Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
7 Kembang


__ADS_3

"Melin, fokus bertahanlah Melin! arrrgh.. " bisik suara Brian, seolah menahan sakit akibat lilitan.


Sayangnya Melin saat ini berada di ruang gelap, benar saja ia menyaksikan pak Kola dan kekasih Brian sedang bermain tanpa busana, dibalik akar pohon di dalam sebuah lubang penuh daun kering.


Melin jelas menyaksikan gundukan tanah dan pohon besar terbelah, mengenai perut mereka yang sedang menempel tubuh, hingga batang pohon itu menancap dan menguruk sebuah lubang dimana pak Kola dan siswi yang bermain syahdu, tanah tiba longsor mungkin, sedalam sepuluh meter.


Melin menutup mulut dan fokus untuk kembali ke jiwanya, lalu benar saja setelah ia kembali pada jiwanya. Terlihat wajah merah membiru seolah lama Brian yang menahan. Benar saja itu adalah tanda ia telah meninggalkan Brian selama beberapa jam ia kembali.


"Lo ga apa apa Brian! gue bantu ilangin luka merah di tangan ya!" teriak Melin dengan merah padam, menatap cuaca semakin aneh yang gelap dan berubah cerah dalam hitungan detik.


Uhuuk! Uhuuuk. "Gue ga apa apa, gue berhasil nahan, lo ga apa Mel? gimana udah ketemu petunjuknya?" tanya Brian.


"Iya, kita pergi dari tempat ini. Dan cari sepuluh ayam hitam jantan berusia satu setengah tahun, lilin merah jumbo dan bunga 7 rupa di taburin, lalu ikat ke sebuah pohon. Dia minta bertukar itu, selama satu pekan."


"Apa..?" syok Brian melemas. Melin mengajak Brian segera pergi dari pelataran muka hutan.

__ADS_1


Melin sangat ingat, kala ia menatap wajah jin menyeramkan, matanya seketika berubah warna menjadi merah darah. Sepasang mata sosok itu yang sekarang mengeluar sinar merah itu menancap dan menyusup mataku.


Rasa sakit yang luar biasa terasa menusuk ke dalam mata Melin, ada sesuatu yang menggerakkanku untuk patuh dan mengikuti apapun yang diperintahkan oleh makhluk yang telah menyatu di tubuh kakek gosong tersebut.


Aku seketika seperti sapi yang telah ditusuk hidungnya, dengan patuh mengikuti apapun yang ia perintahkan padaku, seakan akan otak dan pikiranku telah dikendalikan oleh cahaya merah yang keluar dari sepasang mata yang menyala mengeluarkan sinar merah darah tersebut.


Tanpa rasa jijik ataupun mual aku pun mengendus lidah berlumuran darah, yang telah ia julurkan terlebih dahulu ke arahku.


Aku pun merundukkan tubuhku lalu mendekat di wajah sosok itu demi melihat akhir tragis pak Kola, tanpa rasa geli atau pun jijik aku melakukannya. Sehingga saliva dari lidah sosok pun menyatu dengan salivaku. Seketika turunlah bayangan yang aku lihat, kenapa mereka hilang dan sulit ditemukan jasadnya oleh tim sar hingga saat ini.


"Jadi yang lo lihat lebih serem dari yang gue tunggu lo, sambil pegang lilin. Melin, jujur ini pertamakalinya gue lihat arwah berkerumun di dalam hutan. Gue berusaha menahan agar kita bisa selamat pulang."


"Thanks Brian. Lo lulus." balas Melin dengan letih nya.


Langkah Melin dihentikan oleh sebuah tangan, Melin terdiam pasi, kala sebuah akar yang tiba saja melilit kaki kanannya, jelas ia lihat benda kenyal seperti tangan menempel ke kakinya baru saja. Brian sontag berusaha melepas ikatan akar melilit di kaki Melin. Tapi saat itu juga, terlihat tangan Brian juga terlilit dari akar pohon lain.

__ADS_1


"Hah, Melin. Gimana ini?" teriak Brian, Melin hanya menggeleng kepala karena bingung.


Saat itu remang remang. Sehingga tidak terlalu jelas apa yang ada di sekitar.


Pandangan Melin pun dipalingkan ke kiri dan ke kanan, tapi tak terlihat seorang pun. Hingga ia menatap atas atap pohon besar, tepat diatas kepalanya.


Sosok itu jelas mengeluarkan suara lidah, Melin dan Brian, tiba saja menatap atas kepalanya. Begitu terdengar kaget, ketika dari ujung pohon sebuah lidah panjang menjulur menghampiri wajah nya, dan sebagian membuat kedua tangan, dan kaki Brian terikat menempel pada pohon besar terpental.


Aaaaarrrrgh!! teriak Melin dan Brian saat itu.


"Lepasin kami! kami akan pulang dan kembali lagi, membawa apa yang ingin kalian lakukan!" teriak Melin, ia terpaksa berjanji.


Brian spontan terjatuh dari ketinggian satu meter, begitu juga Melin terlepas dari lilitan akar dan lidah sosok penunggu.


"Brian, bangun Brian!" menangis Melin, jiwanya lemah, seolah energi penunggu hutan sangat besar.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2