Ghost Paviliun

Ghost Paviliun
S3 Ramai Di Supermarket


__ADS_3

"Milen, saya mohon untuk beritahu. Dimana putri kita?" ujarnya, saat itu ibu paruh baya terlihat melirik ke arah sekeliling.


"Hah! sudah meninggal, kenapa? jangan lagi datang, keluarga baruku tidak segan membuat berita tidak baik, jangan lagi tanya putrimu dimana, karena dia sudah tahu jika ayah kandungnya benar benar telah meninggal, apa kamu lupa Diva kenapa kamu merubah semua identitas mu menjadi Alva, kenapa Yus yang bersamaku kini menjadi dirimu, aku tidak ingin ingat masa pahit lagi."


"Milen, aku tidak segan untuk menempuh jalur hukum, hubungan keluarga kita memang sudah hancur. Tapi sekali saja, aku menemukan putriku dan kau telantarkan, maka kamu dan suami selingkuhan mu itu akan menyesal!"


"Aku tidak selingkuh, semua karena kamu dipenjara dan merubah identitas. Aku hanya tahu kamu yang bersamaku, bagaimana bisa kalian bertukar identitas dan bertukar wajah?" sentak Milen kesal.


Pria paruh baya itu meninggalkan area supermarket, dimana mereka tak sengaja bertemu. Milen sendiri yang sedang mengambil detergen, tangannya gemetar ketika mencoba tenang. Bahkan ia juga tidak tahu, bagaimana nasib putrinya, bahkan ia benar benar tidak bisa memeluk, dan merangkulnya.


'Maafkan ibu nak! ibu hanya tidak ingin kamu tahu kebenarannya. Maaf jika ibu acuh padamu.'


Menghapus air mata, tak lama Yus segera menghampiri Milen, bersama dengan Rain, yang mengagetkan.


"Bu, Aku udah selesai. Ibu yakin cuma itu aja, Ayah udah tunggu di kasir."


"Baik, ayo kita pulang nak!"


Milen merangkul tangan Rain, dimana ia terlihat pura pura tidak kenal, di sebrang arahnya lurus, terlihat Alva dan seseorang mencoba memakai kacamata hitam, padahal ia memerhatikan gerak gerik Milen.


"Sudah kamu belinya?"


"Udah bang, ayo kita cepat pulang! setelah dari sini." senyumnya, membuat mata Milen mengalihkan senyum, tidak curiga sedikitpun pak Yus saat itu, hanya Rain yang sejak tadi memerhatikan ibunya.


Sementara Di Berbeda Lantai.


Azam, yang setelah diantar Reina ke klinik. Ia dinyatakan sehat dan baik baik saja, setelah beberapa hari istirahat di rumahnya.


"Azam, sebaiknya nanti kamu pulang. Aku tidak enak tatapan tetangga nanti, jika bukan karena bibi Dan Pak Sup yang notabane satpam di perumahan itu, bagaimanapun kamu harus pulang!"


"Bahkan aku tidak yakin pulang, sebab rumah yang mama ku tinggali itu milik pak Alva. Aku sedang minta bantuan Heru, mencari kontrakan di dekat rumahmu. Maaf ya! jika aku merepotkan kamu Ren."


"Ah, rumit sekali hidupmu Zam, lalu dimana ibumu?"


"Ibuku ..Hah. Sedang Ke Paris, aku bahkan sudah hubungi mama, tapi dia tidak mau pulang, karena dia ikut tante."


"Kamu yakin, setidaknya aku harap. Kamu hubungi mama kamu Azam."


Reina mendorong kursi roda, dimana ia jalan berdua, entah kenapa matanya tertuju pada supermarket.


Padahal Azam sendiri kebingungan, entah kenapa, Reina seolah khawatir pada ibunya. Hal itu membuat Azam, yang di dorong di kursi roda, meminta Reina tidak perlu mendorong, sejujurnya kursi roda Azam pun elektrik bisa berjalan dengan tombol, Azam pun bisa berjalan, hanya saja dengan perjalanan jarak jauh, ia tidak boleh terlalu lelah dan jalan dengan cepat.

__ADS_1


"Kamu mau ke sana?"


"Iya, aku beli sesuatu. Susu si kembar habis, kamu tunggu di mobil aja gimana?"


"Aku taruh roda aja dulu, Ren."


"Azam, dokter minta kamu enggak boleh capek. Aku gak mau, kondisi kesehatan kamu belum baik benar benar. Jadi ..."


Azam tetap tidak mendengar ucapan Reina, ia tidak mau mengantar Reina, dengan rodanya. Azam setelah menaruh kursi roda, segera mungkin ia senyum berdiri, bagai bukan orang sakit. Reina masih khawatir, sejatinya Heru bicara padanya lewat telepon, untuk menjaga Azam, karena perawatannya terhenti.


"Aku benar benar baik, jadi izinkan aku mengawal kamu Ren. Karena tadi di klinik, kamu yang mengawal aku."


Reina akhirnya mau tidak mau menuruti, berjalan pelan dan hanya mencari susu dan roti kesukaan anaknya saja, bahkan melihat Azam mengawalnya rasanya tidak mungkin jika ia berkeliling hingga ke ujung lantai.


Masuk ke dalam supermarket, Reina bahkan menaruh roti ke keranjang, dan memasukan susu dua kaleng khusus. Setelahnya Ia mengantri dan menoleh tak melihat Azam.


"Azam, kamu dimana?" suara Reina sedikit lantang.


"Aku lihat ke sini dulu ya Ren, sebentar saja. Lucu mainannya."


"Ah, aku pikir kemana. Ya udah, lima menit jangan lama ya!"


"Siap bos cantik." senyum Azam, menatap Reina genit.


Reina saat itu terkesiap, ketika barang seseorang yang ia tabrak, Reina mendongak dan meminta maaf kala itu.


"Maaf ya ..."


Gleuk, terdiam Reina membuat, matanya senang sebenarnya.


"Reina, kamu disini juga?" ujar pria remaja itu.


"Kakak Rain, kamu sama siapa disini ..?" lirih Reina.


"Rain, ayo kita pergi dari sini!" teriak seseorang.


"Bu, tapi ini ... " terpatah ucapan, ketika Alva melotot ke arah Milen.


"Rain, kamu tidak punya saudara kandung! dia bukan siapa siapa, dan dia bukan adik kamu yang biasa kamu kenal."


"Bu, tapi tadi Reina, bilang ..."

__ADS_1


"Ayo cepat sedikit!"


Reina yang setelah berdiri, entah kenapa rasa sakitnya begitu saja, ketika ibu kandungnya melewatinya begitu saja, menolak Rain untuk menyapa. Bahkan Reina tak sempat mencium tangan sang ibu, ketika ayah tirinya datang tiba tiba, seolah memberi kode jarak.


Sementara Azam, ia yang memegang dua mainan, tercengang melihat aksi Reina yang menahan tangisan. Azam terpaksa menyentuh bahu Reina, memberikan Reina sapu tangan.


"Kalau kamu mau nangis, ayo nangis lah!"


"Heum .. ayo sebaiknya kita pulang Azam."


"Aku minta maaf atas semuanya Ren, jika bukan .."


"Semua udah jadi bubur Azam, kita gak perlu bahas ini lagi. Aku yang salah, karena aku hina, karena aku begitu murahan. Aku bahkan bingung, ingin sekali mencari papa kandungku, tapi bahkan ibu, tidak pernah memberitahu makamnya. Aku hanya ingin punya keluarga utuh Zam."


"Jika aku melamar, apakah kamu mau berjuang denganku Ren!"


Deg.


Reina menaruh keranjang, beberapa saat membayar belanjaan, dan berlalu lebih dulu ke mobil. Sementara Azam pun sama mengekor, keadaan Reina saat itu.


"Ren, maaf aku salah bicara. Tapi setidaknya, kedua anak anak mempunyai orangtua sungguh yang lengkap, bahkan aku rela jika aku yang cinta sendiri, dan misah kamar sekalipun. Sampai kamu benar benar mencintai aku, asalkan Bima dan Kanya bisa merasakan kehangatan kedua orangtua sesungguhnya, mereka masih terlalu dini, dan aku pastikan akan menjadi ayah yang baik." teriaknya, membuat Reina tetap abai.


Azam tak patah arang, ia berteriak kencang, membuat Reina kaget di pertontonkan.


'Reina ... Aku .. Melamar mu ... I Love You, Reina Alvaro.'


Deg.


Sorak tepuk tangan, membuat mata Reina menoleh kebelakang, dimana Azam, setengah duduk, mengeluarkan kotak cincin.


Padahal seharian ini mereka tidak pernah ke pusat perhiasan, jadi bagaimana bisa Azam senekat ini.


"Ren, di depan orang banyak. Aku siap meski kamu menolak beribu sekalipun, asalkan kamu tahu, aku siap ditolak seribu kali pun. Aku mencintaimu .."


Huhuhu .. sorak membuat Reina syok, apalagi ketika tepuk tangan, dan teriakan kata 'Terima.' membuat Reina lupa kesedihan.


Benar benar Azam, membuat hiburan unik, dimana ia tadi ingin menangis deras, karena kedua kalinya bertemu ibunya, di acuhkan.


Namun dari jarak lima meter, terlihat pria paruh baya membuka kacamatanya, melihat keramaian di pusat perbelanjaan, yang menghalangi jalannya mengikuti Milen.


"Kau cari tahu, kenapa banyak orang padat disini, ada pertunjukan apa?" titah Alva arogan kesal.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2