Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Kembalinya Azam


__ADS_3

Kali ini Reina menatap gedung, dimana itu adalah perusahaan Property terbesar, yang memiliki beberapa bidang anak usaha terbesar di kota yang ia lihat.


Perusahaan ini sangat besar dan tak jauh beda dari perusahaan ia bekerja satu tahun terakhir. Reina pun memberikan map coklat untuk melamar sebagai Kasir. Tapi nahas yang tersisa hanya satu untuk petugas kebersihan dan membuatkan kopi untuk para atasan ketika Mereka menginginkan.


Reina yang memang membutuhkan ia pun segera mengangguk dan menerima tawaran dari salah seorang divisi yang kebetulan kalang kabut karena satu karyawan telah dipecat atas kasus penggelapan dana. Dan harus mencari gantinya dalam sekejap.


"Kamu yakin, kamu lulusan sarjana di inggris lho?"


Reina memaksa dan tetap menerima, tanpa aba aba pun ia diterima sebagai karyawan itu. Dan esok ia harus segera masuk dengan jadwal yang ditentukan. Reina pun diantar untuk membuat nametag nama karyawan dan mengambil dua seragam ganti untuknya bekerja esok.


"Baiklah pak, saya terima pekerjaan ini gpp."


Setelah sampai dirumah Reina menatap wajah dua raja dan ratu kebahagiannya. Ia membersihkan diri dan memeluk sang anak. Hal yang sulit ia harus membesarkan tanpa sosok Pria yang ia cintai. Baginya cinta itu telah mati dan lebih buruknya ia telah ternoda tak mungkin ada pria yang menerimanya kelak. Jadi Reina fokus membesarkan kedua anak anaknya saja dan bekerja adalah hal utama.


Keesokan harinya lagi, Reina telah berada dalam kantor property, ia menunduk ketika seseorang turun dari mobil mewah. Hal itu ia lakukan karena perintah Spv ketika atasan datang ia harus menunduk.


"Pak Azam sudah tiba." bisik seseorang disebelah Reina.


'Azam nama itu mirip ..?' batin Reina, tak berani menoleh.


Heru sang asisten pun mengikuti Azam. Namun pertama kalinya ia menatap bos nya itu menatap karyawan petugas kebersihan dengan tak berkedip. Azam pun melangkah tapi sorot mata nya menuju wajah wanita yang memang baru ia kenal.


"Maaf pak.. dia Reina karyawan baru." ucap Spv bernama Lina.


Pak Azam dan asisten Heru pun melangkah dan melewati ke ruangannya. Hingga tiba satu jam kemudian Reina di perintahkan membuatkan teh ke ruangan atasan. Reina yang bingung pun harus bertanya dan meminta pada karyawan lain untuk takaran serta dimana letak ruangan atasan bernama Azama.


'Aku berharap bukan dia, pasti namanya saja yang mirip?' gumam Reina yang tak sempat melihat bagaimana wajah bos nya itu.


Lantai tujuh dimana ruangan itu menjulur pintu yang besar. Reina masuk sebuah pintu terbuka begitu saja, membuat Reina kebingungan.


Reina pun menatap di dalam ruangan itu hanya Seorang pria tampan, hidung yang amat mancung meski dari jarak sedikit Jauh. Reina juga menghela nafas ia mengingat kejadian malam itu seolah pria itu mirip di ingatkan pada masa lalunya.


"Tidak sepertinya bukan pria itu."


Reina pun segera masuk dan melewati celah pintu dan menuju dekat pada atasannya itu.


"Maaf pak, saya sedikit lama. Saya letakkan dimana pak."

__ADS_1


Pria itu tak menghiraukan hanya menunjuk dengan sebuah koran. Jika Reina harus meletakkannya di ujung dekat sebuah bingkai foto. Dan Reina pun meletakkannya, lalu pamit dan berlalu, ketika ia membalikan tubuhnya dalam tiga langkah.


"Tunggu.. siapa namamu?"


"Sa- saya Reina Pak."


Reina terhenti dan tak berani menoleh kebelakang. Namun pria bertubuh tinggi itu mendekat dan tepat di hadapannya.


"Angkat Wajahmu!"


"Ta- tapi saya tidak berani pak." dengan kilat Pak Azam mengangkat wajah Reina dengan tangannya.


"Maaf pak..., apa saya membuat ke-sal-ahan?"


"Ka- kamu Reina ..?"


"Azam. Maaf anda sepertinya salah orang pak!"


Reina pergi, saat itu juga ia seolah merasa terpukul ketika kembali pada pria masa lalunya. Sehingga ia segera bergegas pulang saat itu juga, dan mengajukan surat resign.


"Eeh, eh apa apaan ini?" lirih Lina Spv.


Sementara Azam kembali duduk, rasanya di ingatkan masa lalu membuatnya ingin mengejar keberadaan wanita yang ia cari, namun langkahnya terhenti.


"Pak! Hari ini landing ke inggris. Mari kita berangkat!" ujar Heru, membawa seragam pilot sang bos kala itu, meninggalkan nama seorang ceo di perusahaan CX sparepart mobil ternama.


Azam tak jadi mengejar Reina, sehingga waktu tersingkat nya membuat tidak Fokus, Azam yang kembali pada beberapa tahun lalu.


"Heru, jika kau mendapati orang yang kamu cari kembali, apa yang kamu lakukan?"


"Pak! apakah saya tidak salah dengar?" jawab Heru.


"Lupakanlah! mari kita bersiap ke bandara."


"Baik Tuan! tapi saran saya, anda harus bereskan, masalah anda dengan nyonya Shi, sebelum menemuinya." ujar Heru, lalu menancapkan pedal gas.


***

__ADS_1


Setelah sampai rumah Reina ingin menangis namun tertahan, saat kembali pulang. Dan sampai depan rumah ia disambut oleh Raja dan Ratu peri kebahagiaannya.


"Mama.. udah pulang Yee." ucap Kanya. Tak lama Bima pun memeluk sang Mama.


"Mama.. ayo main, Bima dan Kanya ingin mewarnai boleh?"


"Oke sayang.. Mama bersiap dan mandi dulu ya."


Kedua anak itu mengangguk dan saling bergandengan. Mereka menuju ruang TV menunggu sang mama tiba. Sang bibi pun ikut menemani dan saling bercerita. Pangeran dan Putri. Hingga selesai Reina makan malam bersama, dan saling ikut membaca dongeng setelah ia menemani sang anak melukis dan mewarnai.


Di malam hari ia membuka website tentang siapa Azam di Perusahaan Property CX. Ia pun begitu terkejut ketika ia menemukan perusahaan itu adalah saingan bisnis kedua orangtua dahulu yang menyebabkan kebangkrutan. Sudah menjadi bubur yang Reina harus lakukan adalah untuk menjauh dari daerah kantor tersebut, agar Reina tak pernah lagi bertemu.


Ingatan dulu saat ia hamil, ayah Alva melawan perusahaan seseorang dimana itu adalah keluarga Azam. Namun ada yang aneh saat itu, yakni Azam pria yang sempat saling jatuh cinta dengannya, terhalang restu karena suatu masalah saat ayah Alva bicara, dirinya tidak boleh bersama pria itu karena akan mendapat kutukan petaka, yang membuat Reina banyak bingung akan ucapan ayahnya.


"Bunda kenapa bengong, apa ada yang jahati bunda?" tanya Bima, bocah itu membuat lamunan Reina jadi senyum.


"Iya bunda, kasih tahu kami Bun. Biar kita pukul pakai ini!" ucap Kanya, mengangkat tongkat peri.


"Kita sihir jadi kodok ya dik. Kalau ada yang berani jahat sama bunda." bisik Bima pada Kanya.


"Heh! iya kak, betul banget itu." celotehnya membuat Reina sebagai seorang ibu manapun terhibur.


"Enggak sayang! Bunda gak apa apa kok, sekarang kamu mau makan kue gak? biar bunda buatin puding, atau cake .. ?"


"Pancake aja bun." serentak.


Sehingga Reina menyiapkan diri membuat pancake durian yang anak anak sukai. Hingga beberapa saat mereka kembali bermain hingga lelah, ada perasaan yang membuat Reina ketakutan. Ia berharap Azam tidak pernah datang mencarinya, apalagi tahu keberadaan kedua anak anak yang ia sembunyikan sejak lima tahun lamanya mereka tidak pernah berkomunikasi.


Tok! Tok!


Sebuah pintu terketuk, membuat Reina menatap siapa yang datang semalam ini, sesaat bibi Ros beranjak ingin melihatnya siapakah tamu yang datang.


"Bi, jangan dibuka!" teriak Reina, membuat mata sang bibi dan kedua anak anaknya menoleh.


"Kenapa non?" ikut terkejut.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2