Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Jin Qorin Keluarga


__ADS_3

Saat menuju pulang, Milen melihat Brian yang duduk termenung menutup telinga. Tidak terlihat satu pun arwah kekasih Brian, yang Melin lihat sebuah benda berjatuhan nampak Brian mengamuk seolah sedang tidak enak hati.


Tapi ada segumpal arwah hitam, bergumpal bagai gangsing dan menembus pintu rumah Brian.


“Tempat kamu bukan di sini.” Melin bersuara dengan raut sedih.


“Kamu mau ikut dengan kami?” tanya dua paruh baya, dengan senyum mengambang di wajahnya. Melin tetap tidak mengizinkan arwah itu masuk ke rumah Brian. Melin segera mengikuti dan menunjuk bagai menyentuh gumpalan arwah tersebut dari jarak empat puluh centi.


Di belakang kedua arwah tersebut terbuka sebuah pintu yang menampilkan padang rumput yang tidak berujung. Di belakang Brian ada sebuah pintu yang tidak dapat terbuka dan masih terkunci. Di pintu tersebut bertuliskan 10. Brian terkejut melihat Melin yang mengulurkan tangannya seolah memintanya memejamkan mata dan berpegangan, dan raga Brian serta Milen terpental menuju lorong putih.


“Aku belum meninggal kan ya?” tanya Brian dengan raut sedih.


Milen mengangguk, ia pun berkata, “Ambil bunga tulip di atas meja kamu Brian. Kamu harus kembali ke ragamu setelah melihat ini.” Milen menjelaskan masih dengan raut sedihnya.


Brian berlari ke arah pintu di belakangnya, ia dapat berlari normal. Namun ia tidak dapat membuka pintu tersebut.


“Aku belum bisa kembali,” ujar Brian dengan raut sedih pula. Milen menjerit. “Di kunci?”


“Lebih baik kamu ketemu Mirah dulu, dia nyariin kamu tadi. Beberapa arwah memintaku mempertemukan kami Brian.” Milen menyarankan.


“Aku bisa keluar dari sini?” tanya Brian.


Milen mengangguk. Ia berjalan mendekati sebuah pintu yang berada di sisi kanan mereka. Brian mengikuti di belakangnya, Milen pun memilih untuk tinggal di ruang gelap tersebut menunggu kedatangan Brian kembali.


Cahaya membutakan mata keduanya, Brian berada tepat di sini raganya. Ia dapat melihat kedua orang tuanya dan Ima sang kakak. Brian sangat terluka ketika melihat kedua orang tuanya menangis. Tidak lama, ia memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan karena tidak sanggup melihat kedua orang tuanya.


Brian sekarang berada di lorong rumah sakit, ia dapat melihat ketiga orang yang ia kenali. Raut ketiganya sama tetapi di mata Brian, Mirah lebih muram. Brian seolah melayang untuk mendekati ketiganya, sementara Milen tidak berada di sisinya entah kemana ia pergi.

__ADS_1


“Hey, jadi gini ya rasanya jadi arwah gentayangan.” Brian bersuara lirih di hadapan ketiganya. Bersamaan keduanya mendongak menatap Brian. Hanya Mirah yang tidak dapat mendengar suara Brian.


“Brian!” seru Mirah.


Ketiganya berada di tangga darurat di rumah sakit sekarang. Tidak banyak orang yang berada di sekitar sini karena mereka lebih memilih menggunakan lift. Ketiganya menyorot Brian yang menampilkan sederetan giginya yang terlihat tembus pandang.


“Kamu masih bisa cengar-cengir gitu? Kamu tidak takut?” tanya Ima.


"Aku merindukan kalian, seolah sangat terobati. Bunda benarkah telah tiada, Brian mendapati kabar pesawat bunda hilang tadi sore, sangat mengejutkan kalian bisa berkumpul dan bertemu. Sementara Brian seorang diri di dunia."


"Maafkan kami nak!" ujar arwah orangtua Brian.


“Brian. Kamu tidak seperti kami, pergilah! kamu belum lihat arwah yang seram. Di sini tidak aman, masih banyak arwah yang sedih karena sesuatu yang berat kami tinggalkan."


"Bunda, Ayah! kak Ima. Insyallah Brian ikhlas, dan Brian pasti akan selalu merindukan kalian. Brian janji akan menyatukan makam, ketika makam bunda telah ditemukan."


Itulah yang dikatakan arwah Ima, sehingga Brian senyum pamit melihat keluarganya yang tersenyum lalu menghilang. Sementara Brian melayang dan tersedot kala sebuah pintu ada uluran tangan Milen yang kembali menariknya. Anehnya dalam beberapa saat Brian membuka mata dan ia sekarang di dalam rumahnya.


"Udah sadar?" tanya Milen, yang memberikan segelas air minum. Beberapa jam Brian termangu kala Milen menceritakan hal banyak dan janggal, sehingga ia memainkan kotak blody marry sendiri, tanpa beri tahu Brian. Semua karena arwah yang datang dan Milen memberikan surat dari bandara Turki lewat pos.


"Gue turut prihatin ya! lo yang sabar Brian." ujar Milen, yang kini bicara normal.


"Gue sedih Milen, kenapa saat gue terima berita bahagia kemarin, nyokap mau pulang dan urus makam kak Ima. Malah hilang di pesawat, anehnya lagi tadi gue liat keluarga gue berkumpul." sedih Brian.


"Itu adalah kumpulan jin qorin, yang menyerupai! sedikit pembawa pesan, dan juga hanya alibi memutar pikiran kita yang berandai andai." jelas Milen.


“Aku melihat Mirah tadi, dia dalam bentuk roh juga. Mending lo berdoa sekarang!”

__ADS_1


Milen mengingatkan. Brian melirik Melin lalu menggeleng menatap Milen. Gadis itu tidak ingin Milen mengetahui bahwa kekasihnya yang datang dalam bentuk roh, meminta maaf atas skandal dengan sang dosen di perkemahan camping waktu lalu.


Milen mengerut dahi, ia tidak pernah menyangka jika Brian, memiliki hidup yang hampir sama dengan dirinya. Orang tuanya jarang berada di rumah yang berbeda hanyalah Ima, satu satunya ia memiliki seorang kakak, namun nahas ia harus kecelakaan tepat di hari ulang tahunnya. Dan belum lama Milen melihat pesan gembira jika bunda Brian akan kembali ke indonesia, tapi sore ini dinyatakan pesawat yang di tumpangi hilang.


“Nginep rumah gue aja!" ujar Milen ntuk mengajak Brian yang sulit di atasi, karena pikirannya guncang tersebut.


"Enggak." lirih Brian.


"Kalau gitu gue nginep di rumah lo sekarang! sebagai teman baik, bff. Gue ga mau lo kenapa kenapa." senyum Milen bermaksud menghibur.


Tiba-tiba kilat dari langit terlihat dari jendela, disusul dengan gemuruh yang menggelegar. Milen dan Brian menutup telinganya.


Sedangkan Milen hanya terdiam sambil menatap keluar jendela, menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan.


Suara air yang mengenai genting dapat membuat Milen selalu takjub. Milen selalu mengharapkan hujan itu berkah dan penenang. Sebab itu segala penggiring hujan seperti kilat dan gemuruh sama indahnya dengan hujan.


Kalian tidak akan bisa merasakan dan mendengar keindahannya kalau kalian tutup mata dan telinga. Milen berpendapat dengan mata yang masih tertuju pada jendela.


Brian tercenung, mendengar ucapan Milen yang persis mimpi buruknya selalu berkata demikian.


“Segala hal tentang dia selalu membuat aku terkejut. Semakin dalam aku mengenal dia, semakin aku merasakan kalau dia punya dunia yang berbeda. Padahal kalau dipikir aku punya kemampuan yang sama dengan Milen. Apakah gue terlalu maksain hidup layaknya manusia biasa?” lirih Brian, ia mendekat dan merangkul punggung Milen, seolah memeluk.


"Brian, lo ngapain?" bermaksud melepas tangan.


"Ssst..! izinkan gue bersandar sebentar aja Milen! semakin hari, semakin kita selalu jalani kehidupan berbeda dari manusia umumnya. Apakah gue terlalu nyaman, kita sama sama tidak punya keluarga bukan?" ujar Brian. Membuat Milen membeku masih menatap jendela, yang terlihat gelap dan kilat yang menyambar.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2