
Saat Milen memalingkan wajah ke arah Brian, tidak sengaja mata mereka pun saling bertemu, sehingga membuat keduanya salah tingkah.
Dengan cepat Brian langsung memalingkan wajahnya dari Milen dengan senyum yang tipis, Milen pun melakukan hal yang sama, dan kembali fokus melajukan mobil.
"Apa dulu, Kamu, punya pacar?" tanya Milen.
Brian pun mencoba untuk mengingat namun sia-sia.
"Aku tidak bisa ingat apapun," jawab Brian.
Milen tidak ingin membuat Brian, semakin merasa sedih, sehingga ia hanya mengangguk mengerti. Padahal Milen berharap, Brian bisa ingat kisahnya dulu bersamanya.
Keadaan mereka pun terasa canggung, Brian dan Milen seperti merasa sesuatu yang sangat sulit untuk dijelaskan.
Diam-diam Milen kembali melirik Brian, namun langsung tertangkap oleh Brian lagi. Milen yang grogi langsung memalingkan wajahnya kembali dan fokus menatap ke depan.
Menghabiskan waktu 30 menit, mereka pun akhirnya sampai. Saat Milen ingin membuka pintu mobil, Brian sudah keluar, melihat itu Milen hanya bisa mendengus.
"Ayo, Kak. Kita sudah sampai," ucap Milen. Brian pun langsung jalan untuk mengimbangi langkah kaki Milen.
Seperti biasanya, kecantikan Milen selalu memikat seluruh karyawan, saat Milen membuka pintu, semua akan berlomba menyapa dan bahkan tidak segan-segan untuk menggoda. Brian yang menyaksikan itu hanya geleng-geleng dan fokus berjalan di samping Milen.
__ADS_1
Tanpa sadar, kedatangan Diva membuat Milen meminta Brian berada di ruangan, dan jangan berbicara.
Setibanya di ruangan, Diva pun langsung datang menghampiri Milen. Seluruh pimpinan direksi sudah menunggu dirinya. Milen pun langsung menuju ruang meeting tanpa sempat mengajak Brian.
Melihat Milen yang pergi begitu saja, membuat Brian bingung, ia juga tidak berani untuk mengikuti Milen. Dan Brian pun memutuskan untuk menunggu Milen di sana. Milen yang langsung sadar dengan keadaan Brian, terpaksa meninggalkan Brian di ruangannya, ia yakin Brian tidak akan pergi, sebab ia sudah meninggalkan dupa di dalam tasnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14:00. Perut Brian mulai keroncongan, di saat itu pula, pintu ruangan Milen pun terbuka, mata Brian langsung terpana saat melihat pria yang memiliki tinggi berkisar 185 cm. Dia adalah Diva. Brian masih ingat jelas foto Diva yang ia lihat di apartemen Milen.
Saat Diva melangkah, Diva merasa hawa yang berbeda, tidak biasanya ia merasa seperti ini, namun dengan cepat Diva menghempas perasaannya itu. Siang bolong begini mana mungkin ada hantu gumamnya.
Brian pun terus menatap Diva, ia juga semakin mendekat dan memperhatikan wajah Diva dengan cermat.
Milen yang baru selesai meeting langsung menuju ruangannya, ia bahkan tidak memperhatikan ponselnya di mana ada pesan dari Diva mengatakan ia sekarang berada di ruangannya.
Saat Milen membuka pintu, Milen pun langsung memanggil nama Brian.
"Kak, Brian." spontan Brian dan Diva pun langsung menoleh, melihat keberadaan membuat Milen langsung menelan air ludah.
"Kak, Brian. Dia siapa Milen?" tanya Diva dalam keadaan tegang begitu saja, Milen masih menyempatkan diri melirik Brian yang berada di sudut ruangannya.
Milen pun menarik nafas, setidaknya ia masih merasa lega saat melihat Brian masih berada di sana.
__ADS_1
Dengan tenang, Milen pun menghampiri Diva yang sedang menyiapkan makan siang di mejanya. Milen yang ingin mengalihkan pertanyaan Diva, langsung memeluk Diva dengan manja. Brian yang menyaksikan itu hanya bisa diam dan memutuskan untuk menghilang. Brian tidak ingin Milen menjadi canggung.
Melihat Brian menghilang, membuat jantung Milen berdebar, Milen sangat merasa bingung apa yang harus ia lakukan. Jika mencari Brian apa yang harus ia katakan dengan Diva, dan jika membiarkan Brian. Ia juga takut Brian kenapa-napa, jujur saja sosok arwah suaminya itu berharap tetap tinggal bersamanya namun mas Diva harus tahu apa yang terjadi.
"Milen, kamu kenapa? Wajah kamu seperti sedang memikirkan sesuatu? Apa kamu tidak senang aku ada di sini?" tanya Diva beruntun. Milen terlihat sangat bingung dan juga merasa panik.
"Tidak kok mas Div, aku hanya kepikiran pekerjaan, banyak yang harus di urus," jawab Milen mengelas, padahal pekerjaannya semua lancar dan tidak ada masalah.
Diva pun langsung menuntun Milen untuk duduk lalu duduk dekat dengan Milen. Biasanya Milen, sangat menyukai seperti ini, namun sekarang ia sangat merasa resah.
Diva pun langsung membuka bekal yang ia bawa dari sang mama, lalu menyuapi Milen yang jarang bertemu.
Perut yang tadi terasa lapar, kini tidak selera makan, selera makan Milen, hilang begitu saja, yang ada dalam pikirannya hanya Brian dan Brian saja.
'Haruskah aku bicara pada Diva. Jika aku kembali melihat sosok arwah. Dan arwah itu adalah suamiku sendiri, yang kini tidak ingat aku ataupun kisah kami dulu.' batin Milen.
Ryan tahu apa yang ia lakukan salah, Ryan pun memutuskan untuk kembali, ia takut membuat Hanna kepikiran. Setidaknya ia harus pamit untuk keluar, agar Hanna tahu kemana ia akan mencarinya.
Brian pun kembali ke ruangan Milen, namun tidak di sangka Brian hadir tepat di depan Milen, sehingga membuat Milen terkejut hingga ia batuk tersedak. Tidak hanya itu, Milen juga mengeluarkan makanan yang sudah ada di dalam mulutnya sehingga mengenai Diva.
"Mil, kamu kenapa sih ..?" tanya Diva.
__ADS_1
Sementara sosok Brian, tak kasat mata. Bingung sendiri entah kenapa ia nyaman jika mengikuti keberadaan Milen. Atau ia juga sempat berfikir, apa di kehidupannya dulu mereka pernah bertemu.
Tbc.