
Heru, kali ini berada dalam ruangan rumah sakit. Sejak pagi, setelah kantor selesai. Dua hari ini ia amat sibuk, pulang pergi ke rumah sakit.
Sementara Azam, ia masih terbang dalam pekerjaannya sebagai pilot. Hal itu membuat Heru makin tak berkutik, ketika ibu Jing ada di rumah sakit itu juga. Bahkan seseorang berpakaian hitam, yang Heru amat asing. Bukan tanpa hal, lebih baik menghindar dari pada ia ditanya sedang apa di rumah sakit tersebut.
Azam, setelah lepas landas dan selesai dalam tugasnya ia menuju ruangannya. Ia mendapat informasi dari Heru, jika ibunya ada di rumah sakit itu juga. Bukan tanpa hal, membuat feeling Azam, meminta Heru berjaga pada hasil tes dna. Bahkan Azam tidak suka, ketika ibunya menghalangi dirinya yang ingin bahagia dengan ketentuan hidup jalannya sendiri.
Jika antara ibu dan pasangan, harusnya kita hargai semua apapun dan utamakan kebahagian ibu. Tapi tidak bagi Azam, dalam situasinya ini sangat tidak adil bagi hidup Reina. Bahkan Azam sendiri terkejut bukan main, ketika Reina benar benar tidak tahu keberadaan orangtuanya, karena Reina sendiri di usir.
Langkah awal Azam mendekati Reina adalah, mempertemukan dengan kedua orangtuanya, Azam berusaha meminta maaf dan akan berjanji membahagiakan Reina, tentunya setelah akte cerainya dengan Shi keluar dalam beberapa minggu.
Sebenarnya Reina bukanlah pelako-r. Justru kehidupan rumah tangganya sudah tidak sehat satu hari setelah resepsi, Azam mendapati Shi yang kejang, di larikan di rumah sakit, dari situlah semua terbuka dan pernikahan Azam hanya casing semata bisnis.
'Tunggu aku Reina, bahkan kamu menghindar dariku seribu kali pun, aku tetap memperjuangkan kamu.' deru batin Azam, saat itu menatap ponselnya. Meski ia fokus dalam pekerjaannya, tetap saja ia selalu memikirkan Reina dan rasa bersalahnya.
Di Sisi Lain :
Reina saat ini telah memastikan dari aplikasi onlinenya, jika cake wedding lima tahun pernikahan atas nama Shi, telah terkirim dan statusnya sudah selesai diterima. Reina berharap Shi tak lagi datang dengan ancaman. Bahkan berharap Ia bukanlah Duri dalam rumah tangga oranglain, bagaimana pun Reina sudah menutup masa lalu itu.
Meski perasaannya pada Azam, tidak pernah luntur. Tapi karena Azam, dan hidupnya yang bodoh membuat Reina terusir tidak diakui kedua orangtuanya, bahkan Reina merasa tidak sanggup jika dilahirkan sebagai anak dibuang, tak di akui. Kesalahannya adalah aib, dan dosa besar yang Reina lakukan, jika Reina dilahirkan hanya untuk menjadi gadis haram pembawa aib, kenapa Tuhan memberinya umur panjang?!
"Non, ada paket. Buat non Reina." ucap bibi Ros, menyadarkan Reina saat itu.
"Dari siapa ya bi? aku ga pesan apapun deh, ga ada nama pengirimnya juga lagi." balasnya.
"Bunda .. Bunda, apa itu mainan buat kami?" ujar Kanya, melirik Bima sang kakak yang senyum terlihat tampan.
__ADS_1
Gemas rasanya Reina, melihat senyuman Bima mirip sekali Azam. Akan tetapi Reina menunduk seolah posisinya bersejajar dengan kedua anak anaknya itu.
"Bunda sih, enggak pesan mainan nak! tapi enggak ada nama pengirimannya juga, apa ada yang salah ya? kayaknya om paket anter ke rumah ini salah rumah deh ..?" telisik Reina, seolah membuat penasaran.
"Itu tidak salah kirim Reina. Saya yang kirim kejutan untuk kedua anak anak manis ini." ucap seorang wanita paruh baya, membuat Reina menoleh amat terkejut bukan main.
Reina mengerjapkan bulir mata berkedip, mewaspadai untuk wanita itu tidak terlalu dekat.
"Tante Jing..." lirih Reina, yang mulai diingatkan lagi hal pahit.
Reina menoleh pada bibi Ros! saat ini memang kue yang mereka jual sudah habis sejak pagi, maka Reina meminta bibi Ros mengajak kedua anak anaknya masuk ke dalam rumah.
"Sayang! sama bibi dulu ya, bukankah hari ini ada private pengajian online! nanti bunda nyusul ya nak!"
Setelah dirasa aman, pintu tertutup. Reina meminta tante Jing duduk di teras rumahnya. Hal itu membuat gugup, memegang bajunya.
"Tidak usah repot! aku datang kesini, sudah pasti kamu tahu alasannya. Duduklah, saya juga tidak suka basa basi."
"Tante, Reina tidak pernah datang dalam hidup Azam. Bahkan saya tidak mau, hubungan saya dan dirinya berlanjut, sama seperti yang tante Inginkan."
"Haha, ya semua itu karena kamu melamar pekerjaan di perusahaan anak saya! itu salahmu, jadi apapun mereka itu anak anak Azam, putraku. Aku tidak sudi, jika kekayaan diwarisi oleh mereka. Apalagi mendapat menantu seperti kamu. Bukankah sangat mustahil, orang kaya menikah dengan orang miskin kaya kamu, bakal nular miskin keluarganya nanti." ketusnya.
Deg.
"Terlalu tinggi, membuat seseorang lupa diri. Bahkan tante tidak pernah puas, apakah selama ini hidup ku tidak sulit? Reina lebih sulit di buang oleh kedua orangtua. Di banding kehilangan materi yang bisa dicari, tidakkah tante berfikir Karma akan kembali. Semoga saja tante tidak bernasib seperti saya." balas Reina dengan gemetar.
__ADS_1
"Jangan jadi sok ustadzah kamu. Tante langsung saja ya! ini cek, seratus juta. Pergi dari kediaman Azam saat ini. Jika kamu masih bertemu Azam, tante bisa lakukan sesuatu pada bocah itu."
Braaagh!
Meja di gebrak oleh Reina, sakin refleks.
"Cukup! Jangan berani sentuh anak anak saya! meskipun dia darah daging putra anda, tapi saya tidak akui. Tapi kedua anak anak saya, tidak akan mengakui anda adalah neneknya. Urusan anda sudah cukup menyakiti saya, jika anak saya terjadi sesuatu, saya akan lawan tante meski tante lebih tua dari saya! Kenapa tante tidak minta putra tante berhenti mengikuti saya!"
Sreeth!
Reina merobek cek pemberian Jing, meminta ibu paruh baya itu keluar dari kediamannya, dan Reina pergi dengan kesal saat itu juga.
"Dasar perempuan tidak tahu diri." ujarnya, membuat Jing murka dan meminta supir, mencari tahu cluster kediaman Reina, apakah dia menyewa atau rumah sendiri.
"Cari tahu rumah ini, jika penghuninya menyewa. Beli rumahnya dan usir mereka dengan memalukan!" ujar Jing, pada seseorang.
"Baik Nyonya."
Sementara Reina, ia menatap kedua anak anaknya. Beberapakali ia menghubungi Diva, tapi nomor tujuan hongkong disana masih tidak aktif. Reina sungguh tidak punya kendali, satu satunya orang yang ia bisa percaya adalah Diva, dari keterpurukan dirinya tidak kuat dengan ancaman orang kaya semena mena. Bahkan Reina tak ingin melibatkan bibi Ros! karena ia sendiri sudah banyak membantu tenaga, menjaga kedua anak anak dengan baik.
'Aku harus apa, apa seperti ini. Kenapa orang kaya selalu semena mena. Aku tidak pernah merusak hubungan oranglain, tapi kenapa mereka mudahnya merusak kehidupan orang lain?' isak Reina bersedih.
"Diva, andai kamu ada. Dan pertemuan ini tidak pernah lagi bertemu Azam, mungkin keadaan tidak serumit ini. Kenapa aku harus dipertemukan olehnya lagi, padahal yang pria yang baik berjasa untukku adalah orang seperti Diva." lirihnya masih memencet nomor tujuan luar negeri.
TBC.
__ADS_1