
Gila .. adalah hal yang membuat Azam geram. Dimana ia mendapat informasi dari seseorang yang ia percaya, jika Shi berniat mengunjungi Swiss, dan berniat hadir di acara resepsi pernikahannya.
"Azam, apa yang membuat kamu terlihat gusar?"
"Sayang, aku dapat informasi dari Rey, jika Shi akan hadir di resepsi kita minggu depan."
"Rey, itu .. adik Heru, yang bekerja di Teller."
"Benar sayang, kamu masih ingat?"
"Aku tidak masalah jika Shi hadir, sekaligus aku ingin tahu. Apakah papa mengundangnya, bagaimanapun dia pasti .."
"Aku ingin kamu tetap berhati hati, setidaknya kita harus waspada sayang. Entah kenapa firasat ku tidak enak. Karena aku tahu betul papamu, juga tahu seperti apa Shi itu ..."
"Maksudmu .. kenapa dengan papaku, bahkan aku mengira dia masih saudara beda ayah kan?"
"Dia tidak hangat, seperti anak dan ayah pada umumnya. Shi dan papamu tidak seperti yang kamu bayangkan."
Deg.
Reina terdiam, dan pucat dimana entah mengapa bisa seorang papa tidak sedekat itu pada anaknya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah, segeralah bersiap. Kamu sudah mengecek ponselku, tolong masuk kan ipad ke dalam tas mu sayang, kita akan bersiap. Menemui ibumu, lagi pula ayah Alva pasti sudah akan meluncur bersama kedua anak anak bukan?"
"Oke suami tampan. Aku akan bersiap, apalagi besok kamu akan pergi bertugas. Aku harap, kamu jangan lupakan aku, untuk sering menelepon ya."
"Tentu, mana bisa aku melupakan istri cantik ku ini."
Beberapa kali perasaan Azam, sedikit tidak enak. Dimana rasa ketakutan, dan ia amat tahu sikap kelicikan Shi. Dimana melihat Reina, yang sedang bersiap siap. Bahkan kali ini Azam sedikit takut, jika Shi datang ingin mengacau resepsi yang akan ia lakukan nanti.
Hingga beberapa kali, Reina nampak sendu memikirkan, mengapa Shi dan papanya tidak hangat. Ah, penat rasanya ingin sekali menanyakan dan mendapat jawaban suaminya sekarang juga.
"Azam, kenapa Shi dan papa tidak hangat? apa kamu tahu, jujur aku merasa terganggu."
Menyebalkan, deru nafas Reina saat ini, yang mengekor Azam dengan tatapan menggoda. Ada rasa kecewa. Alhasil, mereka menuju lokasi dimana kejutan untuk istrinya nanti malam, tepat pukul pergantian hari, Reina berulang tahun di usia 27 di tahun. Hal itu membuat Azam nampak tak sabar, dimana pertemuan ibu mertuanya dan Alva yang kini jadi ayah mertuanya akan hadir.
"Azam, aku jadi ga yakin kalau pesan itu beneran ibu."
"Loh kenapa?" tanya Azam, yang masih fokus menyetir.
"Ayah Yus itu terlalu over protektif sama ibu, aneh rasanya. Sempat aku bertemu adikku, tapi saat bertemu di swalayan ibu tertekan sangat, apalagi aku benar seperti anak pembawa sial dan penuh dosa, karena aku .. di begitu membenciku sejak kejadian aku hamil."
"Ren, bahkan jika aku menemui papa sambung kamu, aku yang harusnya di cambuk, di marahi. Maaf kan semua karena aku yang buat kamu menderita selama lima tahun lamanya, kamu benar benar asing. Maaf!"
__ADS_1
"Itu sudah berlalu dan cukup aku rasakan, hanya saja aku benar benar ingin bertemu ibu. Kenapa kata nya ayah, aku telah mati, dan saat aku menanyakan tentang ayah, ibu bilang telah mati."
"Wafat .. Meninggal sayang! rasanya aneh saat kamu bilang mati."
Eh.
Reina meminta maaf, sehingga perbincangan mereka semakin serius, dimana sudah hampir setengah jam mereka menempuh perjalanan, dimana dekat tapi karena week and, jadi sedikit macet.
Hingga sampailah mereka di gedung Rose, dimana nampak megah saat memasuki gedung tersebut. Di tambah perlakuan saat mereka tiba, layaknya sultan penuh sambutan. Padahal jadi Azam itu amat mengganggu, dimana ia lebih suka yang terlihat sepi dan tidak bising, dimana awal pesawat dan baling baling tuntutan pekerjaan, membuat mereka brutal dan jarang jika sedang bucin.
Tuk.
Tuk.
Sampailah Reina di meja nomor 18, di mana seseorang sedang duduk setengah berdiri, membuat Azam lari ke arah Reina dengan wajah malu, karena mereka di kelilingi banyak orang, yang sedang antri juga.
Di mana seorang ibu paruh baya, nampak hadir dan baru tiba.
"Entah, dia disana!" unjuk Azam, membuat Reina terdiam pasi.
TBC.
__ADS_1