
"Tidak seperti yang kamu bayangkan sayang, ibu juga berharap kita semua dapat berkumpul, dimana keadaan saat ini tergolong tidaklah mudah, ketika kedua orangtua berpisah dan mempunyai keluarga baru, 1 banding 10 kehidupan bisa erat, apalagi history ibu dan ayahmu tidak jelas, kami berpisah karena keadaan. Namun semua sudah takdir, ibu sudah bahagia dengan keputusan yang di ambil. Dan ibu minta maaf, jika menemui kamu akan sulit."
Tak lama Alva hadir, dimana kedua cucu memegang kedua tangan pria itu. Milen antusias senyum menatap anak anak mungil itu.
"Maaf kami terlambat." serak suara paruh baya itu, dimana Milen kala itu berdiri sejajar dengan Alva, sementara Azam dan Reina saling menatap bingung, dan sedikit canggung.
Reina sendiri merengkuh Kanya, dan Bima di pegang oleh Azam. Dimana Milen dan Alva berdiri saling memandang, entah Reina harus bahagia atau sedih. Dimana mereka berkumpul, tapi keluarga mereka kali ini seolah mempunyai batas dinding yang harus mereka lewati.
Milen tahu, jika suami ibunya sangat posesif, entah ingin sekali ia menanyakan adik tirinya dan ayah tirinya itu berada dimana, sebab hanya ibunya saja yang terlihat.
"Em, apa kabarmu Milen."
"Baik, mari kita makan dan pesan makan saja, Hai Kamu si cantik pasti namanya Kanya, dan kamu si tampan namanya Bima." Milen langsung duduk seolah menghindar jabatan tangan Alva.
"Sayang, ini nenek Milen, ibunya bunda. Ayo sapa dengan nenek sayang!"
"Iya bunda." serentak.
"Nenek .." peluk Kanya dan Bima bersamaan.
Dimana Milen kali ini bisa merasakan pelukan hangat kedua cucunya, meski sudah dari lama ingin sekali, tapi hanya diam diam memerhatikan adalah hal menyentuh dan momen yang tak pernah ia bayangkan.
Dan kini Alva duduk di sebelah Azam, Reina dan kedua anaknya berjajar. Tak lupa para pengawal Alva ikut makan disebelah meja, sambil menatap intens bergantian.
"Itu jubah hitam kenapa enggak gabung di meja ini saja?" ketus Milen, karena meja terlihat luas dan cukup.
"Dia tetap komit pada tugasnya, mereka enggan ikut satu meja pada majikan. Padahal ketika saya makan sendiri selalu ajak satu meja mereka enggan, bahkan masih saja berdiri. Jadi saya buat peraturan jika mereka ingin bekerja pada saya, duduk dan ikut makan di sebelah meja saja. Lagi pula tugas mereka jaga saya menemani saya, wong saya bukan anggota pemerintahan yang terkenal." ujar Alva membuat Milen menggeleng senyum, namun beberapakali si jubah hitam itu terlihat hormat mengangguk kepala, dan menutup lagi kacamatanya.
Hingga dimana mereka makan bersama, seolah melupakan waktu dan jam yang membuat mereka lupa waktu, bahkan terlihat pengawal saja sudah berdiri pada posisi bergantian.
__ADS_1
Milen sesekali terlihat melihat wajah ibunya yang sedikit pucat, kala sesekali sering membuka tas. Apakah ponselnya terus berdering tapi disenyapkan.
"Bu, ada apa?"
"Enggak ada apa apa sayang, ibu hanya sedang menunggu pesan adik kamu."
"Ibu sama adik, kenapa gak di ajak sekalian?"
"Enggak mereka banyak tugas kegiatan sendiri, ibu ke Swiss hanya sendiri. Karena ibu temu janji dengan rekan ayah Yus, yang ada disini. Kebetulan ibu juga mampir ke rumah kamu, dan bibi Ros masih selalu setia sama kamu ya nak. Syukurlah."
"Iya bu, terakhir bibi Ros katanya temui anaknya, tapi Reina tanya terus saja seperti ga dijawab."
"Ibu dengar dia udah ketemu anaknya, tapi anaknya gak mau kenal sama orangtua aslinya, bahkan terlihat memaki. Itu yang ibu dengar ceritanya, padahal dulu memang keadaan mereka kritis, mereka enggak bilang kalau kerja sama ibu dulu, buat nebus bayinya di panti, udah sebulan baru bilang. Jadi mereka telat, itulah orang jujur atau ibu yang enggak peka. Padahal kami udah cari, tapi pihak panti enggak memberitahu."
"Panti, anak siapa itu. Maaf, jika saya ikut nimbrung pembicaraan para wanita, bibi Ros siapa Milen? boleh ayah tahu." celetuk Alva, yang saat itu sedang main ibu jari bersama Kanya, Bima.
Sementara Azam terlihat kembali duduk menyapa setelah menerima telepon, yang mana ia akan kembali bekerja esok pagi.
"Panti, apa kalau saya boleh tahu Milen, saya bisa bantu masalah bibi Ros itu, karena ia sudah baik sama putri kita."
"Panti Agla Ar'rah Tidarus. Bahkan umurnya beda bulan, kalau Milen Febuari kalau dia itu Januari awal." jelas Milen, yang saat menyuap buah ke arah Kanya dengan hangat.
Deg.
"Pan-ti Aqla Ar'rah Tidarus, apakah itu daerah jalan pabuaran gerta buana yang paling besar itu, yayasan yang di buat oleh walikota J?"
"Iya, benar. Tepat sekali, tapi kok kamu bisa sampai tahu?"
Terdiam Azam dan Reina, kala kedua orangtua sedang serius saling menjelaskan.
__ADS_1
"Itu adalah tempat anak angkat Ku, Shi. Dia saya ambil karena rindu putri ku, dimana ibu aslinya meninggal."
Deg ..
"Apa .." serentak kaget.
"Dan satu lagi Milen kamu harus tahu, Azam anak kandung kamu Milen, saya mencoba melakukan berbagai tes dna dan bukti yang ada!" sentak suara pria itu, membuat semua yang duduk berdiri, apalagi wajah Milen berlinang dan mengembang menatap Azam yang ada di sampingnya.
"Azam anak ibu, jadi kenyataan aku benar anak papa Alva, tapi berbeda ibu. Ah .. kenapa begini?"
"A-apa maksud pak Alva?"
"Azam, Bu Milen punya mata batin yang harus diputus, kematiannya karena takdir ibu mu yang berbeda, para roh meminta bantuan ibumu sehingga energi terkuras, belum lagi jika kelak tidak di bantu, maka nyawa orang yang dicintai ibu mu akan hilang atau mati." jelas Alva, dimana Milen menatap Pria tua itu.
"Cukup Diva, ini tidak mungkin. Azam ku, sudah tiada, mana bisa dia masih hidup? Lalu kau ..?"
"Aku yang salah sudah tahu keberadaan Azam dimana, aku titip pada Jing untuk menjaganya, agar kamu melupakan Rian. Kamu depresi aku hilang akal menikah lagi dan dia adalah ibumu Reina. Semua salah saya, hukum saya saja!" histeris Alva Diva membuat pertemuan itu penuh emosi bercampur.
'Aku apa harus bahagia, tapi kenapa kamu berbohong Azam ku sudah mati ke jurang."
Sementara Azam, saat ini lemas, termasuk Reina yang membuat hubungan dirinya tidak masuk akal.
'Kenapa semua jadi begini?' lirih Reina kala itu.
"Kalian tetaplah tidak sedarah Reina, semua yang salah papa maaf!"
TBC.
Masih Ada Chapter lagi, di tunggu Ya!!
__ADS_1
End .. ( Tamat )