
Jing yang di hubungi Shi, ia segera menuju taman kanak kanak sekolah persada, terlihat pintu mobil bergeser membuat Shi terlihat sumringah dan menyapa.
"Heum! kenapa kamu mendadak hubungi tante?"
"Hah! tante ga salah, eh iya aku lupa. Kalau sekarang itu, mama mertuaku ini udah dukung anaknya menceraikan istri yang kaya raya, otomatis aku ga panggil ibu mertua lagi. Kenapa bisa di dukung, apa udah bosen hidup bergelimang harta tante?"
Jing tidak percaya wanita seperti Shi bisa jadi menantunya, jika bukan karena dia anak orang kaya sudah pasti ia juga tidak akan merestui. Jing juga tahu betul, bagaimana anaknya menahan tidak seperti suami istri umumnya, entah putranya itu apakah ia jajan di luar sana. Bahkan setelah perjanjian lima tahun, sah sah saja bagi putranya menceraikan.
"Tidak ada waktu berdebat! kenapa bisa bercerai, kamu harusnya berkaca kenapa bisa diceraikan? jika hubungan tante dan suami tante berselisih, apa kamu bisa ikut campur?"
Shi benar benar kesal, terlebih ia memberikan sebuah map! dimana jika mau membantunya, maka bukan hanya dirinya saja yang di untungkan.
"Sakiti Reina! atau anak anaknya, agar Azam tidak ada satupun yang miliki Azam saat ini, hanya aku tante! untung buat tante itu, saham setengah milikku, akan untuk tante juga!"
Jing yang memang tidak mau miskin seperti zaman dulu, ia sedikit tergoda. Jika mungkin ia culik saja kedua anak anak Reina, menaruhnya di lostmen dan dijaga seseorang. Mungkin bisa menjadi peringatan keras untuk Reina saat itu.
"Heeh! sebenarnya sih cukup mudah. Dan .." terdiam Jing, ketika melihat putranya sedang bermain dengan dua anak anak disana. Tak lama melihat gadis miskin yang Jing benci sejak dulu.
"Tu-tunggu. Reina ada disini, jadi mereka kembali lagi?"
"Heuuumph! Lihat saja. Video akrab mereka akan Shi sebar. Jika Azam, putra tante menceraikan istri sahnya karena pelakor, dengan anak haram disana. Bukankah papa Shi akan menarik aset perusahaan suami tante. Tante jadi gembel lagi dong. Hahaha." tawa Shi pecah.
Menyebalkan bagi Jing, beginilah dia jika tidak kaya. Kekuasaan tidak akan melekat dalam diri orang susah, hanya orang kaya real yang bisa mengatur dan memerintah. Tapi bukan berarti Jing ada di pihak Shi, hanya saja ia membenci Reina seumur hidup ia tidak akan pernah merestui putra satu satunya, menikahi si miskin itu.
Di tempat lain, Reina tidak bisa berkutik ketika Azam mengajak kedua bocah menggemaskan antusias, humble padanya. Ini pertama kalinya Azam merasakan kebahagian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia masih diam tak berkata apapun, apalagi berbicara serius dengan Reina, mengajak Bima dan Kanya adalah momen dirinya bisa membuat Reina membuka hati lagi.
"Non! tidak ada yang salah, jika kedua anak anak tahu mereka itu sedarah kan?"
"Bi! bibi tahu kan, perasaan Reina saat itu. Bagaimana Reina saat itu, bibi taukan. Reina sampai saat ini belum mendapat maaf dari bapak dan ibu. Reina bahkan membenci kebodohan Reina, hingga Reina saja tidak tahu keberadaan ibu saat ini dimana."
__ADS_1
"Bibi paham non! tapi apa Azam sudah tahu mereka anak anaknya?" tanya bibi Ros.
"Reina tidak tahu bi! Reina juga tidak yakin dia anak anak Azam. Sebab Reina saat itu juga samar mengingat kejadian itu."
Apalagi Reina sadar saat malam itu, seharusnya Reina tidak ikut party. Reina samar samar, tapi saat Reina di ruangan itu ia yakin Azam bersama terakhir dengannya. Reina yang kala itu sudah tanpa busana, karena Reina dapatkan sapu tangan Azam yang masih menempel. Tapi orangnya tidak ada. Reina dan Azam hanya sama sama mengagumi belum berniat berkomitmen, tapi entah bagaimana saat itu ia hanya sendiri dan memungut pakaian, pulang dengan perasaan sakit yang berbeda.
"Bunda, Kanya mau pup."
"Bima juga bunda, mau pepsi."
"Ah! kalau gitu kita ke toilet sana ya nak! Ayo bunda temani."
"Perlu paman temani Bima?" bisik nya, seolah caper agar bisa berdua dengan Reina, ia menatap bibi Ros sendiri hanya senyum senyum saja.
"No paman. Bima bisa jaga Bunda, dan adik Kanya. Aku kan gentle."
Reina sendiri saat itu, entah kenapa perasaannya berdebar. Tapi jika ingat dirinya yang terbuang, mustahil ia mendekatkan anak anaknya dengan Azam, lagi pula bisa saja dia bukan anak Azam.
Sesaat dalam toilet, Kanya yang sudah Reina bersihkan, ia menunggu di depan pintu untuk menunggu Reina. Terlihat Azam ada di luar seolah menunggu, hanya saja ia sedang menghubungi seseorang entah pada siapa. Lagi pula Reina tak berniat tahu urusan Azam dengan siapapun.
"Bunda, kok Kak Bima belum kelual ya?" cadel Kanya.
"Antri kali sayang, kita tunggu saja ya disini."
"Kenapa ga minta bantuan paman! paman kan Towo?" cadel Kanya, yang berkata Cowo.
"Hey! kalian sudah keluar, Bima mana?" ujar Azam yang mendekat keberadaan Reina saat itu.
"Dia di dalam, aku ga bisa masuk karena pasti cowok semua." malu Reina, yang sekali meminta tolong tapi terlihat segan.
__ADS_1
"Biar aku masuk ya!"
Reina pun memegang tangan Kanya, entah kenapa matanya mengelilingi sekitar. Perasaan Reina juga seolah tidak enak, entah ada perasaan apa yang membuat Reina seperti ini. Reina berharap firasatnya ini bukan apa apa, tak lama Azam keluar dengan wajah berbeda.
"Reina, di dalam kosong. Satu persatu tidak ada orang. Bahkan ada satu orang yang bersih bersih katanya anak kecil udah keluar dari tadi."
"Ais ..." tanpa aba aba, Reina meninggalkan Azam yang berdiri kaku, sambil menggendong Kanya, menuju bibi Ros, yang kala itu ikut terkejut karena Reina berlarian.
"Non, kenapa lari larian? loh kok den Bima nya mana?"
"Bibi, Bima ga sama bibi. Soalnya di toilet Bima ga ada, Reina pikir sama bibi."
"Ga ada non! malah bibi disini nunggu terus! kita pencar ya non." di anggukan Reina.
"Enggak mungkin kalau Bima ...?" lemah Reina.
Reina yang sudah memerah air mata, ia terkejut bukan main kala Azam juga bergetar hebat. Ia melihat sosok Reina yang seperti kehilangan nyawanya. Azam juga syok, jika Bima benar benar sampai hilang. Azam sendiri meminta pertolongan pada pengurus taman, dan satpam di tempat yang ia lihat untuk mencari anak hilang.
Bahkan Reina yang tak jauh dari sekolah anak anak, ia menemui pengurus sekolah apakah Bima ke kelasnya, dan memberitakan jika Bima hilang saat ia pergi ke toilet. Azam sendiri bahkan kembali ke toilet itu, dan mencari sekeliling apakah Bima masih disana.
Bima ... ( teriak Reina )
Kak Bima ... teriak Kanya, yang ikut menangis melihat kakaknya tak ada.
Den .. Bima ... teriak bibi Ros!
Bima ku! tidak mungkin hilang, hingga Azam menghubungi seseorang, harap meminta bantuan.
TBC.
__ADS_1