
Langkah kaki Milen agak cepat. Saat Ibu ka bilang ada sesuatu di pohon yang ia lewati, bulu kuduk nyaris benar copot membuat adrenalinnya menciut. Milen yang sepulang dari warung, saat itu dia ingin mengambil motornya di bengkel. Lepas seratus meter dari rumah. Milen tertegun melihat seseorang duduk di bangku jalan depan pagarnya. Posisinya saat itu berada di bawah pohon besar ratusan tahun, yang telah ada di kediamannya itu.
'Gara gara Rika nih, omongan dia soal pohon ini bikin gue jadi mikir keras. Dan benar aja, semoga yang duduk itu manusia bukan muka rusak, pucat deh.' batin Milen menguatkan.
Sudah lama pohon itu dipangkas, tetapi tumbuhnya begitu cepat sehingga membuat pihak kampus harus memangkasnya sebulan sekali. Konon katanya, di pohon asam jawa itu banyak penghuninya. Jelas saja, Milen yang mempunyai kemampuan indigo sudah terbiasa melihat hantu di area tersebut. Dan tetangganya tidak ada yang tahu ia bisa melihat, bagi Milen tidak perlu di ungkapkan.
Sayangnya lagi Milen tahu, jika suaminya adalah salah satu pria yang tidak bisa melihat sepertinya tapi sangat penakut. Diva orang yang membenci hantu dan takut jika bertemu dengan mereka. Hal itu juga membuat Milen menyembunyikan dirinya indigo sejak lahir. Tapi setelah kebersamaan mereka, Diva akhirnya percaya jika Milen benar benar dalam keadaan yang harus disembuhkan, menurut iman Diva, istrinya harus di bersihkan dari jin, yang membuat Milen selalu di ganggu, karena konon mereka yang telah mati merasa harum mencium bangsa manusia yang bisa menolong mereka.
Tap .. Tap!!
Langkah Milen dihentikan oleh sebuah tangan, Milen terdiam pasi, kala sebuah akar yang tiba saja melilit kaki kanannya, jelas ia lihat benda kenyal seperti tangan menempel ke kakinya baru saja.
"Hallo? Siapa di situ?" Milen berucap kepada seseorang yang duduk di bangku jalan itu.
Degup jantungnya agak cepat, sementara keringat mulai tumbuh di pelipisnya. Kala itu pukul sembilan malam waktu setempat. Jalanan sepi, meskipun sesekali kendaraan lalu lalang. Milen harus pulang dan hanya itu satu satunya jalan ia pulang lebih sampai ke rumahnya dari warung.
__ADS_1
Berkali kali berucap istighfar. Melontarkan tanya kepada orang yang duduk itu. Namun, tidak ada respons darinya. Dia hanya menatap ke depan tanpa menoleh sedikit pun. Sementara Milen belum berani melangkahkan kakinya ke depan.
Milen merasakan titik titik air jatuh di badannya. Tampaknya hari itu akan turun hujan. Trotoar di depannya perlahan terlihat titik titik basah. Anehnya, semakin banyak bulir bulir air jatuh, bau amis pun ikut menyertai. Hal itu pun membuat Milen heran.
Saat itu remang remang. Sehingga tidak terlalu jelas apa yang ada di sekitar. Pandangan Milen dipalingkan ke kiri dan ke kanan. Tidak ada tanda tanda sosok hantu yang ada di dekatnya. Namun, semakin lama semakin menyengat bau amis itu. Biasanya jika ada bau aneh, pasti ada hantu di sekitarnya.
"Siapa kalian, kalian mau apa? saya hanya numpang lewat. Kenapa kalian mengganggu saya hingga ke kediaman ku yang baru?" ucap Milen, yang semakin berkeringat dingin.
Milen semakin menguatkan diri, jika sang nenek berkata ia tidak boleh semakin takut dan semakin takutnya akan membawa Milen jauh ke dalam dunia tak kasat mata, dan hal itu tak ingin terjadi.
Aaaaarrrrgh!!
Teriak Milen saat itu, tanpa sadar suaranyaa mengecil dan wanita berwajah lidah melilit itu dengan darah yang menetes bau amis, membuat Milen mual dan ingin muntah.
'Tolong a-aku!' bisikan itu membuat batin Milen terjuntai lemas karena ia phobia darah. Bukan karena wajah buruknya yang dipenuhi lidah berbau busuk.
__ADS_1
Dan Tiba Saja!!
"Mil, Milen Bangun! Bangun Milen!" ujar Diva, yang melihat istrinya tidur berteriak histeris.
"Mas Diva ..." Mode memeluk Milen.
"Kamu pasti, mimpi buruk lagi."
"Aku mimpi, mereka datang mas, lalu kamu ..." teriak Milen.
"Tidak ada yang bisa memisahkan kita, kita akan segera bertemu Azan. Dan kamu gak akan diganggu lagi, aku mau kamu hidup normal. Aku kasihan melihat kamu seperti ini."
"Tapi kalau aku tidak melihat mereka, bagaimana kamu bekerja. Tiap .. Kasus kamu, aku tidak bisa bantu."
"Ada allah swt Mil, kita harus membedakan yang terbaik, aku gak mau kamu juga seperti ini, aku lebih takut kehilangan kamu dan Azan, Azan masih dalam pencarian, jika kamu hilang aku tidak berguna jadi suami kamu, aku janji akan selalu lindungi kamu. Kita pasti baik baik saja." kecup Diva, dimana saat itu Milen kembali tenang.
__ADS_1
TBC.