
Reina nampak sedih, tak percaya dimana tuan Alva adalah ayah kandungnya, dimana Azam membujuk dan memperlihatkan bukti bukti agar Reina percaya.
'Sudah selama ini, apa kamu tidak rindu? bukankah kamu ingin melihatnya dan tahu sayang. Setidaknya terimalah mereka jauh jauh datang, kita pastikan akan temui ibumu di waktu yang tepat. Agar semuanya benar benar terungkap." jelas Azam.
Dimana Reina memeluk Azam, dalam beberapa saat. Nampak kedua anak anak ikut menghampiri dan menanyakan.
"Ayah bikin bunda nangis ya?" ujar Bima dengan sorot mata tajam.
"Oh. Tidak sayang, mari kita bujuk bunda turun ke bawah ya."
Hal surprise kedua anak anak saat itu gagal, karena Bima dan Kanya sudah lebih tahu, dan Azam saat itu mengejar Reina yang berlari, dimana aksi anak anak senang, dan beberapa saat meminta kedua anak anak jangan pergi kemanapun.
Hingga turunlah mereka ke bawah, dimana Alva sudah senyum di ruang tamu. Reina nampak melangkah dengan haru dan perasaan bercampur aduk.
"Nak, maafkan Ayah. Selama ini ayah telat mencarimu, karena ayah sudah lelah dan tahu kalau kamu telah meninggal, dimana itulah yang ibu katakan."
"Aku telah meninggal, tapi kenapa. Reina juga tahu dari ibu, jika ayah Reina telah meninggal."
Deg.
Terdiam mereka beberapa saat, dimana akhirnya Alva merentangkan kedua tangan. Dan Reina memeluk sang ayah, dengan penuh hormat. Reina mengutarakan kesedihannya selama ini, bukan berarti ia senang ketika ia tahu dirinya anak dari seorang ayah yang mempunyai bisnis besar. Namun sedih, kenapa waktu memori saat kecil tak ada padanya dalam kebersamaan.
"Kita akan tahu, dan menemui ibumu. Biarkan ayah membalas apa yang selama ini kamu alami nak."
Dalam beberapa saat penuh haru, hingga lamanya membuat mereka berbincang dan makan. Reina juga memperkenalkan Kanya dan Bima, dimana ia adalah anak anaknya dengan Azam.
Alva mendengarkan kisah asmara putrinya, dan tak lupa Kanya serta Bima sopan pada pria paruh baya nya itu.
"Ayo panggil Kakek, karena bapak adalah ayah bunda kalian, yang intinya kakek Kanya dan Bima." ujar Alva dengan berkaca kaca.
"Kakek." peluk Bima dan Kanya.
Hingga Alva berencana membuat resepsi pernikahan Reina dan Azam, dimana Reina nampak malu, hingga Alva meminta izin, jika ia akan mengajak kedua cucunya di dampingi Heru.
__ADS_1
"Ayah ajak cucu gak apa kan, Ren?"
"Iya boleh Ayah, anak anak jangan repotin kakek ya. Bunda bakalan masak sesuatu yang enak. Oke?"
"Oke bunda."
***
Beberapa Jam Kemudian. Saat Reina dan Azam sibuk memasak, berdua saja di villa. Nampak mereka berdebat bagai kucing merebut ikan, dimana Azam mendapat telepon dari rekan kerjanya, di loudspeaker dengan nada suara manja, membuat Reina berhenti memotong ikan salmon, dimana ia menatap Azam sedikit kesal.
Reina nampak membuka pakaian, dimana ia memasak menggunakan singlet bertali satu, dan setengah perut saja, apalagi ia memakai rok mengembang di atas lutut.
“Kamu berusaha keras untuk menggodaku ya,” ucap Azam dengan tatapan mencela, setelah menutup telepon, dan melihat istrinya berganti pakaian.
Tatapan itu sangat menusuk hati. Namun, Reina menolak kalah. Sekuat tenaga ia berdiri tegak dan tak gentar. Lalu mencuci tangan, dan menyalakan ace full, dimana makanan sedang di oven dengan memasak menggunakan alat canggih tanpa takut gosong pastinya.
“Menggoda kamu? Yang benar saja,” ujarnya sambil tertawa pelan Reina.
Azam melepas jaket, lalu disusul dengan kancing kemeja putihnya satu per satu. Reina dapat melihat jelas bahwa pria itu berusaha keras untuk tidak menatap ke arahnya.
“Tapi suka atau tidak, kamu harus menerima kenyataan bahwa mulai sekarang kita akan terus bersama-sama, apalagi kedua anak kita yang membuat erat bukan?” ujar Azam lagi, tapi Reina hanya diam.
“Jangan cemburu, dia hanya rekan kerja. Apalagi jika datang ke resepsi rekan kerjaku nanti kita akan, selesai satu jam an, jadi berhenti protes, karena kita benar benar adalah pasangan yang paling bahagia,” tambah Azam.
“Aku tidak mengekor. Tidur di kamar suami adalah hak seorang istri. Tapi, kenapa setiap aku melihat kamu memakai seragam kebesaranmu, aku ingin nakal pada suamiku ini ya?"
“Jangan nakal, jika di bandara nanti, aku berhak mengusir kamu dengan kecupan, little girl,” desis Azam, dimana nampak Reina cemburu.
“Dan aku juga berhak menolak, hubby. Jika nanti, aku lihat ada seseorang yang panggil kamu honey." balas Reina.
Keduanya saling tatap dalam jarak kurang dari satu meter. Reina berusaha duduk santai di tepi tempat tidur, meski ada Azam dengan tubuh polos dan celana boxer di hadapannya.
Kini Reina merasa sama persis dengan perempuan-perempuan pemuja Azam. Ia mulai gelisah melihat pria itu melepas pakaian, padahal sudah jadi suami sah. Bohong jika ia mengaku sama sekali tidak tertarik menyentuh pria bernama Azam lebih dulu.
__ADS_1
“Oke, jika itu mau mu, lagi pula tidak ada di tempat kerja yang memanggil aku honey, untuk apa aku takut sayang." ujar Azam yang akhirnya memutus aksi tatap-tatapan mereka.
“Karena kamu sudah berusaha keras menggodaku, akan kuberikan apa yang kamu mau.”
Reina terkejut ketika Azam tiba-tiba bergerak maju dan mendorong tubuhnya hingga jatuh ke sofa.
Demi menutupi rasa kagetnya, Reina seketika tertawa. Azam menautkan alis ketika Reina melingkarkan kedua lengannya ke leher pria itu.
“Oke, coba lihat sekarang, siapa yang pada akhirnya merasa tidak tahan,” ujar Reina dengan senyuman.
Azam tersenyum miring di atasnya.
“Aku hanya memberikan apa yang kamu inginkan, karena kamu sudah bersusah payah untuk menggodaku. Pada akhirnya memang akan begini, tak ada perempuan yang tidak menginginkanku.”
"Cih, jangan terlalu sombong hubby. Bisa bisa nanti ada yang lebih tampan, dan benar dia mengejar ngejar ku terang terangan bagaimana?" goda Reina.
"Dasar istri nakal!"
Reina hendak mencibir ketika tanpa aba-aba Azam langsung menyatukan bibir mereka. Reina juga terkesiap, namun Azam tidak memberinya ruang untuk menolak.
Kecupannya benar-benar ahli. Azam benar-benar player handal. Tangan pria itu bergerak menelusuri tubuh Reina. Menyentuh hal yang sensitif, lalu turun ke bawah menuju bagian lain.
Dengan napas memburu, Azam kembali merunduk dan menyatukan kecupan mereka. Reina juga membalas, menikmati kecupan suaminya itu sambil membenamkan jemarinya di rambut pria itu. Hingga akhirnya saat ia mulai terlena, Reina buru-buru menyadarkan diri ketika ingat suara gerbang di luar. Dan memakai jaket dengan cepat.
Saat Azam mulai lanjut .., Reina mendorong pria itu hingga posisi mereka kini berbalik.
'Nanti kita lanjutkan, aku lupa. Ini pasti anak anak sudah pulang!' senyumnya, merapihkan pakaian. Reina segera berlari, tak lupa mencuci tangan di wastafel.
Benar saja, kedua anak anak datang. Bersama Heru, juga pak Alva. Dimana Reina, mau tidak mau harus legowo, jika sebenarnya ia bertemu ayah kandung aslinya. Tapi ia merasa bingung, dengan Shi siapa dirinya, apakah Shi anak dari istri muda ayahnya.
"Bunda .." teriak Kanya dan Bima, memeluk Reina bersamaan. Dimana nampak Azam, berjalan dengan tatapan gusar dan rambut berantakan, yang seolah Heru melirik Azam, sudah tahu apa yang terjadi pada pria tinggi di balik tangga, di tinggal berdua beberapa jam saja, sudah bertingkah heboh .
TBC.
__ADS_1