Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Demi Ingatan Arwah


__ADS_3

Milen pun kembali menggulung lengan bajunya, dan kembali melepas dasinya. Setelah selesai, Milen pun menghidangkan dua gelas susu hangat dengan dua potong roti di meja.


"Sarapannya datang," kata Milen, layaknya seorang pramusaji. Brian yang sudah duduk manis pun langsung menyambut sarapannya, sebab ia juga sudah sangat merasa lapar.


Milen dan Brian pun kini menyantap sarapan, lalu, bel apartemennya pun berbunyi dan Milen langsung bergegas untuk membuka pintu.


Setelah Milen membuka pintu, Roni pun langsung menerobos masuk. Roni masih merasa penasaran, apa yang akan Milen lakukan dengan dupa sebanyak ini.


Milen hanya bisa pasrah, ingin mengusir Roni pun sudah tidak bisa.


"Sekarang Lo katakan, apa yang akan Lo lakukan dengan dupa sebanyak ini?" tanya Roni menyerang, Milen pun langsung melirik Brian yang masih duduk di meja makan.


"Selain sembahyang apa lagi yang bisa dilakukan dengan dupa ini," jawab Milen santai, namun tetap tidak bisa membuat Roni percaya.

__ADS_1


"Gue yakin, ada sesuatu yang Lo sembunyikan. Apa lo sedang memuja setan, hidup Lo kurang apa lagi, Milen, kaya sudah, karier cemerlang juga sudah, ada Diva juga udah." kata Roni yang semakin ngawur.


Milen hanya geleng-geleng, lalu melanjutkan sarapannya. Namun, tiba-tiba mata Roni langsung tertuju dengan 2 piring dan 2 gelas susu di meja makan.


Roni pun langsung bangkit dan menghampiri Milen di meja makan. Milen sudah bisa menebak apa yang sedang Roni pikirkan saat itu juga. Milen pun melirik Brian dan mencoba untuk bersikap tenang.


"Sekarang apa yang ingin Lo katakan ke gue?" tanya Roni menyindir. Namun Milen masih tetap dalam pendiriannya, ia masih meneguk susu hangatnya dan menguyah rotinya.


"Emang apa yang harus gue katakan? Dan tidak semua masalah pribadi gue harus gue katakan dengan Lo?" jawab Milen, lalu membersihkan mulutnya dengan tisu.


Milen pun hanya geleng-geleng, ia lalu memberikan isyarat kepada Brian untuk mengikutinya. Roni yang melihat Melihat Milen berkemas lalu menghentikan aksinya dan memilih ikut keluar dari dalam apartemen.


Melihat Milen membawa dupa keluar semakin memancing rasa penasaran Roni.

__ADS_1


"Lo mau kemana bawa dupa begini?" tanya Roni.


"Gue mau ke pemakaman, sudah lama gue tidak ziarah," jawab Milen, padahal ia berbohong dan kali ini jawabannya masih mampu membuat Roni percaya.


Mereka pun tiba di parkiran, lagi-lagi Milen memberikan kode untuk Brian memasuki mobil. Brian hanya bisa mengikuti perintah Milen, karena bagaimanapun, Milen melakukan ini semua demi dirinya.


"Terimakasih. Gue berangkat ke kantor dulu. Oh iya, sekarang ini, Lo Roni jangan datang ke apartemen gue dulu, gue tidak mau diganggu," kata Milen, membuat Roni semakin merasa pusing. Belum sempat Roni menjawab, Milen pun memasuki mobil lalu melajukan mobilnya.


"Mil ..tunggu!" panggil Roni teriak, namun Milen sama sekali tidak mendengar. Masih dengan rasa penasarannya, Roni pun memutuskan pergi menuju kantornya.


Sepanjang perjalanan, Milen dan Brian pun tertawa, melihat tingkah teman-temannya membuat Milen sangat merasa lucu hingga ia tidak bisa mengendalikan tawanya.


Tanpa Milen sadari, Brian ternyata memandanginya, membuat Brian semakin sadar bahwa Milen benar-benar sangat cantik.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2