Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
Arwah Hitam Tidak muncul


__ADS_3

"Apa wanita ini spesial. Mengapa Alva jadi gila merubahnya, demi menyukai wanita telah menikah?" tanya dokter Rob, ketika melihat Alva pergi.


"Perjalanan cinta yang panjang. Kau akan tahu dengan sendirinya!" titah Ale, asisten Alva kala itu, menatap Rob yang dengan sendirinya memicing senyuman miring.


Milen pun terdiam. Ia menyesal ketika melakukan hal bodoh dan ceroboh. Lalu ia meminta maaf ketika Alva, kembali keluar dan memegang gagang pintu di ikuti Ale.


"A-aku. Aku minta maaf. Maaf membuat anda repot saat ini!'


"Kau meminta maaf. Pikirkanlah nasib selanjutnya, jika hasil membaik kamu bisa pulang!"


Hal itu membuat Milen terbelalak kaget, pasalnya ia memang ingin cepat menemui kedua anak anaknya yang jadi utama. Tapi Milen terkejut ketika seseorang mendekatinya kembali dan menatap, mengangkat dagunya.


"Apa yang mau kamu lakukan?"


"Kamu akan kembali bersamaku. Jadi tetap di sini untuk selesai pengecekan gelombang pada kepalamu. Karena aku tak ingin calon istriku terjadi sesuatu nanti! Milen, kelak kamu akan tahu sendiri, hanya saja aku ingin kamu tahu aku akan bahagiakan dirimu! lupakan dia, aku akan memutus rantai kesialan dan mata batin mu tidak akan pernah terlihat lagi, semua karena aku."


"A-Aapa. Calon istri?"


"Tapi saya punya keluarga. Kedua anak anak saya pasti mengkhawatirkan saya. Saya mohon, saya ingin menemui Fara agar kami bisa berangkat bersama!"


"Mereka bukan anak anak darah dagingmu kan, kamu lupa dengan Azan. Kamu tidak ingin tahu keberadaan aslinya?"


Deg.


Milen menjatuhkan dirinya duduk tersungkur memegang kaki Alva saat dia menjelaskan banyak hal. Saat itu Alva memberikan punggung, melihat hal itu. Alva memberi tatapan pada Ale dan Rob untuk keluar dari ruangan medis.

__ADS_1


"Apa maksudnya. Itu ruangan kerjaku, mengapa aku seorang dokter di usir?" tanya Rob, gerutu tapi ditenangkan asisten.


Ale hanya memberi tatapan tajam. Dan menunggu di luar. Sementara Rob merasa kesal karena ia seorang dokter. Tapi karena ulah sahabatnya yang bersama wanita menjadi jatuh harga dirinya.


"Ale. Jika dua sejoli di dalam telah selesai hubungi aku. Apa jadinya jika aku masih di depan pintu menunggu. Tidak lihat name tag dan id ku adalah dokter terhebat di island. Ingat aku bukan pengawal upin ipin!"


Ale menyempitkan satu alis. Ia pun bingung karena Rob menggerutu sepanjang detik padanya. Hingga ia tetap diam dan menunggu intruksi dari bosnya.


Di dalam, Alva membangunkan Milen. Ia meminta dirinya bersiap menemani makan malam bersama dirinya untuk sebuah acara penting. Lalu Milen yang terkejut saat dia bersimpuh, Alva dengan cekat membangunkan tubuhnya dan menyentuh dagunya. Alva ingin sekali menutup kecemasan pada ranum Milen yang begetar kala itu. Ada sudut mata yang penuh gairah dengan bibir yang membuatnya jatuh ingin memiliki.


"Aku masih menunggumu. Dengan seperti ini aku pastikan akan membahagiakanmu Milen. Meski bayang bayangmu adalah Diva, tapi dia bukan pria yang pertama kamu cintai bukan. Tapi cintaku padamu bukanlah kebohongan."


"Siapa pria ini. Mengapa dia mengatakan aku calon istrinya. Mengapa wajahnya membuat aku teringat mantan suamiku, benarkah dia Alva Muda, jika umi dan abie nya tahu, Apa jodohku adalah suamiku, sehingga pria ini begitu mirip meski mata itu seperti Alva muda yang teduh ketika menatap seperti ini. Tapi saat aku tanya sebelum pingsan, dia tidak mengelak jika dirinya Alva Muda. Astaga ..."


Milen dan Alva saling menatap sendu dengan lama. Mereka berbicara dalam batin sehingga sebuah lampu terjatuh.


"Aaaakh... Tidak !!"


Dengan sigap Ale mendengar kegaduhan takut terjadi sesuatu. Ia membuka pintu, tapi ia langsung menutup mulut dan membuang wajahnya kesamping saat melihat big bos nya berada di atas tubuh Milen.


"Ma- maaf bos!" Ale menutup pintu kembali dengan gugup.


"Maaf. Apa bisa anda menyingkirkan tubuh anda?" pinta Milen.


Lampu yang hampir terjatuh. Ia tahu jika pria di hadapannya membantunya. Tapi ia tak bisa berfikir jernih, saat pengawal masuk dan melihat semuanya.

__ADS_1


"Aku harus jelaskan. Jika tadi itu bukan seperti yang dia pikirkan!"


"Tidak perlu. Jangan menjatuhkan harga dirimu. Cepat bersiap, ikuti aku!"


Sial.


Monster ini benar benar membuatku tak berdaya. Dia pandai memerintah, apa aku harus melunak meski berpura pura. Mungkin dengan aku mengetahui kelemahannya aku bisa pergi cepat dari sini. Benak Milen yang melangkah menatap langit langit ruangan rumah sakit yang seperti hotel berbintang.


"Apa ini rumah sakit pribadi. Mengapa berbeda sekali dengan rumah sakit di ibu kota." Milen menarik nafas.


Hingga sampai lah. Di mansion yang bertabur emas dua puluh empat karat. Milen di buat bingung dan hanya menelan saliva karena menatap takjub. Tak lama seorang wanita paruh baya meminta dirinya ke kamar yang telah di sediakan.


Setelah Milen membersihkan diri. Ia menatap tiga tas untuk ia coba dan kenakan. Milen menatap gaun indah yang berpadu dengan nuasa motif yang ia suka, terlebih ia telah mencoba dengan menempelkan saja tanpa memakainya ketika menatap cermin.


"Semuanya bagus. Tapi ini terlalu terbuka dan mewah. Apa tidak ada yang lain?"


"Tuan hanya memberikan ini. Sisanya masih dalam perjalanan nona."


"Apaaa. Perjalanan?" Apa ga berlebihan dia membuat aku bingung dengan seperti ini saja membuat aku frustasi. Apa bedanya aku mendampingi Diva yang tak mengatur hidup dan baju yang ku kenakan, tapi dia selalu berganti pasangan meski aku memaafkannya. Tapi dia adalah bosku, jangan jangan semua ada kaitannya dengan Alva Muda di island ini.


Tapi mengapa monster ini seperti ingin memakan dan membuat aku terjerat dengan keberadaannya, masih bergumam Milen.


"Nona. Tuan datang."


Tapi Milen yang masih membayangkan lamunan memikirkan Diva mantan suaminya. Juga memikirkan bosnya Alva, kini yang berbicara ia adalah calon istri membuat ia berfikir keras untuk merencanakan agar pria ini membencinya. Sehingga ia bisa bebas dengan aturan langkahnya tanpa mendapat setuju atau tidak.

__ADS_1


"Aku harus apa .. Bayangan hitam itu benar benar tidak muncul di mansion ini?" gumam Milen yang merasa aneh, jika boleh jujur lebih baik Milen membantu para arwah saja ketimbang terbelit cinta nan rumit.


TBC.


__ADS_2