Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Membakar Kemenyan


__ADS_3

Tidak begitu lama Brian mulai merasa bosan, tidak ada yang bisa ia lakukan. Lalu, tiba-tiba pintu apartemen Milen terbuka, membuat Brian sangat merasa terkejut. Kedatangan wanita yang mungkin itu teman Milen.


Melihat kamar Milen yang bersih, membuat mereka bingung, tidak biasanya mereka melihat kamar Milen rapi seperti ini.


"Ada gerangan apa ini? Tidak biasanya kamar kamu rapi seperti ini," kata Bebi mengumpat.


"Kamu kemari kok enggak bilang?" lirih Milen hampiri.


"Jawab dulu, tumben dirapihkan gini Mil."


"Mungkin dia lagi nyiapin tempat untuk bulan madu," sambung Fida, dan mereka pun tertawa terbahak saat menertawakan Milen.


"Aneh aja deh, kalian ngapain kesini lagi. Ganggu orang istirahat aja." sebal Milen yang melirik Brian dari samping.


Brian yang menyaksikan itu hanya bisa diam. Ia sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya.


Bebi dan Fida pun duduk di dekat Brian, hingga Brian berada di tengah mereka. Sementara Bebi sibuk menyiapkan cemilan dan minuman yang sudah mereka bawa.


Milen yang mendengar kebisingan langsung memakai handuk di pinggangnya. Ia sudah bisa menduga siapa yang datang. Milen pun langsung menuju ruang tamu, dan benar saja, ia sudah melihat temannya disana.


Melihat Milen yang hanya menggunakan handuk membuat Brian terkejut, Brian sungguh merasa malu. Brian pun teriak dan menutup kedua matanya. Milen pun langsung merasa gegabah, ia minta maaf dengan Brian, membuat Bebi dan Fida bingung melihat sikap Milen yang lagi lagi aneh. Milen pun kembali ke kamar untuk memakai pakaian.


Setelah selesai, Milen pun kembali ke ruang tamu, Milen merasa kesal saat menyaksikan keberadaan Brian yang terhimpit diantara Fida dan Bebi.


Dengan cepat Milen menyuruh kedua temannya pindah ke kursi lain, lalu ia langsung duduk di samping Brian. Melihat Brian tersenyum, Milen pun juga tersenyum, membuat temannya aneh.


"Lo senyum sama siapa, Mil?" tanya Fida.

__ADS_1


Milen lagi lagi lupa, ia pun mulai gegabah, ia tidak ingin memberitahu keberadaan Brian dengan mereka.


"Masa gue ketawa ..?" elak Milen.


"Trus tadi ..?"


"Dah sih, lanjutin aja nontonnya. Kalau selesai pulang gih, gue mau sendiri."


"Dih, mulai aneh nih si Milen." gerutu Fida.


Mereka pun kembali melanjutkan permainan, dengan semangat Brian memberi dukungan untuk Milen. Melihat ekspresi Brian membuat Milen bahagia, dan Milen pun berusaha untuk mengalahkan teman-temannya, semata-mata hanya untuk membuat Brian tertawa.


"Ayo, Mil. Kamu pasti menang, kalahkan mereka!" ucap Brian memberi semangat.


"Iya, Kak. Kakak, tenang saja, aku pasti mengalahkan mereka," jawab Molen keceplosan.


"Kakak? Kakak, siapa, Mil? Lo ngomong dengan siapa?" tanya Fida penasaran.


"Itu hanya trik gue untuk mengelabui Lo semua," jawab Milen beralasan. Dan untung jawaban Milen bisa diterima mereka.


"Sialan lo," Ketus Bebi mengumpat.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23:00. Fida dan Bebi masih sibuk main game. Brian pun mengatakan bahwa ia lapar, membuat Milen bingung apa yang harus ia lakukan.


Tidak ada pilihan lain, Milen pun harus mengusir teman-temannya, tidak biasanya Milen melakukan ini, namun demi Brian, Milen pun melakukan sesuatu yang membuat orang merasa aneh atas sikapnya.


"Ini sudah malam, Lo semua sebaiknya pulang. Gue ngantuk mau tidur, besok gue ada meeting," kata Milen. Milen berusaha mengatur ekspresi wajahnya, agar teman-temannya percaya.

__ADS_1


Lagi-lagi kedua temannya saling melirik. Sekian lama mereka berteman, ini pertama kali Milen mengusir mereka.


"Tumben Lo ngusir kita, jangan-jangan Lo mau melakukan sesuatu di sini? Apa lo menyembunyikan laki laki di sini?" tanya Bebi menebak tapi seolah menuduh Milen.


Brian pun langsung merasa, spontan jantungnya berdebar saat mendengar Milen ingin melakukan sesuatu. Brian melirik Milen dengan tajam, dan ia pun memberikan isyarat bahwa itu semua tidak benar.


"Cowo apaan? Gue bukan cewek ga bener seperti Lo," jawab Milen lagi.


Namun Fida tidak langsung percaya, ia bergegas bangkit, lalu mulai mencari di setiap sudut apartemen Milen. Ia mengira Milen sedang menyembunyikan laki laki dan mereka tidak ingin diganggu.


"Tidak ada apa-apa, lalu kenapa Lo ngusir kita?" tanya Fida lagi, dan Milen hanya bisa geleng-geleng.


"Sudah gue katakan, gue ngantuk, kalau Lo semua di sini, gue tidak akan bisa tidur. Besok gue ada meeting penting, jadi sekarang Lo semua pulang,"


Fida dan Bebi pun tidak ada pilihan, dengan terpaksa mereka pun bangkit dan pulang.


"Apa lo tidak mau kita temani, Mil? Apa lo tidak takut dengan hantu?" tanya Fida lagi, mendengar perkataan konyol Fida membuat Brian tersenyum.


"Zaman sekarang tidak ada hantu yang seram, hantu sekarang ganteng ganteng, jadi gue tidak akan takut," ucap Milen, mendengar pernyataan Milen membuat Brian tersipu malu.


"Apa lo yakin?" tanya Fida agi.


"Seratus persen gue yakin, jadi lebih baik sekarang kalian pulang!" kata Milen, lalu mendorong tubuh Fida.


Milen pun melambaikan tangan dan langsung menutup pintu, menyadari kunci cadang ada di tangan mereka, Milen pun mengunci pintu dari dalam, sehingga tidak ada yang akan bisa untuk masuk.


Milen pun langsung bergegas mencari kemenyan untuk dibakar, serta buah buahan untuk sesajen. Berharap setelah doa, Brian bisa makan dengan bantuan pembakaran dunia kematian, dengan mediasi kemenyan.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2