untuk bisa Milen sandarin. Iyeeee Gak... ?" membuka mata sebelah.


Pasalnya saat Rei bicara memperagakan. Dia menutup mata seolah sedang membayangkan hal buruk dan mencari kesempatan.

__ADS_1


"Dih. Gue ditinggalkan." lirih Rei.


Tak lama. Milen menatap Mis dan Kea. Ia memeluk mereka sehingga mereka sedikit bingung tak tahan akan kesedihan Milen.


"Udah sini. Ayo Na, cerita sama gue. Ayo minum dulu deh kamu Na! Eiiiy pusing liat kamu kaya gini, jadi ikut bombay nih mata ngucur kaya keran bocor."


"Idung lo tuh bocor. Tiap hari juga yang lo miliki bocor Kea." balas Mis.


"Kalian masih mau berdebat apa mau nemenin gue sih. Mis. Kea?" seteguk Milen kala ia letakkan, menghimpitkan tisue pada hidung merahnya.


"Aduh. Mis Kei. Udah kaya kunti di tayangan jam Sarah gue aja." bergidik Mis.


"Ceritain Mil. Kenapa mas mu bisa seperti ini?" sambar Rei sok pahlawan. Sehingga Mis bergeser dan pindah posisi duduk disamping Milen.


Alhasil Milen ikut menceritakan semuanya. Hingga detail sebelum mobil saling menyilang. Saat itu perdebatan antara dirinya, Milen dan Sea yang satu mobil dengan Diva yang mengejar mobilnya.


"Sabar ya Mil." ucap Mis pada Milen.


Milen hanya bisa menutup mata. Yang ada di pikirannya adalah hal buruk terjadi. Sehingga kala itu beberapa polisi datang untuk mengintrogasi kecelakaan menyilang beberapa jam lalu.


"Ibu Milen. Dimana yang bernama ibu Milen?"


Milen yang baru dua langkah. Ia memutar tubuhnya dan mendapati sang dokter keluar.


"Saya Dok. Bagaimana keadaan suami saya?" tanya Milen melemas di rumah sakit.


Sementara wajah dokter sangat tidak baik. Tepat bersamaan polisi meminta Milen untuk ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.


"Begini bu. Kondisi suami ibu saat ini." dokter terdiam.


"Ibu Milen. Kami memberikan waktu selama lima belas menit. Mohon untuk bekerjasama!" ucap Polisi wanita.


Milen berterimakasih pada seorang dokter. Lalu ia mencoba membuat hatinya tetap tenang. Meski ia juga takut akan Sea yang terjadi sesuatu.


"Dokter. Bagaimana dengan Sea. Wanita yang satu tragedi kecelakaan bersama suami saya?" tanya Milen.


"Mari kita keruangan dokter sekarang bu. Sebab ada berkas yang harus saya beritahu dari awal. Dan berkas yang harus ibu tanda tangani saat ini!"


Milen terdiam, ia menatap berkas hitam dan meminta dokter menjelaskan apa keterangan dari gambar hitam yang dokter EM berikan.

__ADS_1


"Apa... Benarkah, itu pasti tidak mungkin kan dokter?" teriak Milen histeris, satu sisi dokter menjelaskan dan tambahan polisi datang meminta Milen ikut untuk dimintai keterangan.


TBC.


__ADS_2