
"Karena kalian, kami akan terbongkar! jadi ada baiknya kalian, kami lenyapkan sekarang juga!" ujar pria dengan wajah bersarung hitam.
Melin melihat tatto yang mirip dengan pelaku, sehingga ia memencet tanpa orang itu tahu dari bilik belakang tangannya, Brian membusungkan tongkat agar tiga pria itu pergi.
"Jadi bapak yang bunuh teman saya kan, kalian sadis. Harusnya dihukum mati agar mengurangi populasi manusia berhati iblis yang sangat jahat! kalian tidak punya hati, orangtua mereka sangat sedih. Bagaimana jika semua terjadi berbalik pada keluarga bapak?!" teriak Melin.
"Banyak omong, bocah kencur! kau mati sekarang, jangan nasehati kami. Hyaak."
Melin dan Brian menunduk, Brian melindungi Melin. Tapi belum sempat lima centi, beberapa polisi mengerahkan senapan. Membuat pelaku yang mencelakai Melin dan Bryan tidak jadi, ia ketar ketik pergi. Tapi sebuah borgol sudah menerjam mereka.
"Angkat tangan! kami tim polisi!"
Satu pelaku ditembak kakinya, satu lagi mengenai lengannya. Melin dan Brian yang panik, tak punya bela diri ia menarik nafas dengan lega.
__ADS_1
"Udah di amanin sama polisi, lepasin badan gue!" ujar Melin menatap tajam.
"Eh, iya. Sorry Mel."
"Modus lo." sebal Melin, ia menepuk celananya banyak daun yang menempel.
"Pak Diva." teriak Melin dan Bryan spontan.
"Terimakasih, haah. Kalian best, akhirnya banyak kasus yang misteri, karena kalian kami tenang. Oh, ya kasus dosen kalian pak Kola! seseorang ingin menemui kalian ke kantor ya! saya tunggu!" ujar pak Diva.
"Biasa pak, mau ambil celengan ayam sepuluh tahun." cetusnya, membuat Melin melirik.
"Baiklah, sampai jumpa di kantor ya, Hanna. Brian!"
__ADS_1
"Yups, ok pak Diva." senyum mereka.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan aku ingin bersantai dulu hari ini. Setidaknya agar besok ketika aku sudah harus bekerja, aku akan lebih fresh. Jadi segera saja kulangkah kan kakiku menuju sebuah pondok yang letaknya dekat dengan tebing yang langsung menghadap ke pantai.
Kata Brian, pamannya sengaja mendesain pondok di sana agar bisa menikmati pemandangan indah ketika pagi dan sore hari. Bahkan, kata Brian jika beruntung akan melihat kumpulan ubur-ubur yang terlihat bersinar di malam hari. Paman yang baik sekali, membuat pondok dekat dengan alam, tak sedikit pemandangan hotel milik paman Brian, sangat indah.
Aku tidak tau apakah itu benar, yang pasti saat ini aku sedang sangat ingin berendam air hangat. Meski begitu kami tidak boleh boros dalam menggunakan sumber daya listrik atau kami akan berada layaknya di zaman purba yang gelap, dan tanpa fasilitas pendukung.
Setelah melihat pondok yang akan ku tinggali selama masa pengerjaan proyek Paviliun Black An, awalnya aku memang merasa sedikit aneh mengingat aku biasa tinggal di rumah yang luas dan penuh dengan fasilitas mewah.
Well, tidak masalah selagi tidak terlalu menyulitkan ku. Nyatanya Brian memang bisa diandalkan. Di kamar mandi yang tidak terlalu luas ini ia sudah menyiapkan air hangat di bak mandi. Bahkan, entah aroma terapi apa yang ia tambahkan sehingga aromanya semerbak dan menenangkan.
Tanpa membuang waktu Melin pun segera menanggalkan semua pakaian dan masuk ke dalam kubangan air yang memang sangat hangat dan nyaman ini. Sayangnya Melin lupa memesan jus untuk teman mandi ku.
__ADS_1
Kutarik nafas dalam, kemudian ku pejamkan mataku dan berusaha untuk merilekskan pikiranku. Tapi tiba-tiba, entah apa yang terjadi tapi lampu di kamar mandi mendadak padam. Seketika aku pun mulai panik karena jujur saja aku tidak takut apapun kecuali gelap.
TBC.