Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Kembali Bertemu


__ADS_3

Reina sudah putus asa, sudah empat jam mereka berpencar tak bisa ia dapatkan keberadaan Bima. Bahkan Reina sudah histeris, memeluk Kanya berharap sang pencipta, mempertemukannya.


Bibi Ros pun, segera hampiri Reina ketika ia sudah kembali dari musholla. Memegang Kanya, yang di genggam erat oleh Reina.


"Non! sabar, kita pasrahkan sama Tuhan. Bima pasti baik baik saja."


"Bima masih berusia 4, 5 tahun bi. Si kecil itu, mana bisa melawan orang dewasa." isak tangisan Reina, yang masih merengkuh Kanya.


"Rein, saya sudah lapor teman saya yang di polisi, mereka segera membuat laporan. Kita akan segera menemukannya."


Reina terdiam, ia menoleh menatap Azam yang berdiri sejajar duduk dengannya. Reina memiringkan senyuman berat, yang sedari tadi yakin jika kehilangan Bima adalah dari keluarga Azam.


"Bisa kau jelaskan, apa semua ini karena kamu Azam! Harusnya kamu jangan pernah datang lagi pada kehidupanku. Semua ini pasti ulah orang terdekatmu. Jika Bima putraku tidak kembali dengan baik baik! maka aku pastikan, kamu akan menyesal."


"A-aku pastikan Bima akan baik baik saja." lirih Azam mendekat ke arah Reina, yang tangannya sedari tadi di pegang pun Reina tak mau di sentuh.


Sementara Kanya, dibawa oleh Bibi Ros, dan pak Sup, yang pulang lebih dulu.


"Bi, jaga Kanya di rumah baik baik. Kalau perlu pintu semua ditutup, jangan buka pintu sebelum aku pulang bi. Reina harus ke kantor polisi."


"Iya non. Hati hati ya Non! Kanya pasti baik sama bibi."


Reina mengecup kening Kanya, meminta menunggunya di rumah dengan bibi, beruntungnya Kanya, yang ikut menangis pun bisa tenang kali ini. Sehingga Reina pergi di susul Azam.


"Aku yang setir! naik mobil aku aja Rein."


"Aku gak mau, pergilah Azam. Aku bisa sendiri, aku tidak sudi kamu masih berada disini dekat aku. Tolong berhentilah! kamu penyebab kekacauan ini." teriak Reina mengusir Azam.


Reina yakin, entah Tante Jing atau Shi. Ia yakin semua ini ulahnya. Sehingga ia berinisiatif ingin mencari mereka, kalau pun nyawa Reina taruhannya ia pun bersedia asalkan anak anaknya tidak terluka.


Sreet!

__ADS_1


"Reina, aku juga takut kehilanganmu dan anak anak kita! Jangan menghindar dariku, bahkan aku hidup tanpa milik keluargaku pun! aku siap melewatinya, kita hadapi semua ini bersama. Jangan hindar lagi, tes dna anak anakmu adalah anak anakku juga!"


"Tes Dna?" Reina menghapus air matanya, melepas eratan tangan Azam yang memeluknya kilat begitu saja dari belakang.


Reina merasa pria di depannya ini benar benar gila, tes dna dengan cara diam diam bagai pencuri.


"Aku tidak yakin dia anakmu. Azam! ayolah realistis. Kamu itu terlahir harus dengan wanita yang kaya, bukan aku yang seorang ..."


Cup!


Kilat telunjuk Azam, menyentuh bibir Reina. Menarik tangannya dan begitu saja Reina masuk ke dalam mobil. Azam tanpa aba aba, melaju pedal gas menuju kantor polisi. Sepanjang perjalanan Azam bicara, tentang dirinya dan Shi seperti apa, bahkan ibunya melarang pun Azam tak peduli.


"Bagaimana jika dalang semua ini itu ibumu? atau Shi.. istrimu?"


"Dia bukan istriku, jika masih istri pun kita hanya casing Rein. Aku sudah katakan padamu, dan jika ibuku terlibat. Aku akan tetap menyerahkannya pada yang berwajib. Bahkan jika aku putra satu satunya dibuang oleh keluarga, aku ikhlas. Rela demi hidup bersama dengan anak anak kita."


Deg.


Sampailah mereka di kantor polisi, di sana sudah ada Heru. Heru sudah memberikan laporan lebih dulu, namun bisa dicari 1x24 jam. Sia sia yang ada Reina kesal, pergi begitu saja tanpa Azam. Azam yang meminta Heru untuk memastikan gerik Shi dan ibunya. Ia pun mengejar Reina kembali.


"Rein kamu mau cari kemana, ini sudah hampir malam!"


"Aku ga peduli, aku akan kembali ke taman dan susuri setiap sudut jalan. Aku takut Bima kenapa kenapa, firasat ku Bima masih disana."


"Aku antar!"


"Ga usah! kamu harusnya temui mantan istrimu dan ibumu. Karena terakhir mereka ancam aku, jika aku mendekatimu." tajam Reina kesal.


"Fine! tapi saat ini aku yang kejar kamu, bukan salah kamu. Ayo kita susuri jalan taman sekolah anak kita, setelah itu kita temui Shi dan ibuku bersama. Sekaligus aku umumkan diriku akan menikahi mu!"


Deg.

__ADS_1


Azam yang bersabar, ia juga tersulit emosi menarik Reina dengan paksa. Hingga di dalam mobil hening tanpa sepatah katapun, Azam benar benar ngebut membuat Reina memegang erat gagang mobil.


"Kau ingin kita mati Hah?"


Sreeeeeth. Mobil berhenti di suatu tempat.


"Lima tahun lalu, aku benar benar tidak tahu wanita yang aku tiduri adalah kamu Ren. Aku benar benar mencari cctv yang Heru dapatkan adalah Shi, aku tidak tahu jika rekaman itu sudah di rekayasa. Bahkan saat itu aku ingin menyatakan cinta dan serius padamu. Percayalah padaku! beri aku kesempatan lagi Ren. Apapun itu, beritahu aku! kita hadapai bersama sama. Please!"


Azam menyatakan semua perasaan itu, dengan mengeluarkan air mata yang merah dan sembab. Membuat Reina terdiam tak bisa berkata kata sepatah katapun.


Mencari keberadaan Bima pun, hingga beberapa jam lelah terlihat adzan magrib pun Reina berhenti di sebuah mesjid.


"Kamu pasti tidak sanggup! di buang orangtua itu sangat menyakitkan! Jangan jadi anak durhaka, hanya karena aku. Jadi pulanglah setelah ini!"


Reina turun dari mobil, menuju mesjid. Namun Azam yang sudah mengejar Reina mengucap sepatah kata membuat Reina terus menangis.


"Bukankah sama! kamu kehilangan keluargamu, aku juga! aku hanya ingin bertanggung jawab, dan perasaanku tidak pernah pudar mencarimu Reina. Bahkan aku masih menjadi pilot, karena tujuan kita bekerja di inggris. Aku mengelilingi sudah sekian lama, mencari keberadaan mu. Jadi jangan larang aku menemui orang yang aku cintai. Dan kamu pantas aku perjuangkan."


Deg!


Aku tidak peduli, Reina meninggalkan Azam meski ucapan Azam membuat dirinya terharu dan takut.


Reina melangkah menuju mesjid, namun saat masuk ke dalam pelataran mesjid, setelah ia membuka sandal. Matanya lemas senyum, ia merentangkan kedua tangannya saat itu juga membungkuk setengah duduk.


'Bundaaa ...' teriak Bima, dari pelukan seorang wanita.


"Bima .. kamu disini nak! Bima .. Bima .. bunda begitu khawatir. Cup .. Cup." peluk menciuminya, membuat Azam, mengucap syukur dan berlinang air mata.


"Syukurlah! anak ku baik baik saja." lirih Azam, ikut mendekat.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2