
"Hah, aku merasa bersalah sayang."
"Tunggu, jangan bilang jika Shi itu anak bibi Ros, dimana dulu saat kamu bayi. Sang bibi kerja di tempat bu Milen, ibumu. Artinya ada kemungkinan ..?"
"Ah tidak jadi sayang, maaf! itu hanya andai aku saja."
"Azam, aku tidak akan marah. Apalagi tersinggung, jangan bikin aku bete. Hanya karena ucapan yang terpotong aku tidak dengar."
"Hah, dasar istri kepo. Sayang, aku hanya berasumsi. Jika ibumu dulu dan Bibi Ros sama sama bekerja di tempat tuan Alva, ayah tirimu. Dan tak lama, jadi nyonya sehingga kamu diabaikan, dan dirawat bibi Ros, tapi tadi penjelasan ibu kita mata batin terbuka tidak normal membuat takdir kita tertukar tidak di tempatnya."
"Ah, benar. Itu yang aku pikirkan, karena aku tidak terlalu ingat masih kecil itu sayang."
"Ya sudah, ayo kita kembali. Ayah dan ibumu sudah terlalu lama menunggu kita!"
Reina pun mengekor, dimana Azam saat ini menggandeng tangan sang istri, dimana saat itu di meja mereka senyum dan Alva menatap Reina putri dari kesalahannya itu.
"Ayah .. maaf! sebab tadi Reina sempat berfikir bukan bukan, dan ibu. Entah banyak pikiran Reina, Reina tidak tahu seperti apa kesulitan ibu dahulu. Reina berterimakasih atas hadiah ulang tahun ini, di hari ulang tahun Reina melihat kedua orangtua Reina yang utuh dan kenyataan semuanya Reina akan terima." sedihnya, sehingga bu Milen memeluk, dimana Alva juga ikut terharu dan menepuk pundak Reina, karena ia telah dipanggil dengan sebutan Ayah.
Azam dan Kanya serta Bima, saat itu digandeng. Sementara si kecil Kanya, di gendong Azam, seolah saling berbisik dan kepo, mengapa sang bunda terlihat tertawa tapi menangis. Apalagi setelah itu, Milen juga memeluk Azam, dimana wajah putra kandungnya benar benar masih hidup ia sangat sangat bersyukur semuanya bisa berkumpul setelah penderitaan sekian lama.
"Ayah, apa orang dewaca itu sering ketawa dan sering nangis ya. Kanya ga suka tertawa dan tangisan dibarengin, kata ibu guru itu tidak sehat orangnya." bisik Kanya, sedikit cadel.
__ADS_1
"Benar sih, tapi soal bunda itu. Eum .. itu karena tangisan bahagia sayang, mirip seperti Ayah yang pertama kali menemukan kalian berdua, bahagia karena kalian anak ayah. Dan Ayah menemukan ibu asli ayah, seperti kalian dengan bunda Reina." jelas Azam penuh haru bahagia.
"Lalu, kenapa ayah tidak di samping kita dulu. Terus ayah emang kemana?" telisik Bima, dimana bocah itu bertanya sangat kolot, dimana menatap Azam, seolah dengan kewaspadaan, apalagi gaya tangannya mirip sekali Tuan Alva, bicara tapi kedua telapak tangan di masukan ke dalam kantong celana.
"Hey! Bima sayang, anak baik jika bertanya turunkan tangannya, turunkan juga tatapan tajam itu. Itu menakutkan, Ayah akan jelaskan nanti. Yang pasti, orang dewasa memang banyak masalah. Tapi kelak kamu besar kamu akan mengerti, yang jelas Ayah bekerja dan bunda memang sedang main petak umpet dari Ayah, sehingga kami baru bertemu di tahun ini."
"Hihihi, Ayah kok nikah nya sama bunda pas digerebek sih, Kanya perhatiin loh waktu itu yang Ayah cakit nginep di rumah Bunda. Kalau temen Kanya mereka bilang, ayah bundanya nikah mereka enggak tahu dan gak lihat, tapi kok Kanya dan Bima bisa lihat, apalagi di undang lagi." senyum bocah perempuan itu bertanya membuat kening Azam mulai kembali berkeringat dingin.
'Oh astaga, itu adalah anugerah. Yang jelas kalian tidak boleh ikuti jejak Ayah yang buruk itu.' batin.
"Eum .. Bagaimana ya nanti kita minta bunda menjawab. Ayah benar benar bingung sayang. Ayo nak kita hampiri Bunda."
Azam menghela nafas, sungguh anak anak sekarang sangat pintar, benar benar Azam tak berkutik dan mencari cara, penjelasan apa agar kedua anaknya paham apa yang ia sampaikan, dengan anak seusianya ini.
"Ayo bunda, tiup lilinnya!" serentak Kanya dan Bima.
Reina meniupnya, hingga saat itu benar benar tidak ada nampak dari kesedihan dan luka. Dimana Reina juga memanjatkan doa, agar kehidupan ke depannya berjalan dengan lancar penuh bahagia, dimana setelah mereka makan kue saat Reina memberikan potongan kue untuk sang ibu dan Ayahnya, maka yang kedua potongan adalah untuk Azam dan kedua anak anaknya, yang kini menjadi penyemangat hidupnya.
Beberapa jam kemudian, di grand yang sama. Mereka menuju lantai empat, di mana satu lantai adalah butik semua.
"Azam, Reina. Kamu masuk duluan gih, gaun mana yang cocok kamu bilang sama Ayah!"
__ADS_1
"Tapi ini terlalu berlebihan."
"Tidak, resepsi pernikahan kalian harus segera dipercepat. Kanya dan Bima akan ada Heru dan ayah yang ajak mereka bermain di Arena Zona, edukasi itu bagus untuk kedua cucu ayah."
"Cepat gih, kamu masuk sama Azam. Ada ibu yang ikut jaga kedua cucu ibu. Azam putraku jaga Reina!" ketus bu Milen. Di anggukan Azam kala itu.
"Makasih ya bu, Ayah." senyum Reina, dimana kedua anak anak sudah see you melambaikan tangan dan tak terlihat, menuju lift.
"Reina sayang, aku angkat telepon dulu ya. Ah, Bian saat ini di mutasi ke Wingseng, aku harus memastikan kenapa dia tiba tiba ..."
"Iya, kalau gitu aku lihat gaun ke arah sana ya."
"Baiklah, segera aku menyusul."
Reina pun berjalan mengelilingi ruangan, dimana ada dua pelayan mengajaknya berbicara motif apa yang Reina sukai, sehingga Reina meminta gaun gold dengan atasan payet dan menutupi lengannya, ia berjalan ke arah lain melihat model gaun pernikahan lainnya.
Akan tetapi langkah dari gaun ke gaun, sehingga tatapannya tertuju pada seseorang disana yang tengah memperhatikannya.
Brugh!
"Aw,"
__ADS_1
Reina menahan sakit, dimana tirai ukuran beberapa meter telah tertutup dan mulutnya dibekap paksa, sehingga di dalam sana ada dua kekuatan tenaga yang saling mendorong. Hanya tatapan mata tajam saja, membuat Reina berusaha melepas tapi sulit.
TBC.