Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Pesta Milen


__ADS_3

"Gak nyangka coba... Aku ga kepikiran saat terakhir kita itu Mil. Ternyata yang nikahin kamu itu big bos ku coba... ?" Fara masih tersenyum dan melirik di samping Milen, ketika Pesta berlanjut.


Sementara Alva menemui Klien tak jauh dari sebrang Milen, sambil melirik kedipkan mata di saat Milen ikut memandangnya.


Menatap pemandangan big bos besar yang lama ia idamkan. Tapi ia ikut bahagia ketika Milen kini berbahagia.


Alva Muda masih memandang senyum tawa bersama klien. Dengan pose segelas di tangan kanannya. Juga dengan satu tangan lagi berada di saku celananya. Milen melirik hanya terdengar percakapan klien pekerjaan yang membuatnya lelah.


"Akh... Kamu berlebihan Fa. Bukankah aku juga tidak sempat berfikir. Mengapa aku menerimanya, bukankah pria seperti big bos sama saja dan ngeri?" tanya Milen.


Fara yang mengerti kata kata Milen. Ia menyadarkan jika tidak semua pria sama dengan yang di bayangkan Milen.


"Eh.. udah. Ini hari bahagia, hayo kamu harus berpikir bahagia. Jangan mellow, ingat ga semua kok pria oke dan berkecukupan playboy."


Milen melirik ke arah Fara. Dan berkata, jadi kamu setuju dan membenarkan Fa?! Seketika tawa gelagat menjadi pecah. Saat pikiran mereka tak sinkron. Hal itu membuat Alva kembali melirik dan tertuju pada Milen istrinya.


"Gila. Empat tahun lebih gue kerja di sini. Tapi gue baru banget tahu, dan tenyata pak bos kita sangat tampan berkharisma ya?" elak Fani.


"Lebay .. Ah."


"Tapi emang serius Mil. Kamu beneran ga tertarik.. selain mirip mantan suami kamu, tapi dia jauh lebih berkharisma Mil. Aku seneng karena kedua anak anakmu... setidaknya masih mengira dia papanya." cetus Fara.


"Ya. Setidaknya, anak anak tidak tahu jika papanya aslinya menghilang tak bertanggung jawab bukan Fa." balas Milen, yang ia sudah menaruh hati membuka pernikahannya bersama Alva akan bahagia, sehingga luka batin dan anak anaknya tetap stabil.


"Hish. Udah .. udah.. Ayo. Cheers, jangan lagi bahas yang mellow... Sekali lagi Cheers..." ucap Fani.


Owh iya Mil. Kamu tahu topik di kantor beberapa minggu ini. Setelah kalian berdua di mutasi dan kembali. Topik seluruh karyawan adalah pembahasan pria big bos kita. Mereka membayangkan awalnya seorang bapak bos gendut botak gitu. Denger pria tampan, ternyata aslinya jauh lebih macho.. cetar ya bok?! senyum Fani.


"Yupz.. betul banget Fan." tambah Fara.


"Eeh.. ganteng, macho kalau playboy buat apa. Kamu yakin dia ga punya masa lalu buruk. Semua pria sama aja kan, menikah karena tuntutan. Dan aku, menikah karena.." terdiam Milen tak jadi, jika dirinya adalah wanita berbeda, kutukan itu benar hilang ketika dirinya di nikahi Alva Muda.


Fara pun memeluk. Fani menambah pelukan bagai Teletubbies pada Milen. Lalu Fara menuangkan kembali minuman anggur dan mereka kembali bercerita tawa.


"Mil. Ga semua pria playboy akan selamanya. Bahkan setelah menikah mereka sangat setia. Kamu jangan menyamakan pria yang pernah dalam hidupmu, andai aja semua tidak ada masalah dan bertemu. Kamu pasti tidak akan seperti sekarang terluka. Milen, kamu berhak bahagia!" senyum Fara menyemangati.


"Ya. Fa, makasih ya. Tapi dasarnya pria ngeri akan selalu playboy kan. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Semoga saja dia tidak seperti Diva. Jika tidak ..." Milen mulai menyempitkan senyuman.


"Ya. Setidaknya sampai ia benar benar jatuh cinta. Mungkin tugas istri adalah membuat suami selalu jatuh cinta bukan?" tambah Fani.


"Dasar kebanyakan drakor cinta nih. Fani kamu tuh bisa aja deh, masih jomblo aja sok nasehati." ungkap Fara.


Fani hanya menatap tajam. Tak ingin Fara terus saja mengolok olok karena ia sedang patah hati setahun lalu.


"Itu namanya. Belum move on!" serentak Fara dan Milen.

__ADS_1


Mereka kembali menggelitik dan seru akan perbincangan mereka, yang semakin tak bosan melihat pengantin pria yang menjadi bahan penasaran, menikah dengan rekan kerjanya.


Andai saja ia tak bersama klien penting. Sudah pasti Milen telah Alva tarik untuk berdua saja. Alva pun meminta Ale untuk pengamanan ketat di acara resepsi. Ale menuruti perintah bosnya itu. Karena bagi Alva adalah momen pernikahan mereka berjalan lancar dan aman.


Tak lama Milen tertegun akan sosok melingkar di pinggangnya. Ia menatap Alva telah tersenyum dan menyapa teman temannya itu.


"Sayang. Seru sekali, sedang berbincang apa?"


"Akh. Mas... hanya bualan dan kisi kisi masa bersama saja. Ya kan Far?" tatap Milen.


"Owh ya. Mas, kenalkan ini Fani teman aku juga bersama Fara. Sebentar lagi akan datang teman pria kita. Namanya Mis, Rein dan Kean."


"Fani. Bagian di visi apa?"


"Akh. Saya pak, di visi investasi di lantai sebelas group hotel andar." senyum Fani.


Tak lama, Fani pamit untuk menjemput ketiga Kremi teman baiknya juga. Ya mereka teman Milen juga satu di visi saat masih dari nol.


Alva menatap Fara yang ia tau, ia telah memberikan informasi banyak. Sehingga ia menghubungi Ale.


"Ale.."


"Pindahkan Fara kebagian di visi bagian R.


"Ya jadikan dia sekertaris membantumu untuk mengelola, beri wewenang karena kamu selalu sering bersamaku!"


"Maaf. Pak, itu terlalu berlebihan. Saya juga sudah bersyukur di bagian sekarang."


"Kamu teman terbaik Istriku, jadi sudah seharusnya saya membantu."


Milen pun menatap suaminya. Ia melangkah sedikit menjauh saat menerima panggilan di ponselnya.


"Mil. Ini berlebihan, gimana nanti. Apa gue sanggup. Lagi pula dari bagian bawah langsung ke atas. Apa jadinya, pasti banyak gosip di group?"


"Udah. Tenang aja, ini rejeki buat kamu Fa. Kita bisa sering ketemu bukan?"


Fara tersenyum. Bukan berarti ia tidak senang, tapi jauh dari kata bahagia. Tapi dengan loncatan yang amat cepat. Baru saja dia naik level enam bulan divisi baru. Sekarang menjadi naik rate kembali.


Ya! Fara tahu, karena informasinya beberapa saat. Ia membuat Milen kembali terbuka. Ia menyadarkan Milen untuk tidak kembali terjebak pada mantan suaminya itu. Juga memberikan informasi penting tentang Milen kala itu.


Nah. Itu dia sayang, mereka sedang disana. Dasar mengapa terpisah ketika bertemu teman?!


"Sayang. Ayo.. saatnya potong kue!"


Milen menghampiri mom May .. Lalu Alva menyambut tangannya. Pelukan tiba saja erat sebelah tangan Alva. Milen juga sangat gugup ketika memotong kue bersamaan dan saling menatap dengan sendu romantis.

__ADS_1


Tepukan semakin kencang dan bersorak ramai. Kala itu selesai memotong kue. Milen dan Alva memberikan potongan pada mommy. Lalu memotong kembali dan menyuapinya pada Milen. Begitupun Milen kembali menyuapi Alva yang saling memandang. Terlihat ustad Abi datang dengan Umi, merestui keinginan Alva Muda yang tak bisa mengelak history Alva anak dari Tuan Stev yakni papa dari Diva.


Tak lama, Milen merasa sakit dan lelah semalam itu. Hari sudah semakin larut. Pesta semakin ramai dan Alva mengajak Milen kembali ke kamar hotel guna rileks sebentar.


Mom May .. mama angkat Alva! telah kembali pulang dengan pengawal. Meski begitu ia tak sendiri, terlalu banyak teman sosialita dan klien penting dari berbagai negara mengisi rumah.


"Kita akan bersiap kembali. Apa kamu lelah sayang?" tanya Alva.


Milen ingin sekali bicara letih, lelah. Tapi mengingat acara belum sepenuhnya selesai. Ia harus bertemu dan menunggu klien dari belanda.


Ya tamu spesial, mengingat hal itu Milen mengulur waktu. Guna agar suaminya tak mengajak langsung ke ranjang.


"Ah... Tidak. Aku sudah siap Mas." senyum Milen berpura pura semangat.


"Apa kamu yakin. Jika kamu lelah, cukup aku saja yang memainkannya. Bagaimana?"


Milen bergetar gugup. Ia mengejap ngejap kedua matanya. Dan berkata, dengan lantang seolah baterai imun tubuhnya penuh.


"Mas, semoga kamu tidak lelah mencintaiku, dan menyayangi kedua anak anakku."


"Tentu sayang! anak anakmu itu anak anakku juga, kita akan membawanya berobat ke inggris. Bahkan keliling dunia, sekalipun aku menemui wanita mirip kamu Milen. Mas tidak akan tergoda."


"Gombal." balas bisikan Milen pada telinga Alva.


"Serius sa-yang." kala Alva ingin menempelkan ranum, tiba saja dua suara mengagetkan.


Momy -- Dady! teriak Rein dan Reina anak kembar Milen yang berbeda, memiliki kulit sensitif dan harus sesuai iklim dingin.


"Hey! anak momy, ayo beri salam pada Dady!" ucap Milen membungkuk bahunya.


"Love You Momy Milen, and Dady Alva." ujarnya, membuat mata Milen dan Alva terperanjat haru.


"Wow, kamu memanggil dady sayang, kamu menerimanya sayang?" puji Alva Muda.


"Sure... " tanda hati, sehingga mereka memeluk dan menggendong salah satu putra dan putrinya bergantian, ketika kamera memotretnya.


--- End Happy Ending ---


Berlanjut season 3 .. Putra dari Milen, yakni Azam yang hilang akan bertemu dengan Rein serta Reina anak angkat Milen saat bersama Diva.


Mampir judul :


*Duri Pernikahan.


*Baby Genius Sang Pilot.

__ADS_1


*Mrs. Bodyguard Super.


*Skandal Cinta Kedua


__ADS_2