Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Mencari Bahagia


__ADS_3

"Ayah, kok semua pada kenal ayah?" bisik Kanya.


"Benarkah? Mungkin karena papan banner di bandara, ada sebuah bingkai Co Pilot, dengan tujuan tugasnya Nak. Seluruh bandara tersebar sayang. Kan ayah punya id."


"Wah hebat, Kanya boleh gak jadi pilot?"


"Serius, kamu mau jadi pilot?" senyum Azam.


"Eum. Tapi Kanya sebenarnya pengen jadi Dokter, tapi Kanya gak suka rumah sakit bau obat. Apalagi waktu jenguk Ayah, Kanya tahan muntah loh."


"Eum. Kalau begitu, Ayah akan serahkan impian anak anak ayah. Jadi apapun, Ayah dan Bunda akan dukung."


Sepanjang perjalanan, Bima dan Kanya mengoceh banyak tanya pada sang Ayah, membuat wajah Azam nampak tak pernah lelah dengan pertanyaan pertanyaan itu.


Reina dan Azam, kini sudah berada dalam awak pesawat. Tidak tanggung tanggung, Azam memesankan tiket business class, kenyamanan untuk kedua anak anaknya yang berada di samping jendela, duduk saling berhadapan.


"Azam, harusnya kamu pesankan seperti biasa saja. Terlalu boros seperti ini." lirih Reina.


"Aku ingin memberikan yang terbaik, jika yang biasa. Aku takut, bangku kita terpisah. Aku tidak mau kedua anak anakku terpisah duduknya, dengan seperti ini kita kompak kan?"


Azam mengambil selimut untuk kedua anak anaknya, memakaikan penutup telinga. Dan tak khayal mengajari Bima menyalakan monitor.


"Keren. Ah, Bunda. Kanya dan Bima pernah satu kali naik pesawat. Tapi tidak seperti ini loh. Bunda ini keren sekali."


"Iya sayang. Ayo pakaikan lagi penutup telinga, bising suara pesawat tidak baik. Ayo berterima .."


"Terimakasih Ayah." kecup Kanya dan Bima, sebelum Reina meminta kedua anak anaknya berterimakasih, maka serentak mereka sudah berbicara lebih dulu.


"Sama sama sayang."


Kedua anak anak itu asik dengan menonton acara, dingin memang itulah. Azam melirik Reina yang sudah selimutan, dan seperti mendengarkan sebuah music, mencari cari suara yang ingin ia dengar.

__ADS_1


"Apa kamu kedinginan?"


"Eum, business class dengan yang biasa, sungguh jauh berbeda. Ah, sudah lama sekali, bahkan dulu aku bekerja tidak pernah di awak class spesial. Kamu kan tahu, aku selalu di awak pesawat class bawah."


Azam memiringkan tubuhnya, menarik selimut untuk merapatkan untuk Reina lebih hangat. Dengan berdegub, Reina yang menyentuh pipi Azam, ketika merapatkan hangat, membuat diri Reina benar benar salah tingkah. Melirik kedua anak anaknya serius, Azam menatap wajah Reina dengan senyuman.


Cup.


"Azam." dengus Reina, yang kembali menurunkan intonasi suaranya, terlihat kedua anak anaknya juga masih serius.


Kilat curi curi kecupan, membuat Reina kembali salah tingkah, kaku tidak banyak kata, bahkan Asam memandang wajah Reina nampak dengan tatapan dalam saja, membuat ia grogi.


Azam bahkan memegang tangan Reina, dan menciu-mi jemari lentik seputih susu.


"Bisakah, nanti malam kita hon-ey-mo-on." kata kata Azam, yang terpatah membuat Reina membulat.


"A-ku. Eum itu," gugup Reina, menoleh ke arah kursi lain.


Reina dalam batin masih amat menderu, dimana tidak ada yang salah ketika Azam meminta haknya, lagi pula mereka memang pasangan suami istri. Entah rasanya, haru dan bahagia menggumpal, apakah Reina harus menyiapkan diri.


'Sepertinya aku punya ide, kebaikan Azam. Sudah saatnya aku memberikan surprise untuk ayah dari kedua anak anakku.' batin Reina, senyum senyum.


Lalu di lirik Azam, yang mengerutkan alis sebelah, melihat istrinya nampak senyum senyum sendiri.


"Kenapa, kamu senyum dengan siapa?" goda Azam, seolah tahu isi kepala Reina.


"Enggak, udah napa sih. Kamu jangan bikin aku salting, jangan mandang aku kaya gitu. Aku malu, Zam."


"Kamu malu sama aku, aku suami kamu loh?" menggelitik tangan Azam ke dalam pinggang Reina yang seolah reflek dibalik selimut, menyentuh sesuatu Reina tak sengaja.


"Zam .." desiran itu membuat Azam kembali tegang, merapatkan posisi duduknya.

__ADS_1


Di saat bersamaan aba aba pramugari, mengatakan dengan banyak kode keamanan, dimana pesawat akan segera lepas landas, transit di SB Changi.


***


Di Tempat Lain.


Bibi Ros, saat ini menepi di sebuah hunian rumah tua, pohon yang rindang bak tak terawat.


"Assalamualaikum." jawab bersamaan dengan suami.


"Walaikumsalam."


Paruh baya wanita memegang sapu, hampiri Bibi Ros dengan menelisik kedua mata seolah mengingat ngingat.


"Bidan Mur, apa benar ini rumahnya?"


"Iya saya sendiri. Masuk bu, pak!"


Pantas bibi Ros tak mengenali, karena sang bidan dahulu berbeda. Rupanya ada kecelakaan di rumah sakit, membuat pipi bidan itu ada bekas luka bakar.


Beberapa jam mereka bercerita, sang bidan baru ingat, ketika membuka berkas.


"Alhamdulillah, anak ibu saat itu dibawa dinas sosial. Saat itu seorang pria paruh baya, sepertinya orang berada. Dia mengadopsi anak perempuan, karena rindu dengan anaknya yang hilang dibawa mantan istri. Ini alamatnya, semoga kedepannya bapak ibu bisa bertemu. Ini surat dari kuasa saya, bidan yang memberikan hak asuh kepada bapak tersebut. Semoga diterima baik, dan lancar ya pak .. bu." ujar bidan Mur.


"Terimakasih banyak loh bu bidan. Saya yang salah, andai saat itu kami bisa menebus. Mungkin anak kami sudah dalam pelukan kami, tumbuh bersama kami. Tapi kami hanya ingin melihat sekali saja, meski kemungkinan anak itu tidak mengakui kita orangtua kandungnya yang miskin."


Bibi Ros, menatap foto dan alamat pria paruh baya, nampak tak asing. Bibi Ros dan pak Sup saling menatap, karena syok akan foto dan alamat tersebut.


"Bu bidan yakin, pria ini dan alamatnya?"


"Iya bu, 100%." senyum bu bidan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2