
"Milen tunggu deh. Emangnya kamu mimpi apa?" tanya Fara.
"Bukan apa apa. Mungkin hanya kecemasan aku saja. Aku sampai lupa, jam berapa ini?"
Milen hindar pertanyaan temannya, dan bergegas membersihkan diri ke kamar yang disediakan. Cepat cepat ia mengguyur dirinya di atas shower. Betapa tidak ia lelah akan permasalahan yang ada. Milen benar tak bisa berfikir jernih untuk saat ini. Hanya tetesan air segar yang menelusuri dari ujung rambutnya. Mungkin membuat dirinya lebih baik.
Mengapa aku bermimpi mas Diva masih mencintaiku. Mengapa aku seolah dejavu dan bimbang. Aku takut saat ini Ayah dari anak anakku sangat benar benar berubah. Tapi kehadiran Alva Muda dengan perubahannya mirip Diva demi anak anakku membuat aku bingung.
'Sebenarnya siapa dia. Apa yang di rencanakan papa dan Alva pada mas Diva.' batin.
"Mil. Udah belum, kamu benar gak apa apa. Aku tinggal duluan ya. Udah telat nih?" Fara, mengetuk pintu kamar mandi.
"Ya. Fa. Makasih ya malam ini udah nemenin."
Milen pun tak lama bersiap. Ia turun ke anak tangga sekedar memanggang roti. Tapi kedua matanya terasa berat untuk ia buka.
Sebenarnya ada apa ini. Mengapa mataku masih mengantuk. Apa aku kurang tidur, seharusnya pagi ini aku bersemangat. Tapi karena mimpi itu membuat aku gelisah.
"Eh Eum... Apa yang kamu lakukan sayang?"
"Hah. Kamu mengapa di sini. Bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Milen kaget seseorang datang.
"Kamu lupa. Aku mempunyai akses dan kunci cadangan. Begitu teganya calon istri ini. Sarapan hanya membuat satu?"
"Baiklah. Akan aku buatkan, mau selai apa?"
"Kosong saja. Aku ingin di isi oleh cintamu!"
Cih ... dia pikir dengan menggombal. Aku bisa luluh.
__ADS_1
Alva mengernyitkan bibirnya. Ia tersenyum miring kala menggoda Milen. Hal itu membuat Milen yang menggerutu panjang seolah masih saja menghindar.
"Sayang. Kamu tahu, aku terlalu membiarkanmu selama dua minggu tanpa aku ada. Apa kamu merasa puas, senang tanpa aku, masih tidak percaya keberadaan ku itu membuat kamu hilang dari kutukan?"
"Ya. Itu sangat menyenangkan. Jika tidak terlalu penting aku akan pergi bekerja. Tinggallah jika kamu mau!"
Sreeeth!!? Kamu berbicara tidak sopan sayang. Alva memegang kilat pinggang dan saling menempel. Membuat Milen terkesiap ingin melepas.
"Cih ... Milen. Kamu bekerja dimana. Sementara kamu tidak perlu ke kantor. Kamu lupa jika kamu akan menjadi nyonya .. Atau .. kamu berusaha menghindar?"
"Lepas. Jangan seperti ini, jika di luar ada yang lewat sangat malu Alva Muda!"
"Baik. Temani aku sarapan!"
Milen pun mencibir dirinya. "Huah .. sebenarnya siapa yang tuan rumah sih?"
"Kamu mau makan sekarang?" tanya Milen.
"Haduh .. belum jadi istri sudah seribet ini" gumam Milen yang kini berusaha lembut mengikuti alur Alva Muda.
Milen kini mengangguk berjalan ke arah kamar mandi. Menuju wastafel dan membasahi handuk dan ia siram dengan keran. Air hangat otomatis. Lalu memberikan pada Alva.
Alva mengambil handuk itu. Lalu membiarkannya menempel pada wajahnya agar pori pori masuk. Setelah itu menyeka seluruh dan terakhir ia memberikan pada Milen.
"Makanan apa yang kamu buat hari ini?"
"Heum ... hanya roti panggang dan nasi goreng seafood. Tapi akan aku sisihkan jika kamu tak bisa memakan makanan laut itu."
"Tidak perlu.. Aku hanya tidak bisa memakan ikan saja. Terimakasih sudah peduli."
__ADS_1
Milen menatap Alva. Bukan berarti ia perhatian, tapi ia takut jika pria di hadapannya itu akan kambuh ketika salah makan sesuatu karena ia tak hati hati.
Alva pun memakan santapan sarapan itu. Ia mengunyah demi helai satu suapan seolah meresapi. Lalu mengambil kembali satu sendok itu ke mulutnya.
"Pria ini. Sudah menumpang seperti tuan rumah saja. Akh.. Nasi goreng ku, kenapa dia banyak sekali makan. Hampir menghabiskan." batin Milen menatap dengan kunyahan roti panggang.
"Nasi goreng yang enak. Tapi kenapa buat sedikit sayang?"
"Hah. Karena itu ukuran satu porsi!"
"Buat lagi ya!"
"Tapi. Aku akan terlambat Alva. Kamu lupa saat ini ada jadwal pemutaran resmi?"
Hahahaha.. Alva tertawa menatap Milen. Ia menyentuh pipi Milen yang indah menawan itu dan berkata.
"Sayang. Kamu Lupa ini hari sabtu. Apa kamu sedang bermimpi?"
Akh.. Benar saja aku malu, mengatakan bermimpi mengapa aku jadi teringat pria di hadapanku adalah mantan suamiku yah.
"Owh tidak... pikiran yang jelek ini menggangguku."
"Biar ku tuangkan sop ayam jahe. Apa kau mau?"
Alva langsung mengambil mangkok kecil. Sementara Milen menuangkan sop. Milen merasa senang akan masakan yang benar saja habis dalam sekejap. Ia senang jika jerih tenaganya di hargai apalagi seorang suami.
"Kamu melamun sayang. Jika ku cicipi masakan mu sangat lezat. Tidak kah bodoh kamu menikah cepat?"
"Pria ini. Benar benar membuat aku kehilangan kesabaran." umpat Milen yang membuat mood sering berubah ubah dan mencoba menghiraukan perkataan Alva.
__ADS_1
TBC.